Inflasi Pangan Ramadan 2026 Berisiko Naik, Ayam hingga Cabai Rawan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Tekanan inflasi pangan diperkirakan lebih tinggi pada 2026, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran. Sejumlah ekonom menilai kombinasi kenaikan harga energi, lonjakan permintaan musiman, hingga serapan bahan pokok untuk program pemerintah berpotensi mendorong harga kebutuhan pokok lebih cepat dibandingkan tahun lalu.

Ekonom Celios Nailul Huda menilai, inflasi tahun ini tidak lagi mendapat efek penahan seperti diskon listrik pada periode sebelumnya. Selain ditopang harga energi, kelompok volatile food juga berisiko naik karena faktor pasokan dan distribusi.

Menurut dia, komoditas seperti daging ayam dan telur ayam perlu diwaspadai, terutama karena stok pangan berpotensi “berebut” dengan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di awal tahun, program pemerintah biasanya belum sepenuhnya siap, sementara impor membutuhkan waktu. Kondisi itu berisiko memicu kekurangan stok saat Ramadan dan Lebaran. Cabai juga rawan naik ketika cuaca tidak mendukung.

“Bagaimanapun juga, kebutuhan MBG akan barang pokok berpotensi meningkatkan harga bahan pokok. meskipun ketika stok sudah disiapkan harusnya tidak terjadi masalah. Namun demikian, berkaca pada kenaikan inflasi volatile food di akhir tahun yang berkaitan dengan MBG, pemerintah harusnya sudah bersiap dengan lebih baik,” ujar Nailul kepada kumparan, Kamis (19/2).

Ia menekankan manajemen stok menjadi kunci. Neraca komoditas seharusnya sudah memperhitungkan tambahan kebutuhan dari program pemerintah agar tidak menimbulkan tekanan berlebih di pasar.

Senada, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Randy Manilet melihat tekanan inflasi pangan sudah terbentuk sejak awal tahun. Inflasi tahunan pada Januari 2026 tercatat 3,55 persen, sehingga ruang kenaikan harga semakin terbuka ketika permintaan musiman meningkat.

“Inflasi tahunan pada Januari 2026 sudah mencapai 3,55 persen, yang artinya fondasi kenaikan harga sudah terbentuk bahkan sebelum permintaan musiman Ramadan benar-benar memuncak. Dengan titik awal yang sudah relatif tinggi, setiap peningkatan permintaan, sekecil apa pun, akan lebih mudah mendorong harga naik dibandingkan situasi tahun lalu yang inflasinya masih lebih rendah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Ramadan yang jatuh pada pertengahan Februari hingga Maret membuat periode lonjakan konsumsi berlangsung lebih panjang. Aktivitas belanja sudah meningkat sejak libur panjang sebelumnya, sehingga pasar tidak berada dalam kondisi normal saat memasuki Ramadan.

Secara komoditas, risiko kenaikan terbesar ada pada pangan segar seperti daging sapi dan kerbau, ayam, telur, cabai, serta bawang merah. Pasokan daging relatif tidak fleksibel untuk menyesuaikan lonjakan permintaan.

Ayam dan telur menghadapi tekanan ganda dari konsumsi rumah tangga dan kebutuhan program pemerintah. Sementara cabai dan bawang sangat sensitif terhadap cuaca dan distribusi, sehingga harga di pasar lokal bisa melonjak meski stok nasional terlihat cukup.

Tekanan ini diperkirakan paling dirasakan kelompok berpendapatan rendah, karena porsi pengeluaran untuk makanan jauh lebih besar. Tanpa penguatan distribusi dan kesiapan stok di daerah, lonjakan permintaan saat Ramadan berpotensi mendorong inflasi pangan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pendaki Pelajar Hilang di Gunung Ijen, Petugas Sisir Jalur Pendakian hingga Kawah
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Tak Hanya Ngaji, Pesantren Diminta Bekali Kapasitas Tambahan Agar Santri Juga Siap Kerja
• 3 jam lalusuara.com
thumb
Antusiasme Warga Salat Tarawih Perdana Ramadan 2026 di Masjid Istiqlal
• 19 jam laludetik.com
thumb
BI Catat Utang Indonesia Naik Jadi 431,7 Miliar Dolar AS pada Triwulan IV 2025
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Bersihkan Lahir dan Batin, Kunci Kuat Jalani Puasa Ramadan
• 18 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.