Ekspor Jepang melesat pada Januari, sementara kepercayaan produsen ikut membaik pada Februari. Data ini memberi angin segar bagi Jepang di tengah tekanan global dan domestik yang masih membayangi perekonomian.
Mengutip Reuters, Kamis (19/2), kinerja ekspor yang solid dinilai bisa menjadi penopang ekonomi Jepang yang sempat tersendat. Permintaan kuat dari Asia, terutama menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, menjadi salah satu pendorong utama lonjakan tersebut.
Di sisi lain, para analis menilai kebijakan fiskal pemerintah dapat menjadi katalis tambahan. Pemotongan pajak dan rencana belanja yang digagas Perdana Menteri Sanae Takaichi disebut berpotensi memberi dorongan baru bagi pertumbuhan. Namun, langkah itu juga berisiko memicu kembali aksi jual yen dan obligasi seperti yang terjadi bulan lalu dan sempat mengguncang kepercayaan investor.
Janji fiskal tersebut turut memunculkan ketegangan kebijakan dengan Bank of Japan yang berkomitmen menormalisasi kebijakan moneter setelah bertahun-tahun mempertahankan suku bunga mendekati nol. Perbedaan arah antara kebijakan fiskal dan moneter ini menjadi perhatian pasar.
Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) menilai ekonomi Jepang cukup tangguh menghadapi guncangan global. Lembaga itu menyebut ekonomi Jepang telah menunjukkan "ketahanan yang mengesankan" terhadap tekanan eksternal. Meski begitu, IMF mengingatkan risiko masih condong ke arah penurunan, terutama akibat meningkatnya gesekan perdagangan dan hubungan yang tegang dengan China.
"Pemburukan kondisi keuangan secara tiba-tiba dapat melemahkan kepercayaan dan permintaan domestik. Di dalam negeri, risiko utama tetaplah konsumsi yang lemah jika pertumbuhan upah riil gagal menjadi positif," kata IMF dalam rekomendasi kebijakannya untuk Jepang.
Secara rinci, total ekspor Jepang pada Januari melonjak 16,8 persen secara tahunan. Ini menjadi kenaikan terbesar dalam lebih dari tiga tahun terakhir, didorong pengiriman yang kuat ke China seiring peningkatan permintaan menjelang Tahun Baru Imlek pada pertengahan Februari.
Survei Reuters juga menunjukkan kepercayaan produsen meningkat untuk pertama kalinya dalam tiga bulan pada Februari. Kenaikan ini ditopang oleh pesanan mesin yang lebih kuat serta pelemahan yen yang menguntungkan eksportir.
Namun, capaian tersebut hadir setelah data sebelumnya menunjukkan ekonomi Jepang hanya tumbuh lemah pada kuartal IV, jauh di bawah ekspektasi pasar. Lemahnya ekspor dan belanja modal menjadi faktor utama yang menekan pertumbuhan saat itu.
Sejumlah analis menilai lonjakan ekspor Januari sebagian dipengaruhi faktor musiman. Tahun Baru Imlek China jatuh pada Januari tahun lalu, tetapi bergeser ke Februari tahun ini, sehingga menciptakan distorsi perbandingan tahunan.
"Jika melihat data selama beberapa bulan terakhir, perdagangan barang nominal Jepang mendekati keseimbangan," kata Stefan Angrick, kepala Ekonomi Jepang dan Pasar Negara Berkembang di Moody's Analytics.
"Namun prospeknya penuh dengan risiko. Bea masuk impor AS yang lebih tinggi dan persaingan asing sudah membebani produksi industri dan volume ekspor. Ancaman perdagangan dari China merupakan kekhawatiran tambahan,” imbuh Angrick.
Ekspor Jepang sendiri sempat terpukul oleh tarif AS yang menekan pengiriman pada kuartal Juli-September. Meski sudah ada kesepakatan dagang pada September yang menetapkan tarif dasar 15 persen untuk hampir semua barang, momentum pemulihan dinilai masih rapuh di tengah ketidakpastian global.




