FAJAR, MAKASSAR — Ramadan dipandang sebagai momentum spiritual yang menuntut kesiapan menyeluruh, baik secara jasmani maupun rohani, agar ibadah puasa dapat dijalani dengan kuat, konsisten, dan penuh kesadaran.
Kesiapan tersebut dinilai penting agar Ramadan tidak sekadar dilalui sebagai rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi ruang perbaikan diri.
Hal tersebut disampaikan tokoh agama sekaligus akademisi, Dr. Muhammad Asriady, yang juga menjabat Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung. Ia menilai, persiapan menyambut Ramadan harus dimulai dengan membersihkan dua dimensi dalam diri manusia, yakni dimensi batiniah dan fisik.
Menurutnya, pembersihan batin dilakukan melalui tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Proses ini mencakup memperbanyak istigfar, melembutkan hati yang keras, serta melatih diri untuk bersikap rida dan lapang dalam menerima berbagai keadaan yang mungkin tidak sesuai dengan prasangka pribadi.
Selain batin, kesiapan fisik juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Kebersihan jasmani, mulai dari taharah yang benar seperti istinja, wudu, hingga mandi, dinilai sebagai bagian dari persiapan agar tubuh terasa segar dan siap menjalani ibadah puasa selama Ramadan.
“Yang harus dilakukan oleh masyarakat menyambut Ramadan ini tentunya harus membersihkan dua dimensi di dalam tubuhnya, baik dimensi batiniahnya maupun dimensi fisiknya,” katanya,
Ia menjelaskan, kebersihan lahir dan batin akan melahirkan pribadi yang prima, yakni pribadi yang sehat secara jasadiah dan batiniah.
Hanya orang yang sehat secara fisik dan mental yang mampu menjalani puasa dengan kuat dan konsisten.
Lebih jauh, ia mengibaratkan persiapan Ramadan seperti melakukan stretching atau pemanasan. Idealnya, pemanasan tersebut dilakukan sejak bulan Rajab dengan memperbaiki kualitas salat, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, serta membiasakan puasa sunah sebagai latihan menahan diri sebelum memasuki puasa wajib.
Namun, jika Ramadan sudah di depan mata, ia menilai muhasabah diri tetap harus dilakukan. Mengingat kembali jasa dan perjuangan orang tua, memperbanyak doa, hingga ziarah kubur disebut sebagai bagian dari refleksi diri agar hati lebih siap menyambut bulan suci.
“Mumpung masih ada kesempatan, lakukan pembenahan saling minta maaf, memberi maaf,” ujarnya.
Ia juga menganjurkan masyarakat untuk membersihkan lingkungan tempat tinggal, termasuk rumah dan sekitarnya, sebagai simbol kesiapan lahiriah dan batiniah dalam menyambut Ramadan.
Kebersihan lingkungan diyakini dapat membantu menghadirkan suasana segar dan nyaman selama menjalani ibadah.
Dalam pandangannya, Ramadan harus disambut dengan rasa bahagia. Ia menyebut kegembiraan menyambut datangnya Ramadan sebagai bentuk kesiapan spiritual, selama tidak dimaknai secara berlebihan dan bertentangan dengan nilai ibadah.
“Ini bukan hadis, tetapi ini sangat masyhur kalau kita masuk dalam konsep ayat-ayat Al-Qur’an itu ya ternyata diperbolehkan untuk kita senang, diperbolehkan untuk kita bahagia,” katanya.
Ia menilai, kegembiraan tersebut harus dimulai dari diri sendiri. Ketika seseorang menyambut Ramadan dengan hati yang lapang dan bahagia, maka aura positif itu akan menular ke keluarga dan lingkungan sekitar, sehingga Ramadan benar-benar menjadi bulan yang dirindukan dan dimuliakan.
Selain itu, ia juga menyinggung berbagai tradisi masyarakat dalam menyambut Ramadan, seperti berkumpul bersama keluarga, pulang kampung, hingga berdoa dan makan bersama.
Menurutnya, selama tradisi tersebut diisi dengan doa dan kebersamaan, maka hal itu justru dapat memperkuat nilai persaudaraan dan keberkahan.
Tokoh pesantren ini berharap Ramadan tahun ini menjadi momentum perbaikan diri secara menyeluruh, baik dalam hubungan dengan Allah SWT, dengan keluarga, maupun dengan lingkungan sekitar, sehingga nilai-nilai Ramadan dapat terus hidup bahkan setelah bulan suci berlalu. (an)





