Ujian Masa Depan Danantara: Apakah Bisnis Waste-to-Energy Bisa Masuk Akal?

katadata.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

Masa depan selalu diselimuti tabir misteri. Di organisasi bisnis, berbagai prediksi dibuat untuk membantu pengambil keputusan puncak menyusun perencanaan strategis. Namun masa depan bukan untuk diprediksi, karena masa depan bukanlah peristiwa lempar dadu yang kebolehjadiannya bisa dinyatakan secara obyektif. Masa depan cukup dinyatakan sebagai peristiwa yang bisa terjadi (possible) dan masuk akal terjadi (plausible). 

Demikian pula dengan masa depan Danantara yang mengemban misi (dari situs resminya) untuk memajukan perekonomian Indonesia dengan cara: mendorong pendapatan negara, membangun BUMN yang lincah, kompetitif dan menciptakan nilai keberlanjutan, serta mendorong investasi berkelanjutan dan berkualitas tinggi. Pertanyaannya apakah misi ini bisa dijalankan? Semuanya bisa terjadi, anything is possible, tinggal bagaimana menjelaskan apakah juga masuk akal untuk terjadi.

Melihat Masa Depan

Salah satu proyek investasi ambisius Danantara yang sudah diumumkan adalah Waste-to-Energy (WtE), mengolah sampah menjadi listrik di 33 kota dengan nilai investasi mencapai Rp84 triliun. Mengapa ambisus? Karena deductive reasoning yang berlaku di dunia bisnis adalah model bisnis linearlah, bukan yang sirkuler, yang sudah teruji mendatangkan profit. Di   ruang penelitian dan perdebatan akademis, bisnis sirkuler seperti WtE ini memberikan harapan, namun nyatanya di dunia nyata pelaku bisnis masih enggan masuk ke bisnis ini; tidak ada ruang bagi perusahaan untuk bisa hidup dari bisnis ini. 

Memang jika melihat manfaat terhadap lingkungan, proyek WtE patut diapresiasi tinggi mengingat sampah sudah problematik di masa lalu, begitu problematik di masa kini dan akan semakin problematik di masa mendatang jika tidak ada solusi terobosan. Namun proyek investasi Danantara lewat BUMN yang dinaunginya bukanlah proyek nirlaba yang sebatas mengatasi masalah lingkungan. Bagaimana keputusan Go oleh Danantara di proyek WtE ini dapat dijustifikasi?

Ada beberapa lensa teoretikal untuk menjelaskan ini, salah satunya corporate foresight. Dengan corporate foresight, perusahaan mencoba melihat berbagai possible dan plausible futures atau scenarios. Inilah yang disebut scenarios facing business atau berbagai masa depan yang bisa terjadi dan masuk akal terjadi untuk kemudian perusahaan menyiapkan strategi menghadapi masa depan. Apa saja masa depan yang dihadapi oleh Danantara dan BUMN terkait dari proyek WtE ini? 

Lewat pendeteksian sinyal awal akan  adanya perubahan di masa depan dari beberapa faktor misalnya STEEP (social, technology, economy, environment, dan political) akan mengarah pada beberapa faktor ketidakpastian yang akan menentukan masa depan dari bisnis WtE. Dari faktor sosial, ketidakpastian bisa berupa penerimaan publik terhadap WtE; dari faktor Teknologi, ketidakpastian bisa berupa terjadinya kecocokan teknologi insinerasi yang digunakan dengan spesifikasi sampah di Indonesia; dari faktor ekonomi, ketidakpastian bisa berupa tingkat attractiveness dari tarif listrik maupun carbon pricing dari WtE;  dari faktor environmental ada ketidakpastian berupa ketersediaan tempat pembuangan akhir (TPA) dan faktor politik yang menghadirkan ketidakpastian efektifitas pemerintah pusat sebagai orkestrator untuk menjamin penciptaan nilai lingkungan dari WtE ini terkonversi menjadi nilai ekonomis. 

Dari faktor-faktor ketidakpastian tersebut di atas selanjutnya akan ditentukan key driver yang menjadi penentu utama masa depan dari industri dan bisnis WtE. Syarat untuk menjadi key driver adalah memiliki ketidakpastian tinggi dan memberikan dampak besar terhadap masa depan bisnis. Memperhatikan faktor-faktor ketidakpastian yang diturunkan dari kerangka STEEP di atas, ada dua key driver yang menentukan masa depan bisnis WtE yaitu monetisasi eksternalitas positif dari WtE dan kesiapan ekosistem pengelolaan sampah. 

Dengan adanya eksternalitas positif atau penciptaan nilai lingkungan yang positif, Danantara akan mendapatkan revenue stream berupa tipping fee yang tinggi dari pemerintah daerah atas pengelolaan sampah oleh bisnis WtE di daerahnya. Revenue stream lainnya adalah dari penjualan listrik ke PLN. Masa depan bisnis WtE terjadi jika harga jual listrik ke PLN lebih tinggi dari biaya pembangkitannya yang dikunci dalam power purchase agreement jangka panjang. Masa depan bisnis WtE juga akan ditentukan dari carbon pricing yang memberikan tambahan revenue stream. Skema harga karbon bisa terjadi karena ada penciptaan nilai lingkungan (externality) yang positif dari WtE yang dimonetisasi. 

Masa depan bisnis WtE juga ditentukan oleh kesiapan ekosistem pengelolaan sampah. Jika monetisasi eksternalitas positif dari WtE memperlihatkan jalan mendatangkan revenue bagi Danantara, kesiapan ekosistem pengelolaan sampah akan menentukan adanya feasible region yang membuat bisnis ini bisa dijalankan secara kompetitif. Kompetitif di sini diartikan bisnis dapat dijalankan dengan efisien dengan tetap memenuhi tuntutan kualitas produk dan layanan. Bisnis WtE menghadapi ketidakpastian tinggi di sisi suplai, seperti ketersediaan pasokan sampah sesuai spesifikasi untuk jangka panjang. 

Perlu dicatat bahwa corporate foresight yang menyiapkan perusahaan menjadi siap menghadapi berbagai skenario di masa depan (lebih dari 10 tahun ke depan), berbeda dengan manajemen risiko untuk mengatasi dan memitigasi peristiwa risiko yang sudah diketahui akan terjadi di jangka pendek (kurang dari 5 tahun). Adanya gangguan pasokan sampah dalam volume dan komposisi sampah yang tidak sesuai kebutuhan dalam jangka pendek dapat diatasi dengan manajemen risiko; tapi gangguan tsb bisa menjadi early signal yang berubah menjadi ketidakpastian jangka panjang yang menentukan masa depan bisnis WtE. Di sinilah domainnya corporate foresight.  

Dengan menggunakan dua key driver di atas, pemetaan empat skenario masa depan bagi Danantara dengan proyek investasi WtE menjadi: Pertama, Sovereign green, inilah skenario masa depan terbaik bagi investasi WtE; monetisasi penciptaan nilai terhadap lingkungan terjadi tanpa rintangan berarti dan bisnis dapat dijalankan secara efisien berkat dukungan kesiapan ekosistem pengelolaan sampah; Kedua, Lost eco-warrior, ini ditandai dengan ketidaksiapan ekosistem dalam mensuplai sampah dan menyediakan teknologi maju untuk efisiensi operasi bisnis; Ketiga, Regulatory graveyard, ini ditandai dengan kesulitan monetisasi penciptaan nilai lingkungan yang dikarenakan regulasi tipping fee, harga jual listrik dan carbon pricing yang carut marut;  Keempat, Junkyard of incinerators, inilah skenario masa depan yang paling dihindari, investasi besar menjadi sia-sia karena gagal menyiapkan regulasi yang mendukung monetisasi nilai hijau dan gagal membangun ekosistem pengelolaan sampah. 

Kesiapan, Kemampuan, dan Integritas Perusahaan

Berbagai skenario masa depan tidak ubahnya seperti medan tempur yang dihadapi setiap pelaku bisnis. Untuk bisnis WtE ini, Danantara akan menghadapi empat skenario masa depan di atas yang selanjutnya menawarkan skenario bisnis (mulai dari pesimistis hingga optimistis) untuk Danantara. Skenario Sovereign green tentunya menjadi skenario masa depan idaman untuk bisnis WtE. Meski idaman, tapi nasib investasi Danantara bisa berakhir dengan skenario bisnis yang pesimistis, yang paling tidak menguntungkan jika terjadi kesalahan dalam pengelolaan bisnisnya. 

Sementara skenario Junkyard of incinerators akan menjadi mimpi buruk Danantara karena sudah hampir tertutupnya pintu kesempatan bagi Danantara untuk menjumpai skenario bisnis yang menguntungkan. Adapun skenario masa depan Lost eco-warrior dan Regulatory graveyard merupakan skenario masa depan di antara kedua skenario ekstrim Sovereign green dan Junkyard of incinerators

Sebagai sovereign wealth fund, Danantara berharap perjalanan panjang investasi di bisnis WtE berada dalam skenario masa depan Sovereign green. Di sinilah terjadinya pertemuan nilai-nilai positif lingkungan dan nilai ekonomis dari bisnis WtE yang memberikan kesempatan bagi Danantara untuk menemukan keberuntungan terbaiknya. Tapi keberuntungan dalam bisnis tidak datang dengan sendirinya. Danantara perlu mengukur dan menyiapkan kesiapan perusahaan menghadapi masa depan (firm’s future readiness) untuk bermain di medan tempur idaman Sovereign green. Mengingat perjalanan panjang penuh perubahan dinamis dari investasi di proyek infrastruktur ini, komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan kemampuan dinamis perusahaan menjadi mandatori untuk mendapatkan solusi bertahan hidup (viable solution). 

Dan akhirnya, kesiapan perusahaan akan masa depan, kemampuan dinamis dan strategi sebagus apapun untuk membawa perusahan pada pencapaian yang diinginkan akan kandas tanpa integritas sistem bisnis atau organisasi. Integritas bukan bicara tentang menjadi “orang baik”, tapi tentang kepastian organisasi berfungsi dengan baik, memenuhi segala janji strategis kepada segenap shareholder dan stakeholder-nya. Masa depan proyek WtE akan menjadi pertaruhan besar Danantara. Berita baiknya adalah skenario masa depan Sovereign green adalah peristiwa yang bisa dan masuk akal terjadi. Mampukah Danantara menjadikan bisnis WtE ini terus bertahan dan berlanjut di masa mendatang? Mampu, integritas adalah kuncinya seperti pemikiran Michael Jensen, profesor emeritus di Harvard Business School tentang integritas di perusahaan: Integrity, without it nothing works!


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kado Ultah dari Gading Marten Bikin Raffi Ahmad Mengenang Masa Susah
• 8 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Sebanyak 1.500 relawan China terlibat di Olimpiade Musim Dingin 2026
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Atletico Madrid Gagal Unggul, Club Brugge Imbangi Skor Kedua Tim di 3-3
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Jadi Saksi Sidang CLS Kasus Ijazah, Roy Suryo Tak Mau Jawab Saat Ditanya Pengacara Jokowi
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Menjaga Kebutuhan Serat Terpenuhi Lewat Buah dan Sayur, untuk Kelancaran Pencernaan
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.