Parlemen Peru pada Rabu (19/2) memilih Jose Balcazar sebagai presiden interim menjelang pemilu April mendatang. Dia menjadi presiden kedelapan di negara Amerika Latin itu dalam satu dekade terakhir.
Sejak 2018, Peru terus mengalami pergantian kepala negara secara cepat. Situasi ini mencerminkan retaknya hubungan antara eksekutif dan Kongres, serta sistem partai yang terfragmentasi dan sulit membentuk koalisi pemerintahan yang stabil.
Balcazar, politikus sayap kiri berusia 83 tahun, resmi mengambil alih kepemimpinan setelah Jose Jeri dilengserkan oleh Kongres pada Selasa (17/2). Jeri, yang baru berusia 39 tahun, tercatat hanya mampu bertahan selama empat bulan di kursi presiden sebelum akhirnya dimakzulkan.
Jeri terseret skandal korupsi dan pertemuan tertutup dengan pengusaha asal China, Zhihua Yang, yang tak pernah ia ungkap ke publik.
Selain menjadi presiden sementara, Balcazar juga merangkap sebagai Ketua Kongres. Dalam upacara pelantikan singkat, ia menerima selempang presiden dan menyampaikan sumpahnya.
“Saya akan membela kedaulatan bangsa, integritas fisik dan moral Republik, serta independensi lembaga-lembaga demokratisnya,” kata Balcazar.
Pemilihan Balcazar berlangsung ketat. Ia menang atas politisi kanan-tengah Maria del Carmen Alva dengan suara 64 berbanding 46 setelah sidang berjam-jam.
Sebelumnya, empat kandidat gagal meraih mayoritas sederhana pada putaran pertama, mengejutkan Alva yang sempat dijagokan.
Rakyat Peru dijadwalkan memilih presiden baru pada 12 April, dengan putaran kedua diperkirakan digelar Juni. Balcazar, politisi berhaluan kiri, akan menjabat hingga akhir masa pemerintahan saat ini pada 28 Juli, ketika presiden terpilih dilantik.
Sementara itu, mantan anggota Kongres Gino Costa menilai drama politik terbaru ini kecil kemungkinan berdampak negatif pada pasar maupun pemilu.
“Tidak ada yang berubah, dan tidak akan berubah hingga 28 Juli, ketika periode legislatif dan pemerintahan baru dimulai,” katanya.





