Ketika Tikus Kantor Jadi Teladan Buruk: Generasi Muda Harus Belajar Apa?

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Istilah “tikus kantor” selama ini digunakan untuk menggambarkan mereka yang menyalahgunakan jabatan, fasilitas, hingga celah administratif untuk meraih keuntungan pribadi. Namun, masalahnya tidak berhenti di situ.

Ketika praktik kecurangan kecil di tempat kerja mulai dianggap wajar, kita sedang menghadapi persoalan etika yang jauh lebih serius. Budaya permisif semacam itu menciptakan lingkungan yang korosif—di mana integritas tidak lagi dihargai dan generasi muda dipaksa menyaksikan contoh buruk yang dapat mereka tiru, sadar atau tidak.

Dunia kerja yang seharusnya menjadi arena profesionalisme justru berubah menjadi ruang yang membentuk normalisasi manipulasi. Di titik ini, muncul pertanyaan penting: Apa yang harus dipelajari generasi muda dari praktik-praktik menyimpang tersebut?

Normalisasi Kecurangan Kecil dan Efek Domino terhadap Etika Generasi Muda

Dalam banyak kasus, tindakan tikus kantor bukan dimulai dari korupsi besar. Ia muncul dari hal-hal kecil yang dianggap sepele: memodifikasi laporan keuangan, menggunakan aset kantor untuk kepentingan pribadi, “mengatur” anggaran, atau memanfaatkan relasi jabatan demi keuntungan tertentu.

Tindakan ini kecil, tapi membentuk pola besar. Generasi muda yang baru memasuki dunia kerja sering kali menjadi saksi pertama dari praktik-praktik tersebut.

Salah satu contoh yang mencuat tahun lalu menggambarkan kondisi ini dengan sangat jelas. Dalam kasus penyalahgunaan dana kegiatan di sebuah kantor dinas daerah, Inspektur Pembantu Wilayah II, Andi Prasetyo, mengungkapkan dalam pemeriksaan bahwa praktik itu telah berlangsung lama.

Dalam laporannya yang dikutip media nasional, ia menyatakan, “Beberapa staf senior menganggap pemotongan dana operasional sebagai hal wajar. Mereka menyebutnya ‘bagian dari kebiasaan kantor’, dan tidak ada yang berani menegur karena sudah terjadi bertahun-tahun,” ujarnya.

Kutipan ini memperlihatkan bagaimana penyimpangan justru dilegitimasi sebagai tradisi internal. Normalisasi seperti inilah yang berbahaya bagi generasi muda.

Ketika mereka melihat praktik curang dibiarkan—bahkan dilakukan oleh pegawai senior—mereka dapat menganggap bahwa integritas hanyalah teori yang tidak berlaku di dunia nyata.

Efeknya domino: kecurangan kecil tumbuh menjadi budaya kerja yang membentuk pola pikir destruktif. Generasi muda belajar bahwa kecerdikan lebih dihargai daripada kejujuran dan manipulasi dianggap bagian dari “survival skill”.

Jika hal ini terus dibiarkan, kita tidak hanya menghadapi masalah etika, tetapi juga mereproduksi perilaku menyimpang pada lintas generasi.

Menjaga Integritas di Lingkungan Kerja yang Tidak Mendukung

Idealnya, dunia kerja menjadi ruang pembentukan karakter profesional. Namun kenyataannya, banyak anak muda yang memasuki lingkungan di mana penyimpangan justru lebih menonjol daripada keteladanan.

Mereka menghadapi tekanan moral: diminta mengubah angka laporan, memanipulasi data pengeluaran, atau diam terhadap pelanggaran yang dilakukan senior demi menjaga harmoni internal.

Kondisi ini membuat integritas terasa seperti beban. Ketika anak muda mencoba menjaga etika, mereka malah dianggap tidak fleksibel, tidak memahami ritme kerja senior, bahkan dicap sebagai ancaman bagi kenyamanan kantor. Situasi seperti ini bukan sekadar dilema, melainkan juga ujian moral yang memengaruhi masa depan profesional mereka.

Namun, tekanan ini justru menunjukkan betapa pentingnya peran generasi muda dalam memperbaiki struktur etika yang sudah lama retak. Mereka memiliki posisi strategis: sebagai pewaris dunia kerja sekaligus agen perubahan. Justru karena lingkungan tidak ideal, keberanian mereka menjaga nilai menjadi lebih penting.

Fenomena tikus kantor tidak bisa lagi dipandang sebagai “penyakit kecil” di dunia kerja. Ini adalah gejala dari kegagalan yang lebih besar: kegagalan dalam menegakkan etika, kegagalan dalam mengawasi proses kerja, dan kegagalan dalam memastikan bahwa pegawai dipimpin oleh nilai, bukan oleh celah.

Ketika kecurangan kecil dibiarkan tumbuh, organisasi sesungguhnya sedang membiarkan dirinya dihancurkan dari dalam. Dan di titik ini, generasi muda menjadi saksi sekaligus korban dari budaya kerja yang cacat tersebut.

Sebagai generasi yang akan mengisi posisi strategis di masa depan, anak muda seharusnya tidak mewarisi pola kerja yang rapuh. Mereka tidak boleh dibiarkan belajar bahwa kelicikan lebih efektif daripada integritas.

Jika dibiarkan, ruang kerja yang kita bangun hari ini hanya akan menghasilkan siklus penyimpangan yang lebih rumit dan lebih sulit diputus di masa depan. Oleh karena itu, perlu ada sikap tegas: budaya permisif terhadap kecurangan sekecil apa pun harus dihentikan, bukan dinegosiasikan.

Solusi untuk memperbaiki kondisi ini tidak bisa setengah-setengah. Pertama, organisasi perlu menerapkan sistem pengawasan yang benar-benar bekerja, bukan sekadar formalitas. Audit harus dilakukan secara rutin dan terbuka, dengan pelibatan pihak independen agar tidak ada konflik kepentingan.

Kedua, standar etika harus diwujudkan dalam bentuk aturan yang jelas, prosedur pelaporan internal, serta perlindungan bagi pelapor yang berani menolak dan melaporkan penyimpangan.

Ketiga, pelatihan integritas tidak boleh hanya berupa seminar tahunan tetapi juga program berkelanjutan yang menghubungkan etika dengan konsekuensi nyata di lapangan.

Sementara itu, generasi muda perlu memperkuat dirinya sendiri. Mereka harus memiliki daya tahan moral: berani mengatakan tidak, berani mempertanyakan yang keliru, dan berani mengambil posisi meski tidak populer. Integritas bukan soal idealisme kosong, melainkan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas karier mereka.

Satu hal menjadi jelas: dunia kerja tidak akan berubah jika kita terus membiarkan kecurangan kecil berjalan tanpa perlawanan. Generasi muda memiliki kesempatan untuk memperbaiki situasi ini tidak dengan meniru, tetapi dengan menolak menjadi bagian dari budaya yang merusak.

Dunia kerja yang beretika tidak tercipta dari slogan, tetapi dari keberanian banyak orang untuk menghentikan teladan buruk yang telah terlalu lama dibiarkan hidup.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ramadan di Masjid Istiqlal: Bukber Ribuan Jemaah hingga Program Ulama Perempuan
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Kasatgas Tito Apresiasi Dukungan Satgas DPR RI dalam Percepatan Penanganan Pascabencana Sumatera
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Mau Jadi Investor Cerdas? Ini 5 Buku Wajib Baca Versi Warren Buffett
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
60 Spanduk “Semarak Ramadan” Kepung Pattallassang Takalar, Daeng Manye: Sambut dengan Hati Bersih!
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Ribuan Huntara di Sumatera Selesai, Danantara Akan Bangun Huntap
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.