Badan Pangan Punya Jurus Baru Kendalikan Harga Cabai, Ini Fokusnya

republika.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjalankan strategi distribusi langsung cabai rawit merah dari daerah produsen ke pasar induk sebagai langkah menekan fluktuasi harga pada momen Ramadhan 2026. Pasokan difokuskan ke Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Tanah Tinggi agar harga di tingkat perdagangan segera terkoreksi.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menjelaskan, pemerintah menjembatani pasokan dari Champion Cabai binaan Kementerian Pertanian kepada pedagang di pasar induk. Sumber pasokan dipetakan dari sentra produksi di Bandung dan sekitarnya, termasuk Lembang, sebelum didorong masuk ke pusat distribusi utama.

Baca Juga
  • Bapanas Susun Perpres tentang Penyelamatan Pangan, Ini Tujuannya
  • Bapanas Pantau Pasar Jakarta: Harga Bawang dan Daging Aman, Cabai Masih Tinggi
  • Bapanas Tekan Harga Cabai Rawit Jelang Puasa, Ongkos Distribusi Dipangkas

“Kita dorong ke pasar induk. Jadi pasar induk kita suplai cabai lebih dulu agar harga bisa turun di tingkat grosir,” kata Ketut di Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Langkah percepatan distribusi dilakukan untuk memastikan pasokan tersedia dalam jumlah cukup di tingkat grosir. Pemerintah menargetkan volume yang masuk mampu memicu penyesuaian harga secara bertahap dari tingkat perdagangan hingga konsumen. Cabai yang dikirim direncanakan dibeli di tingkat petani sekitar Rp 45.000 per kilogram. Pedagang pasar induk siap menyerap di kisaran Rp 50.000 per kilogram dan melepas ke konsumen pada rentang Rp 60.000 hingga Rp 65.000 per kilogram.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Pasokan berasal dari berbagai daerah, antara lain Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Enrekang di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Solok di Sumatera Barat, hingga Aceh. Volume distribusi ditargetkan minimal dua ton per hari selama dua pekan ke depan. Ketut mengakui fluktuasi harga saat ini dipicu faktor cuaca yang menghambat proses panen di tingkat petani, meski ketersediaan tanaman siap panen sebenarnya mencukupi.

“Barang sangat banyak di standing crop, tetapi petani tidak berani memetik karena hujan. Curah hujan tinggi membuat proses panen sulit dilakukan. Ini menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.

Ia menilai penggelontoran stok menjadi kunci menahan kenaikan harga. Tanpa intervensi distribusi, harga di tingkat konsumen berpotensi bertahan tinggi bahkan meningkat lebih tajam. “Kalau tidak kita intervensi, harga bisa tetap di posisi Rp 75.000 sampai Rp 80.000 per kilogram. Bahkan di hilir bisa mencapai ratusan ribu. Dua pasar ini harus kita dorong dulu agar harga bisa turun Rp 10.000 sampai Rp 15.000,” jelas Ketut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rerata harga cabai rawit nasional pada pekan kedua Februari 2026 mencapai Rp 67.038 per kilogram. Indeks Perubahan Harga meningkat di 58,33 persen wilayah Indonesia atau sekitar 210 kabupaten/kota.

Meski mengalami tekanan, kondisi tahun ini dinilai lebih terkendali dibandingkan awal Ramadhan 2025. Saat itu, harga rata-rata sempat mencapai Rp 85.694 per kilogram dengan kenaikan di sekitar 65 persen wilayah.

BPS mencatat setelah periode Idul Fitri 2025, harga berangsur turun menjadi Rp 76.793 per kilogram dengan penurunan tekanan harga di 46,95 persen wilayah. Dari 210 daerah yang mengalami kenaikan pada Februari 2026, sekitar 30 persen masih berada dalam batas Harga Acuan Penjualan (HAP) maksimal Rp 57.000 per kilogram.

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan stabilitas harga pangan menjadi prioritas pemerintah selama Ramadhan hingga Idul Fitri. Kebijakan penguatan pasokan dijalankan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga daya beli masyarakat.

Distribusi langsung ke pasar induk diharapkan mempercepat penurunan harga di tingkat perdagangan dan eceran. Langkah ini menjadi instrumen utama pemerintah menjaga stabilitas harga cabai selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri 2026.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pesawat Dilaporkan Jatuh di Krayan Kalimantan Utara
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Tekan Angka Pengangguran, Pemprov Sumut Buka Kesempatan Magang ke Jepang
• 1 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Dari Kapolda hingga Kasatres, Berikut Sederet Polisi yang Terjerat Kasus Narkoba
• 12 jam lalukompas.com
thumb
Kecelakaan di Salatiga, Truk Trailer Terjun ke Jurang 6 Meter gegara Rem Tak Berfungsi
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
BBWI Travel Fair Dorong Wisata Domestik dan Produk Kreatif Lokal
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.