Grid.ID- Ramadan 2026 menjadi momentum umat Islam meningkatkan kualitas ibadah selama sebulan penuh. Namun, tidak sedikit yang memilih tidur hampir sepanjang hari saat menjalankan puasa.
Alasan yang kerap muncul adalah untuk menghemat energi atau “mempercepat” waktu hingga berbuka. Kebiasaan ini sering terjadi saat libur sekolah atau ketika seseorang tidak memiliki aktivitas pekerjaan.
Lalu, bagaimana hukum tidur seharian saat puasa menurut ajaran Islam? Berikut penjelasan lengkap dari sisi fikih dan pandangan para ulama terkait praktik tersebut di Ramadan 2026.
Tidak Membatalkan Puasa
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama Republik Indonesia, Arsad Hidayat, menegaskan bahwa secara hukum fikih, tidur sepanjang hari tidak membatalkan puasa. Penjelasan tersebut sejalan dengan fatwa Dar al-Ifta al-Misriyyah atau Lembaga Fatwa Mesir.
Lembaga ini menyatakan bahwa tidur, baik sebentar maupun lama, tidak merusak keabsahan puasa seseorang. "Bahwa orang yang istirahat atau tidur, baik sebentar atau lama, tidak merusak puasa seseorang,” ujar Arsad, dikutip dari Kompas.com, Rabu (18/2/2026). Artinya, seseorang yang tidur dari pagi hingga sore saat puasa Ramadan 2026 tetap dianggap sah puasanya selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Pandangan serupa juga ditemukan dalam literatur fikih klasik. Ulama besar mazhab Syafi’i, Imam Nawawi, dalam kitab Raudhatut Thalibin, menjelaskan bahwa tidur lama di siang hari tidak membatalkan puasa. “Kalau seandainya seseorang tidur lama dalam waktu siang maka puasanya tetap sah,” jelas Arsad mengutip isi kitab tersebut.
Hal yang sama ditegaskan ulama mazhab Hanbali, Ibnu Qudamah, dalam kitab Al-Mughni. Dalam penjelasannya, tidur dari pagi hingga sore tidak memengaruhi batal atau tidaknya puasa. Dengan demikian, dari sisi hukum fikih, praktik tidur seharian saat Ramadan 2026 tidak membatalkan ibadah puasa.
Meski begitu, para ulama mengingatkan bahwa Ramadan 2026 adalah bulan ibadah yang sarat makna. Menghabiskan waktu hanya untuk tidur dinilai dapat mengurangi nilai spiritual puasa itu sendiri. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga momentum memperbanyak amal seperti salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan aktivitas produktif.
Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah dan tercantum dalam Shahih karya Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah tidak membutuhkan lapar dan haus seseorang jika ia tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan sia-sia. Hadis ini menegaskan bahwa esensi puasa di Ramadan 2026 bukan hanya formalitas menahan diri, tetapi juga peningkatan kualitas akhlak dan produktivitas.
Jadi, sebagaimana dikutip dari Tribun Timur, tidur sepanjang hari tanpa alasan yang jelas dapat mengurangi hikmah dan tujuan utama dari ibadah puasa. Umat Islam tetap dianjurkan memanfaatkan waktu Ramadan dengan kegiatan yang lebih bernilai dan produktif agar pahala puasa semakin sempurna.
Benarkah Tidurnya Orang Puasa adalah Ibadah?
Terkait anggapan bahwa tidur orang berpuasa adalah ibadah, Guru Besar Tafsir Hukum UIN Raden Mas Said Surakarta, Hasan el-Qudsy, menyatakan bahwa hadis tersebut tidak sahih. Menurutnya, mayoritas ulama menilai hadis tersebut berstatus dhaif (lemah), bahkan sebagian menghukuminya palsu. Ia menilai kandungan hadis itu bertentangan dengan semangat puasa yang mendorong produktivitas.
Hasan, yang juga anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Surakarta, menjelaskan bahwa sejarah mencatat banyak peristiwa penting terjadi di bulan Ramadhan, termasuk peperangan pada masa Rasulullah dan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, jika pun tidur orang berpuasa dianggap berpahala, itu hanya dalam konteks menghindari keburukan. Namun, nilai tersebut bersifat pasif dan bukan bentuk produktivitas yang diidealkan dalam Islam.
Arsad Hidayat juga mengingatkan bahwa konteks perlu diperhatikan. Bagi pekerja yang beraktivitas dari malam hingga pagi, tidur di siang hari saat Ramadan 2026 merupakan kebutuhan fisik yang wajar.
“Kita tidak bisa menghakimi bahwa tidur seharian itu tidak ada gunanya. Bagi mereka yang bekerja malam sampai pagi hari, tentu mereka akan beristirahat pada siang hari,” ujarnya. Namun, bagi mereka yang telah beristirahat cukup pada malam hari, waktu siang selama Ramadan 2026 sebaiknya dimanfaatkan untuk aktivitas yang lebih produktif dan bernilai ibadah.
Secara hukum Islam, tidur seharian saat puasa Ramadan 2026 tidak membatalkan ibadah dan tetap sah. Pendapat ini didukung oleh fatwa lembaga resmi serta penjelasan ulama lintas mazhab.
Meski demikian, Ramadan 2026 sejatinya adalah momentum meningkatkan kualitas diri, bukan sekadar menahan lapar dan haus. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang lebih bermakna agar pahala puasa semakin sempurna dan tujuan spiritualnya tercapai secara optimal. (*)
Artikel Asli




