Pejabat Federal Reserve (The Fed) tampak lebih berhati-hati terhadap pemangkasan suku bunga saat rapat bulan lalu. Bahkan, beberapa di antaranya menyebut bank sentral AS mungkin perlu menaikkan suku bunga jika inflasi tetap membandel.
Notulen rapat kebijakan 27-28 Januari 2026 yang dirilis Rabu (18/2) waktu AS memang tidak menunjukkan mayoritas pejabat mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Namun dokumen itu menegaskan bahwa The Fed semakin jauh dari kesepakatan untuk kembali memangkas suku bunga.
Situasi ini berpotensi memicu benturan dengan Presiden Donald Trump sekaligus menyulitkan langkah kandidat ketua The Fed pilihannya, Kevin Warsh. Dua hari setelah rapat tersebut, tepatnya 30 Januari 2026, Trump mengumumkan pencalonan Warsh, mantan gubernur The Fed, untuk menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei tahun ini.
“Notulen ini bernuansa lebih hawkish. Ini menciptakan dinamika menarik jika dan ketika Kevin Warsh dikonfirmasi sebagai ketua The Fed," kata kepala ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco, dikutip dari Reuters, Kamis (19/2).
Di sisi lain, Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menilai data harga terbaru yang positif membuktikan inflasi kini 'dingin dan stabil' berkat kebijakan sisi penawaran pemerintah Trump.
“Sudah saatnya Federal Reserve mengakui realitas yang sangat jelas ini dan memangkas suku bunga demi memberikan keringanan bagi pembeli rumah dan pelaku usaha di AS,” ujarnya.
Risiko Inflasi Masih Jadi SorotanMayoritas anggota Federal Open Market Committee (FOMC) menilai pelemahan pasar tenaga kerja tahun lalu, yang mendorong pemangkasan suku bunga tiga kali pada akhir 2025, mulai mereda pada akhir Januari.
“Sebagian besar peserta menilai risiko penurunan pada lapangan kerja telah berkurang, sementara risiko inflasi yang lebih persisten masih ada,” bunyi notulen.
Pandangan itu muncul sebelum rilis laporan ketenagakerjaan Januari yang kuat. Bahkan, sekelompok pembuat kebijakan lain menunjukkan sikap lebih keras terhadap pemangkasan.
“Beberapa peserta mengingatkan bahwa pelonggaran kebijakan di tengah inflasi yang masih tinggi bisa disalahartikan sebagai berkurangnya komitmen terhadap target inflasi 2 persen,” demikian isi catatan rapat.
Meski begitu, kelompok pejabat lainnya tetap membuka peluang pemangkasan suku bunga jika inflasi turun sesuai ekspektasi, walau sebagian besar mengakui proses penurunannya bisa lebih lambat dari perkiraan.
Pada rapat Januari, FOMC memutuskan dengan suara 10-2 untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5-3,75 persen. Gubernur Christopher Waller dan Stephen Miran menjadi pihak yang berbeda pendapat karena mendukung pemangkasan 25 basis poin.
Data Ekonomi MenguatSejumlah data setelah rapat Januari menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, inflasi yang melandai, dan pasar tenaga kerja yang stabil. Indeks harga konsumen Januari naik tipis karena turunnya biaya energi, sementara inflasi inti bergerak sesuai perkiraan.
Di sisi tenaga kerja, payroll Januari mencatat kenaikan terbesar dalam lebih dari setahun. Sebanyak 130.000 pekerjaan baru tercipta dan tingkat pengangguran turun ke 4,3 persen, menandakan pasar kerja tetap solid di awal 2026.
Beberapa pejabat The Fed pun menilai stabilitas ekonomi memberi ruang bagi bank sentral untuk bersabar dalam menentukan langkah suku bunga selanjutnya. Namun Trump dan pejabat pemerintahannya terus mendesak agar suku bunga segera dipangkas.
Ekspektasi pasar juga mulai bergeser. Pelaku pasar mengurangi taruhan pemangkasan dalam waktu dekat, meski kontrak futures Fed funds masih mengindikasikan peluang pemangkasan pada Juni.
Dalam rapat yang sama, komite juga secara bulat kembali memilih Jerome Powell sebagai ketua FOMC serta mengisi sejumlah posisi lain hingga pemilihan penerus pada rapat reguler pertama tahun 2027.





/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2026%2F02%2F18%2Ff036abe7-3f8f-4336-8c18-b0e8c6c96e0f.jpg)