Permintaan Lemah, Bos BRI Proyeksi Pertumbuhan Kredit Masuk Fase Single Digit

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2026 akan memasuki fase single digit di tengah pemulihan daya beli yang belum merata.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Economic Outlook 2025 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara daring, Kamis (19/2/2026).

“Jika kita melihat pertumbuhan ekonomi diperkirakan sedikit lebih baik di 2025 di kisaran 5% plus minus, namun pertumbuhan kredit diproyeksikan memasuki fase single digit,” kata Hery dalam paparannya, Kamis (19/2/2026).

Dia menyampaikan perlambatan tersebut bukan dipicu keterbatasan likuiditas, melainkan lemahnya permintaan kredit akibat ekspansi dunia usaha yang masih selektif dan konsumsi masyarakat, khususnya kelas bawah dan menengah, yang belum sepenuhnya pulih.

Mantan Dirut PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) itu menilai, industri perbankan tengah memasuki fase normalisasi pertumbuhan kredit, bukan kondisi krisis, namun juga belum kembali pada fase ekspansif agresif. Dalam fase ini, Hery menekankan pentingnya kualitas pertumbuhan dibanding sekadar mengejar angka pertumbuhan tinggi.

“Fase ini kita lihat kualitas pertumbuhan menjadi jauh lebih penting daripada sekadar angka pertumbuhan,” ujarnya. 

Baca Juga

  • Pertumbuhan Kredit Masih di Bawah 10%, Manfaat Penempatan Dana SAL Belum Terasa?
  • Soroti Ketimpangan Kredit, Prabowo: Pengusaha Besar Juga Minta Restrukturisasi
  • Bunga Kredit Usaha Mikro Bisa Cuma 2%, Kemenkeu Ungkap Skenarionya

Lebih lanjut, Hery melihat pemulihan likuiditas rumah tangga terjadi secara tidak merata dan cenderung terkonsentrasi pada kelompok berpendapatan tinggi. 

Ketua Umum Perbanas itu menuturkan, akselerasi pertumbuhan 2025 terlihat lebih banyak ditopang oleh kelas atas. Jika menilik indeks daya beli, Hery mengungkapkan bahwa kelas bawah dan menengah masih berada di bawah level normal pra tahun 2019 atau per pandemi.

“Meski ada perbaikan dibanding 2024, ruang konsumsi mereka masih terbatas,” ungkapnya.

Kelas Atas Balik Positif

Sebaliknya, kelas atas sudah kembali ke arah positif dan relatif lebih stabil. Hery mengatakan, kondisi ini menjelaskan mengapa segmen premium seperti properti dan juga kredit korporasi tentu lebih resilient.

Di sisi lain, pemulihan likuiditas rumah tangga memang terjadi tetapi terkonsentrasi di kelompok saldo tinggi. Di segmen menengah atas, Hery mengatakan bahwa pertumbuhan relatif stagnan, menunjukkan pola konsumsi yang lebih berhati-hati dan kecenderungan menahan belanja.

Sementara itu, di kelompok atas, saldo tabungan meningkat signifikan, menunjukkan bahwa likuiditas terkonsentrasi pada kelompok berpendapatan tinggi yang masih memiliki ruang memperluas aset finansial.

Menurutnya, asimetri ini penting lantaran ketika likuiditas tidak tersebar merata, transmisi ke konsumsi dan juga kredit mikro menjadi terbatas. Dengan demikian, meskipun dana tersedia dalam sistem dorongan terhadap permintaan riil belum sepenuhnya bisa dijalankan dengan baik.

Kemudian jika melihat dinamika tabungan, Hery menyebut bahwa pemulihannya belum merata. Hal ini tercermin dari pertumbuhan saldo kelas bawah masih relatif melambat dan di kelas menengah bawah saldo rata-rata belum menunjukkan rebound yang signifikan.

Hal itu, kata dia, ruang ekspansi konsumsi masih terbatas, sementara pertumbuhan dana lebih terkonsentrasi pada kelompok dengan saldo besar. “Dengan kata lain, tantangan bukan pada supply dana tetapi pada distribusi dan kualitas pemulihan,” pungkasnya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kualifikasi Tinggi, Ternyata Segini Gaji Guru PPPK SMA Unggul Garuda Baru
• 18 jam lalumedcom.id
thumb
Kalsel bahas penguatan tata kelola penerimaan siswa baru dalam rakor
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Survei: 25% Orang Mengeluh Bau Mulut saat Puasa
• 3 jam lalurealita.co
thumb
DPR-Pemerintah Sepakat Tambah Anggaran Pemulihan Sumatera, Huntara Percepat
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Bacaan Niat Puasa Ramadan dan Waktu Pengucapan, Jangan Sampai Salah!
• 16 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.