Transformasi energi global hari ini bukan lagi sekadar agenda lingkungan hidup, melainkan juga berpotensi untuk memengaruhi kompetisi geopolitik dan industri global. Hal ini tentunya didorong oleh negara-negara industri yang menginginkan adanya transisi energi bersih.
Dalam hal ini, kebangkitan industri fotovoltaik (PV) China menjadi sebuah fenomena yang tak bisa diabaikan. Menurut laporan Ember, China kini menguasai hampir 80% kapasitas manufaktur panel surya dunia.
Bagaimana tidak. Pada awal 2023, ekspor panel surya China meningkat 34% dibanding periode sebelumnya dengan proyeksi kapasitas global yang hampir mendekati 1000 GW (gigawatt) pada 2024. Ini menunjukkan bahwa China telah menjadi aktor utama yang membentuk arah perkembangan energi bersih dunia.
Dominasi ini tentu bukanlah hasil dari mekanisme pasar semata, melainkan juga buah dari kebijakan industri domestik yang mendukung jalannya produksi Fotovoltaik Pemerintah China sejak awal memberikan subsidi langsung kepada produsen panel surya, menyediakan pembiayaan murah, serta membangun integrasi rantai pasok, baik dari hulu hingga hilir.
Pendekatan ini berbeda dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa yang cenderung memberikan insentif kepada konsumen atau proyek instalasi energi surya domestik. Alhasil, harga panel surya China jauh lebih rendah di pasar global dan membuat negara eksportir lebih mudah untuk mengakses energi terbarukan.
Ekspansi industri fotovoltaik China memperlihatkan bagaimana teknologi energi bersih dapat menjadi alat pengaruh global. Ketika negara-negara maju berlomba untuk mencapai target Net Zero Emisson setelah Paris Agreement 2015, permintaan terhadap teknologi energi terbarukan meningkat tajam.
Dalam situasi ini, China berupaya menyediakan panel surya dengan harga kompetitif, menempatkan negara ini pada posisi strategis dalam rantai pasok energi global.
Hal ini menciptakan kondisi ketergantungan negara lain terhadap teknologi dan produk energi bersih China, yang secara tidak langsung memperkuat diplomasi ekonomi China di tingkat internasional.
Dampak dan Tantangan Dominasi Fotovoltaik ChinaDominasi China di sektor fotovoltaik ternyata membawa dampak yang kompleks bagi sistem energi global. Hal yang kerap disorot adalah harga panel suryanya yang relatif murah, memungkinkan banyak negara untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan.
Negara-negara berkembang yag sebelumnya menghadapi keterbatasan teknologi dan pendanaan kini memiliki akses yang lebih mudah terhadap energi bersih. Hal ini mempercepat pencapaian target pengurangan emisi karbon dan mendukung agenda global dalam menghadapi perubahan iklim.
Namun, dibalik dominasi dan kemudahan tersebut, muncul risiko struktural baru. Ketergantungan berlebihan pada satu negara dalam rantai pasok teknologi strategis berpotensi menciptakan kerentanan geopolitik.
Sejumlah negara mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap dominasi industri energi bersih China. Amerika Serikat dan Uni Eropa misalnya, mereka mulai menerapkan kebijakan proteksionisme melalui tarif impor, subsidi domestik, dan insentif investasi lokal guna melindungi industri energi bersih mereka.
Persaingan kebijakan ini menunjukkan bahwa sektor fotovoltaik telah berkembang dari sekadar industri energi menjadi arena kompetisi kekuatan global.
Di sisi lain, dominasi China juga menghadapi tantangan internal. Industri fotovoltaik domestik mulai mengalami kelebihan kapasitas produksi di tengah penurunan permintaan global pada beberapa bulan terakhir. Persaingan antarperusahaan China semakin ketat dan margin keuntungan cenderung menurun.
Bahkan, beberapa produsen menghadapi tekanan finansial akibat lonjakan produksi yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan pasar. Dapat dilihat bahwa ekspansi industri yang sangat cepat tidak selalu berbanding lurus dengan stabilitas ekonomi sektor tersebut. Dengan kata lain, dominasi pasar global tidak serta-merta menjamin keberlanjutan industri dalam jangka panjang.
Berbeda dengan China, negara-negara barat justru cenderung mengombinasikan komitmen terhadap energi bersih dengan langkah-langkah perlindungan industri dalam negeri.
Melalui insentif produksi lokal dan kebijakan protektif, Amerika Serikat dan Uni Eropa berupaya memastikan bahwa transisi energi tidak justru melemahkan ketahanan ekonomi dan posisi strategis mereka.
Potensi dan Harapan dalam Tata Kelola Energi GlobalKebangkitan industri fotovoltaik China pada akhirnya menempatkan dunia pada dilema strategis. Di satu sisi, kapasitas produksi yang masih tinggi dan harga panel surya yang relatif rendah dari China mempercepat peralihan dunia menuju sumber energi yang lebih bersih.
Kontribusi ini berperan signifikan dalam mendorong pencapaian target pengurangan emisi karbon global. Jika tanpa China, mungkin hal tersebut akan melaju lebih lambat.
Namun, di sisi lain, terkonsentrasinya rantai pasok teknologi energi bersih pada satu negara dapat memunculkan kerentanan berupa ketergantungan geopolitik yang dapat mengganggu stabilitas sistem energi internasional.
Menilik kondisi tersebut, upaya diversifikasi rantai pasok energi bersih menjadi semakin mendesak. Penguatan kerja sama internasional yang bersifat transparan dan kompetitif diperlukan untuk memastikan distribusi teknologi energi ini berlangsung secara lebih adil dan berkelanjutan.
Bagi negara-negara berkembang, situasi ini juga membuka ruang strategis untuk memperkuat kapasitas industri domestik melalui alih teknologi dan investasi terarah, sehingga peran mereka tidak terbatas sebagai pasar bagi produk energi bersih global, tetapi juga sebagai bagian dari proses produksi dan inovasi.
Dengan demikian, perkembangan industri fotovoltaik China tidak hanya mencerminkan kemajuan teknologi energi surya, tetapi juga menandai perubahan konfigurasi kekuasaan dalam politik energi global.
Dominasi China di sektor ini menunjukkan bagaimana teknologi hijau dapat menjadi instrumen penting dalam strategi politik luar negeri suatu negara.
Pertanyaannya bukan lagi "Apakah China akan terus menjadi pemain utama dalam energi surya dunia?" melainkan "Bagaimana komunitas internasional dapat menyeimbangkan kebutuhan transisi energi, dengan stabilitas geopolitik dan kemandirian teknologi di masa depan?"





