Penulis: Fityan
TVRINews-Tel Aviv
Israel menyiagakan komando pertahanan sipil di tengah laporan potensi serangan militer Amerika Serikat terhadap Teheran.
Perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah menginstruksikan layanan darurat dan Komando Front Dalam Negeri untuk bersiap menghadapi skenario perang.
Langkah ini diambil seiring meningkatnya asumsi di kalangan pejabat Israel bahwa serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Berdasarkan laporan harian Yedioth Ahronoth pada Rabu malam, Netanyahu memerintahkan badan penyelamat dan militer yang bertanggung jawab atas perlindungan sipil untuk mematangkan persiapan konflik.
Status siaga maksimum telah dideklarasikan di seluruh badan keamanan Israel saat Washington mulai menimbang opsi militer terhadap Teheran.
Eskalasi di Tengah Kebuntuan Diplomasi
Operasi penerbangan di dek jet tempur kapal induk kelas Nimitz, USS Abraham Lincoln (CVN 72), di Laut Arab (Foto: AFP/ Hannah Tross/US Navy)
Persiapan ini menandai eskalasi signifikan dalam posisi Israel di tengah krisis program nuklir Iran yang terus mendalam. Momentum ini terjadi hanya beberapa jam setelah putaran kedua pembicaraan nuklir AS-Iran di Jenewa berakhir tanpa terobosan.
Mengutip laporan CNN dari dua pejabat tinggi Israel, perencanaan tersebut tidak hanya mencakup konfrontasi langsung, tetapi juga potensi perang regional yang lebih luas melibatkan proksi Iran.
"Indikasi serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran dalam beberapa hari ke depan semakin menguat," ujar sumber tersebut.
Seorang sumber militer mengatakan kepada CNN Internasional bahwa jika Presiden Donald Trump menyetujui serangan tersebut, cakupannya diprediksi akan melampaui konflik 12 hari pada Juni 2025 (Operasi Midnight Hammer).
Serangan kali ini ditargetkan menyasar rudal balistik Iran dan elemen-elemen pemerintahan di Teheran.
Ancaman Regional dan Penumpukan Militer
Intelijen Israel memprediksi keterlibatan jaringan sekutu regional Iran dalam konflik ini. Kelompok Houthi di Yaman diperkirakan akan meluncurkan rudal dan pesawat tak berawak ke wilayah Israel.
Selain itu, terdapat kekhawatiran besar mengenai intervensi Hizbullah di Lebanon, yang diprediksi akan mengambil peran lebih aktif dibanding konflik sebelumnya.
Di sisi lain, pergerakan militer AS di Timur Tengah tercatat sebagai yang terbesar sejak Operasi Midnight Hammer.
Kapal induk USS Gerald R. Ford telah dikerahkan untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln di Laut Arab Utara.
Justin Kramp, CEO firma intelijen risiko Sibylin, mengungkapkan kepada BBC bahwa konfigurasi kekuatan AS saat ini memungkinkan hingga 800 serangan udara per hari.
"Persiapan AS kali ini lebih mendalam dan berkelanjutan dibandingkan serangan pada Juni lalu," ujar Kramp.
Diplomasi yang Rapuh
Meski persiapan militer terus dipacu, upaya diplomatik melalui mediasi Oman di Jenewa tetap berjalan, walaupun menemui jalan buntu.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan adanya kesepahaman umum namun memperingatkan bahwa kesepakatan tidak akan tercapai dalam waktu dekat.
Wakil Presiden AS, JD Vance, bersikap lebih skeptis dengan menyatakan bahwa Iran belum siap mengakui batasan keras (red lines) yang ditetapkan oleh Donald Trump.
Trump sendiri telah memperingatkan bahwa serangan berikutnya akan jauh lebih merusak jika Iran menolak kesepakatan.
Menanggapi ancaman tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa upaya AS untuk menggulingkan pemerintahannya akan gagal dan mengklaim Iran memiliki senjata yang mampu menenggelamkan kapal perang AS.
Editor: Redaktur TVRINews




