Dua minggu yang lalu, kita semua dihebohkan dengan peristiwa seorang siswa Sekolah Dasar (SD) mengakhiri hidupnya akibat tidak dapat membeli sebuah pena dan buku sekolah agar dia bisa bersekolah. Siswa tersebut memberikan sebuah catatan terakhir kepada ibunya sebelum dia mengakhiri hidupnya.
Catatan tersebut memberitahukan kepada ibunya agar tidak mengkhawatirkan dia lagi setelah peristiwa tersebut. Hal ini menjadi pukulan besar sekaligus alarm yang kuat bahwa dunia pendidikan tidak baik baik saja. Pendidikan adalah hak dari setiap individu yang seharusnya diberikan oleh pemerintah sesuai dengan amanah tujuan nasional Undang Undang Republik Indonesia.
Pendidikan yang seharusnya menjadi alat setiap manusia untuk berkembang dan mengubah nasib seseorang agar lebih baik, tetapi ironisnya sekarang pendidikan menjadi alasan seseorang putus asa, hingga mengakhiri hidupnya. Satu kata yang paling tepat yang bisa saya katakan untuk peristiwa ini adalah ironis.
Banyak tokoh masyarakat yang berbicara tentang hal ini dan menyampaikan belasungkawanya yang mendalam terhadap pihak keluarga, termasuk pemerintah. Hal yang perlu menjadi pertanyaan adalah mengapa kalian mengucapkan bela sungkawa, sedangkan ini menjadi tugas pemerintah untuk menjamin agar tidak adanya peristiwa ini. Bukan belasungkawa yang kami minta, tapi perubahan.
Seperti yang saya katakan bahwa peristiwa ini telah membunyikan alarm darurat bahwa dunia pendidikan tidak baik baik saja. Jika ditarik dengan perspektif lebih luas, peristiwa ini juga menjadi tanda bahwa kemiskinan struktural masih menjadi masalah bangsa ini dan sudah berdampak kepada berbagai sendi kehidupan seseorang, termasuk pendidikan.
Kemiskinan struktural masih permasalahan yang mendasar di Indonesia. Sesuai data yang disajikan Badan Pusat Statistik Indonesia, pada tahun 2023 tingkat kemiskinan struktural di Indonesia mencapai 25,90 juta jiwa.
Tidak heran dengan data tersebut, terjadi peristiwa seperti ini. Peristiwa di mana ada keluarga yang masih belum dapat membeli kebutuhan pendidikan yang sebatas buku dan pena. Oleh karena itu, saya yakin menyatakan bahwa masyarakat tidak butuh perubahan bukan hanya ucapan belasungkawa semata.
Peristiwa ini harus menjadi alarm tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga kepada masyarakat. Peristiwa ini harus menjadi momentum untuk pemerintah menciptakan kebijakan yang dapat mengubah kemiskinan struktural ini demi adanya perubahan yang baik di masyarakat. Di sisi lain, masyarakat termasuk saya melalui momentum ini harus lebih kritis serta aktif dalam mengawal kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait pendidikan dan penanganan kemiskinan struktural.
Melalui momentum peristiwa ini, sudah seharusnya kita berbenah agar tidak ada lagi kejadian ironis seseorang yang putus asa akan hak yang seharusnya didapatkan akibat ketidakmampuan seseorang secara ekonomi. Untuk siswa SD tersebut yang saya tidak dapat sebut namanya, terima kasih sudah mengingatkan kami bahwa masih banyak anak yang harus berjuang demi bertahan untuk pendidikan. Terima kasih telah menjadi alarm bahwa dunia pendidikan dan kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Terima kasih dan semoga tenang di sana.





