JAKARTA, KOMPAS.com – Fenomena overwork atau kerja berlebihan kembali menjadi sorotan di Jakarta.
Jam kerja yang panjang dan melewati batas normal bukan hanya menggerus fisik, tetapi juga membawa dampak serius bagi kesehatan mental pekerja, mulai dari stres kronis hingga risiko depresi.
Pakar psikologi menekankan, fenomena ini tidak hanya berdampak personal, tetapi juga berimplikasi pada produktivitas dan stabilitas ekonomi perusahaan.
Menurut para ahli, praktik jam kerja panjang yang melewati batas normal menimbulkan tekanan fisik dan psikologis yang signifikan.
Psikolog klinis sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, menekankan konsekuensi overwork bisa berujung pada depresi, gangguan kecemasan, hingga penurunan produktivitas secara drastis.
Baca juga: Ketika Pekerja Jakarta Terjebak Overwork, Keseimbangan Hidup Terseret Deadline
“Fenomena overwork sebetulnya bukan hal baru. Ini hal yang sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Hanya saja saat ini menjadi sebuah masalah yang semakin dipersoalkan,” ujar Ratih saat dihubungi Kompas.com, Rabu (18/2/2026).
Ratih menambahkan, meski kesadaran pekerja akan pentingnya work-life balance meningkat, realitas industri di kota besar justru bergerak ke arah sebaliknya.
Batas antara ruang kerja dan kehidupan pribadi semakin kabur, berkembang menjadi konsep work-life integration, sehingga aktivitas profesional, sosial, dan privat sulit dipisahkan.
“Pekerja di masa kini semakin aware dan menuntut hak atas keseimbangan hidup untuk bisa dipenuhi. Sementara pada realitanya, kehidupan industri, bisnis, kerja secara khusus di kota besar seperti Jakarta semakin blurry batasannya,” jelas Ratih.
“Bahkan istilah yang ada berubah menjadi work-life integration,” lanjutnya.
Kondisi ini berdampak nyata terhadap kesehatan mental pekerja. Tekanan kerja yang tinggi dan berlangsung terus-menerus memicu stres berkepanjangan, kelelahan psikologis, hingga burnout.
Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi rasa tidak berdaya, putus asa, depresi, kecemasan, kesepian, hingga gangguan jiwa serius.
“Tingkat stres yang semakin meningkat dan intens, kelelahan psikologis yang berkepanjangan, burnout, rasa tidak berdaya, yang bisa menjadi potensi kepada rasa putus asa, depresi, dan masuk ke dalam berbagai isu mental health yang serius,” tutur dia.
Baca juga: Fenomena Overwork, Jam Kerja Panjang hingga Burnout Mengancam Pekerja Jakarta
Implikasi ekonomi dari overworkRatih menegaskan, masalah kesehatan mental pekerja tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada produktivitas dan stabilitas ekonomi perusahaan.
Fenomena absensi karena alasan kesehatan, termasuk kesehatan mental, serta presensi tidak produktif ketika karyawan hadir tetapi tidak mampu bekerja optimal, merupakan konsekuensi nyata.
“Dalam situasi tertentu, penurunan kinerja bahkan dapat berujung pada pemutusan hubungan kerja karena target tidak tercapai,” kata Ratih.
“Dengan kata lain, overwork bukan sekadar isu kesejahteraan personal, melainkan memiliki implikasi ekonomi nyata bagi dunia usaha. Ketika kelelahan mental meluas, performa kerja menurun dan risiko kerugian perusahaan ikut meningkat,” tambahnya.
Ratih memaparkan tanda-tanda umum burnout pada pekerja. Dari sisi emosional dan mental, individu biasanya merasa lelah meski sudah beristirahat, kehilangan motivasi dan makna terhadap pekerjaan, mudah sinis atau iritabel, merasa tidak kompeten, serta mengalami kesulitan konsentrasi dan sering lupa.





