EtIndonesia. Suatu hari, ketika George sedang menghapus email-email sampah, matanya tertuju pada sebuah judul yang mencolok: “Prediksi Mengejutkan Piala FA.”
Karena penasaran, dia pun membukanya.
Di dalam email itu tertulis:
Penggemar sepak bola yang terhormat,
Kami tahu Anda adalah orang yang skeptis dan tidak mudah percaya begitu saja. Namun, kami benar-benar telah menemukan metode luar biasa yang dapat memprediksi hasil pertandingan sepak bola dengan tingkat akurasi mutlak.
Sore ini, Piala FA Inggris akan memasuki babak ketiga. Pertandingan akan mempertemukan Coventry City melawan Sheffield United. Prediksi kami: Coventry City akan menang.
George membaca email itu sambil tersenyum sinis dan sama sekali tidak menganggapnya serius.
Malam harinya, dia menonton siaran langsung pertandingan tersebut di televisi. Dan benar saja—Coventry City menang dengan sangat meyakinkan.
Prediksi Kedua yang Mengejutkan
Tiga minggu kemudian, George kembali menerima email dari pengirim yang sama:
Penggemar sepak bola yang terhormat,
Apakah Anda masih ingat bahwa pada babak sebelumnya kami telah memprediksi kemenangan Coventry City dengan tepat?
Hari ini Coventry City akan berhadapan dengan Middlesbrough. Prediksi kami: Middlesbrough akan menang.
Kami sangat menyarankan Anda untuk tidak bertaruh dengan siapa pun. Namun, perhatikan hasil pertandingan dengan saksama dan lihat apakah prediksi kami kembali terbukti benar.
Sore itu, pertandingan berakhir imbang 1–1. Coventry City yang seharusnya tampil kuat justru tidak menunjukkan performa terbaiknya.
Namun pada laga ulang hari Selasa berikutnya, Middlesbrough menang 2–0.
Kali ini, George mulai merasa terkejut.
Beberapa hari kemudian, email itu datang lagi. Kali ini memprediksi bahwa Middlesbrough akan kalah di babak kelima, dan Tranmere Rovers akan menang—dan hasilnya benar-benar sesuai prediksi.
Menjelang babak perempat final, email tersebut kembali memberi tahu George bahwa Tranmere akan kalah telak dari Tottenham Hotspur. Dan sekali lagi, prediksi itu tepat sasaran.
Empat kali prediksi—empat kali semuanya benar!
Keyakinan yang Mulai Goyah
Kemudian, si pengirim email menulis kepada George:
Kami telah membeli hak eksklusif atas penelitian terbaru seorang matematikawan. Sekarang Anda tentu mulai percaya bahwa kami benar-benar memiliki kemampuan luar biasa dalam memprediksi masa depan. Pada babak semifinal, Arsenal akan mengalahkan Ipswich Town.
George adalah tipe orang yang tidak mudah mengalah. Dia bahkan mengundang banyak temannya untuk menonton siaran langsung pertandingan itu bersama-sama, sambil berencana menertawakan dan mempermalukan si pengirim email jika Arsenal kalah.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dalam posisi tertinggal, Arsenal bangkit dan akhirnya menang 2–1.
George benar-benar tercengang. Ini terlalu mustahil untuk disebut kebetulan.
Jebakan yang Menggiurkan
Keesokan harinya, email “ajaib” itu kembali masuk:
Penggemar sepak bola yang terhormat,
Anda telah menyaksikan sendiri keajaiban prediksi kami. Sekarang Anda pasti sudah percaya, bukan? Lima kali prediksi—lima kali tepat. Ini jelas bukan sekadar keberuntungan, apalagi semua hasil kejutan berhasil kami tebak.
Kini kami ingin menawarkan sebuah kerja sama khusus. Selama satu bulan, kami akan menyediakan layanan prediksi pertandingan kepada Anda. Anda hanya perlu membayar uang muka sebesar 200 poundsterling.
Cukup kirimkan email berisi dua tim yang akan bertanding, dan kami akan mengirimkan hasil prediksi kepada Anda. Kami sangat menantikan pesanan Anda.
200 poundsterling jelas bukan jumlah kecil. Namun jika seseorang benar-benar tahu tim mana yang akan menang, mendapatkan 200.000 pound dari bandar taruhan bukanlah hal mustahil.
Tentu saja George sempat ragu. Dia bahkan sempat berpikir bahwa mereka mungkin adalah konsorsium gelap yang mengatur pertandingan, atau bagian dari mafia perjudian.
Namun semua itu tak terlalu dia pedulikan. Baginya, selama prediksinya akurat, itu sudah cukup.
Akhirnya, George pun mengeluarkan 200 poundsterling.
Rahasia di Balik Tipuan
Padahal kenyataannya, mereka tidak lebih dari sekelompok penipu. Lagipula, berapa banyak matematikawan jenius di dunia ini?
Awalnya, mereka mengirim 8.000 email kepada para penggemar sepak bola. Setengah email memprediksi Tim A akan menang, dan setengah lainnya memprediksi Tim B akan menang.
Hasilnya, 4.000 orang menerima prediksi yang benar, sementara 4.000 lainnya menganggap email itu sebagai lelucon dan melupakannya.
Pada tahap berikutnya, mereka hanya mengirim email kepada 4.000 orang yang “mendapat prediksi benar”. Setengah dari mereka diberi prediksi Tim C menang, setengah lainnya Tim D menang…
Dan seterusnya.
Dengan metode ini, si “peramal” hanya terus menghubungi sebagian orang yang kebetulan menerima prediksi benar. Pada akhirnya, tersisa 250 orang yang menerima prediksi seratus persen akurat, sehingga mereka benar-benar yakin bahwa sistem ini pasti sakti.
Jika dari 250 orang itu 50 orang saja membayar 200 pound, maka bagi para penipu, itu sudah merupakan keuntungan yang sangat besar.
Apalagi, mereka tidak mengeluarkan modal apa pun selain mengirim email.
Renungan & Hikmah Cerita
Teknologi berkembang dari hari ke hari, namun modus penipuan berkembang jauh lebih cepat.
Apa pun bentuknya, inti dari penipuan selalu sama: keserakahan manusia.
Begitu rasa tamak muncul, manusia akan dengan mudah terjerumus ke dalam perangkap penipu.
Saat membaca cerita ini, saya teringat pada fenomena perjudian seperti Da Jia Le (permainan judi ilegal yang populer di Taiwan pada era 1980-an), lotre, dan togel.
Setiap penjudi selalu percaya bahwa “angka sakti” benar-benar ada. Demi beberapa deret angka, mereka rela ke mana-mana, bahkan meminta petunjuk gaib. Begitu mendengar ada kuil yang “punya angka jitu”, sejauh apa pun akan mereka datangi.
Padahal, jika ditelaah lebih dalam, tidak pernah ada angka pasti di dunia ini. Menang hanyalah soal probabilitas.
Kuil yang didatangi banyak orang tentu memiliki lebih banyak “angka ramalan” yang beredar, sehingga peluang menangnya terlihat lebih tinggi—bukan karena kuil itu benar-benar lebih sakti.
Hal yang sama juga terjadi pada lotre modern. Begitu terdengar kabar bahwa sebuah toko pernah menjual tiket pemenang jackpot, orang-orang langsung berbondong-bondong membeli tiket di sana. Padahal dari sudut pandang probabilitas, toko yang menjual tiket lebih banyak tentu memiliki peluang lebih besar menghasilkan pemenang—bukan karena toko itu benar-benar diberkahi dewa rezeki.
Karena itu, bekerja keras dengan jujur dan membumi tetaplah pilihan paling masuk akal. Mungkin tidak membuat kita kaya dalam semalam, tetapi setidaknya menghindarkan kita dari kemiskinan dalam semalam. (jhn/yn)





