Harga bitcoin kembali melemah pada perdagangan pagi hari di Kamis (19/2). Aset kripto terbesar di dunia itu sempat turun hingga menembus level US$66.000.
Penurunan harga bitcoin kali ini dipicu oleh menguatnya dolar dan nada kebijakan moneter yang lebih hawkish dari Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Strategy (MSTR) Kembali Borong Bitcoin (BTC), Jumlahnya Segini
Risalah Rapat Januari Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan bahwa meski mayoritas pejabat bank sentral sepakat menahan pemangkasan suku bunga, sejumlah anggota membuka kemungkinan pengetatan kembali jika inflasi terbukti masih sulit diturunkan.
Risalah The Fed tersebut menyinggung perlunya panduan kebijakan yang bersifat dua arah, di mana bank sentral tidak hanya mempertimbangkan pemangkasan suku bunga, tetapi juga opsi kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi berlanjut.
Sentimen tersebut mendorong penguatan dolar. Indeks Dolar (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, naik ke level tertinggi dalam hampir dua pekan. Penguatan dolar umumnya menekan aset berisiko, termasuk saham dan kripto.
Adapun pasar juga mesti bersiap dengan kemungkinan penurunan lebih dalam jika harga bitcoin gagal bertahan di US$66.000. Zona tersebut sempat berfungsi sebagai support pada pekan lalu dan memicu rebound harga hingga menembus US$70.000.
Baca Juga: ETF Bitcoin (BTC) BlackRock Diborong Raksasa Investor Abu Dhabi
Namun, jika harga bitcoin gagal bertahan pada level saat ini, ada kemungkinan besar bahwa aset kripto raksasa tersebut akan mengalami penurunan lebih dalam, bahkan menenbus level US$60.000.





