VIVA – Angkatan laut Iran dan Rusia dijadwalkan menggelar latihan militer bersama di Laut Oman pada Kamis, 19 Februari 2026, menurut laporan kantor berita Fars News Agency. Agenda militer ini berlangsung hanya beberapa hari setelah putaran kedua pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat di Jenewa pada Senin.
Seorang komandan angkatan laut Iran menyatakan latihan tersebut bertujuan untuk "menangkal aktivitas yang mengancam keamanan dan keselamatan maritim". Kegiatan ini juga dilakukan setelah Iran mengadakan latihan di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS yang telah mengirimkan kapal induk kedua ke kawasan tersebut.
Sementara itu, pembicaraan AS–Iran di Jenewa disebut mencapai kesepahaman mengenai "prinsip-prinsip panduan". Pemerintah Oman, yang terlibat dalam proses tersebut, menyatakan terdapat “kemajuan yang baik”.
Namun, Wakil Presiden AS JD Vance menggambarkan hasil dialog itu sebagai beragam. Ia mengatakan, "dalam beberapa hal, berjalan dengan baik; mereka setuju untuk bertemu setelahnya," seraya menambahkan bahwa Iran masih menolak mengakui sejumlah garis merah Presiden AS Donald Trump.
Trump mendorong Iran untuk menghentikan program nuklirnya, yang oleh Teheran disebut bersifat damai. Selain isu nuklir, pemerintahan AS juga menekan Iran agar memberikan konsesi terkait dukungannya terhadap kelompok proksi di kawasan serta program rudal balistiknya.
Seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Presiden AS Donald Trump telah meningkatkan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk tekanan terhadap Teheran. Trump menyatakan siap mengerahkan "kekuatan yang sangat besar" jika negosiasi yang sedang berlangsung dengan Iran gagal mencapai kesepakatan, khususnya mengenai program nuklirnya.
Pekan lalu, Trump mengatakan bahwa kelompok serang kapal induk Angkatan Laut AS kedua akan segera dikerahkan ke Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar Iran. Ia menekankan bahwa itu akan dibutuhkan jika kesepakatan dengan Teheran tidak dapat dicapai.
Sementara Teheran tetap bersikeras bahwa mereka berhak untuk memperkaya uranium, bahkan jika itu menyebabkan perang.





