Rencana pembangunan fasilitas gas alam raksasa oleh Jepang di Ohio yang disebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpotensi menjadi yang terbesar di AS, dengan kapasitas listrik untuk memasok jutaan rumah.
Menurut lembar fakta Departemen Perdagangan AS, Jepang diperkirakan akan menginvestasikan sekitar USD 33 miliar dalam proyek tersebut, yang akan dipimpin oleh anak perusahaan SoftBank Group Corp., yakni SB Energy.
Lokasi fasilitas diproyeksikan memiliki kapasitas 9,2 gigawatt, berdasarkan pernyataan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick pada Selasa (17/2).
Mengutip Bloomberg, kapasitas tersebut setara dengan sekitar sembilan reaktor konvensional dan pada kapasitas penuh dapat menghasilkan listrik yang cukup untuk memasok sekitar 7,4 juta rumah di jaringan listrik terbesar AS yang dioperasikan oleh PJM Interconnection LLC.
"Jika terealisasi, pembangkit di Ohio ini akan lebih besar dibanding proyek gas 7,65 gigawatt yang direncanakan Pacifico Energy Group di Texas, sekaligus menjadi salah satu yang terbesar di dunia," tulis laporan Bloomberg, Rabu (18/2).
Sementara Dubai Electricity and Water Authority fasilitas Jebel Ali di Dubai sebagai pembangkit gas terbesar saat ini dengan kapasitas 9,547 gigawatt.
Pemerintahan Trump tengah berupaya mempercepat pembangunan pembangkit listrik besar guna menekan lonjakan biaya listrik, seiring meningkatnya permintaan akibat pusat data, pabrik, dan elektrifikasi ekonomi secara luas.
Namun, pembangkit listrik berbahan bakar gas memiliki tantangan tersendiri, termasuk melonjaknya harga turbin global dan semakin panjangnya waktu tunggu pembangunan.
Perusahaan Jepang seperti Toshiba Corp. dan Hitachi Ltd. juga menyatakan minat untuk berpartisipasi dalam proyek gas di AS tersebut, seperti diungkapkan Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa kepada wartawan pada Rabu (18/2). Perusahaan Jepang sendiri sudah termasuk investor asing terbesar dalam pembangkit listrik dan pengembangan gas di AS.
Pengumuman proyek itu mengejutkan operator jaringan PJM, yang mengelola jaringan dari Washington hingga Chicago.
“PJM tidak mengetahui proyek tersebut, tetapi kami antusias terhadap prospeknya karena kebutuhan pasokan baru untuk memenuhi pertumbuhan permintaan pusat data dan beban listrik besar,” ujar juru bicara Daniel Lockwood dalam email.




