Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro mengungkapkan bahwa politik luar negeri Indonesia kini memasuki babak baru yang dinilai lebih nyata dan tegas. Arah kebijakan luar negeri Indonesia saat ini tampak lebih jelas dengan berbagai langkah yang sebelumnya terasa lambat, kini bergerak lebih cepat.
Agung mengungkapkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, posisi Indonesia semakin diperhitungkan di kancah internasional. Di UN Human Rights Council, Indonesia dipercaya menjabat sebagai ketua. Selain itu, Indonesia juga resmi bergabung dalam BRICS, kelompok negara ekonomi besar yang menjadi pusat perhatian dunia saat ini.
Kehadiran Indonesia sebagai tamu kehormatan di berbagai negara besar seperti Prancis, Tiongkok, dan India menunjukkan bahwa diplomasi nasional memiliki daya tarik baru. Langkah terbaru Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan luar negeri untuk menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) serta pertemuan dengan Presiden Donald Trump dalam forum Board of Peace mencerminkan arah diplomasi yang konkret.
“Perjanjian perdagangan resiprokal yang akan ditandatangani merupakan kesepakatan yang bertujuan menciptakan hubungan perdagangan yang lebih adil. Indonesia berhasil menurunkan tarif dagang dengan Amerika Serikat. Dampaknya bisa langsung terasa. Produk Indonesia lebih mudah masuk pasar besar. Ekspor meningkat. Lapangan kerja terbuka. Ini bukan diplomasi basa-basi, melainkan diplomasi yang menyentuh dapur rakyat,” ungkap Agung Baskoro dalam keterangannya, Rabu 18 Februari 2026.
lebih jauh, Ia mengungkapkan bahwa keberhasilan serupa juga terlihat dari penandatanganan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa. Kesepakatan ini membuka peluang besar bagi industri nasional untuk naik kelas dan menarik aliran investasi yang lebih deras ke dalam negeri. Hal ini membuktikan bahwa perjalanan luar negeri kepala negara bukan sekadar kunjungan seremonial.
Di sisi lain, keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) memberikan dimensi baru bagi peran internasional tanah air. Indonesia kini memiliki ruang strategis untuk berperan dalam resolusi konflik global, termasuk isu Palestina dan Israel. Gagasan two state solution dapat didorong dengan pendekatan yang lebih kredibel melalui dialog langsung dengan pihak-pihak terkait demi perdamaian di Gaza.
“Di BoP, Indonesia memiliki ruang langsung untuk berdialog, berunding dengan Amerika Serikat dan Israel untuk perdamaian di Gaza. Ini bentuk langkah konkret,” tambahnya.
Peran sebagai juru damai memang bukan hal baru bagi Indonesia, namun di era kepemimpinan Presiden Prabowo, pendekatan yang diambil terasa lebih proaktif. Indonesia tidak lagi menunggu undangan, melainkan datang dengan tawaran solusi nyata. Gaya diplomasi ini membuat Indonesia dipandang sebagai negara yang memiliki arah jelas dan mampu membentuk arus di tengah polarisasi dunia.
Banyak negara kini memandang Indonesia sebagai mitra strategis, bukan hanya karena jumlah penduduk yang besar, tetapi juga karena kepemimpinan yang tegas dalam menjembatani kepentingan Timur dan Barat. Meskipun tantangan ekonomi global dan konflik geopolitik semakin kompleks, arah kebijakan saat ini memberikan optimisme bagi masa depan bangsa.
"Era baru politik luar negeri Indonesia yang lebih aktif, berani, dan strategis. Jika konsistensi ini dijaga, Indonesia berpotensi menjadi pemain utama di panggung dunia, bukan hanya penonton. Dan itu adalah kabar baik bagi masa depan bangsa," tandasnya.
Editor: Redaksi TVRINews





