Aroma masakan khas menyeruak dari dalam Masjid Pekojan, Semarang. Belasan orang tertib mengantre di belakang kuali besar berisi bubur India.
Bubur India di masjid ini identik dengan Ramadan. Karena setiap di bulan puasa biasanya bubur ini dibuat.
Juru masak bubur India di Masjid Pekojan, Ahmad Paserin, dengan ramah melayani orang-orang yang datang. Ada yang membawa rantang, plastik, mangkok hingga kuali besar.
Semuanya dilayani Paserin dengan ramah. Tangannya sibuk menuangkan bubur sambil menjaga nyala api agar tidak padam. Sesekali ia mengaduk bubur itu agar konsistensinya tetap terjaga.
Tak hanya melayani permintaan bubur untuk dibawa pulang, masjid Pekojan juga menghidangkan bubur itu sebagai menu buka puasa bersama. Semua orang boleh datang dan menikmatinya.
Mangkok-mangkok berisi bubur panas dengan toping sayuran itu digelar di serambi masjid, lengkap dengan segelas air dan buah semangka.
Bubur India itu seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan bagi identitas masjid yang terletak di Jalan Petolongan, Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Paserin bilang, ia tak tahu sejak kapan bubur India itu jadi menu wajib, namun tradisi itu jauh sudah ada sebelum ia tinggal di Semarang. Ia merupakan penerima tongkat estafet Juru Masak Bubur India dari Ahmad Ali bin Ali Yasin yang telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
"Saya itu pendatang dari Bojonegoro Jawa Timur. Pada 2014 saya jadi marbot di masjid ini. Kemudian oleh Pak Ali saya diajak untuk membantu masak bubur India ini," ujar Sirin saat dijumpai, Rabu (19/2).
Menurut cerita, Bubur India dibawa leluhur salah seorang sesepuh warga Pekojan bernama Anas Salim. Anas Salim mendapatkan resep itu turun temurun dari kakek dan ayah kandungnya. Keluarga asal India itu datang ke Indonesia sekitar tahun 1.800-an.
Komunitas orang Khoja itu kemudian mendiami Kampung Petolongan dan mempopulerkan bubur India. Sekaligus juga menjadi pelopor warga keturunan India di Kota Semarang untuk berdagang sarung, tasbih sampai bermacam rempah-rempah.
Dalam satu hari masjid Pekojan bisa memasak 21 kilogram beras menjadi bubur. Memasaknya pun butuh tenaga ekstra dan kesabaran yang luas karena butuh waktu berjam-jam.
"Kira-kira butuh waktu 3 jam. Saat sudah tercampur di dalam kuali besar, beras dan bumbu harus diaduk selama 1 jam dan tidak boleh berhenti," jelas dia.
Bubur itu kemudian dibagikan kepada warga yang datang termasuk disajikan kepada 200 orang sebagai menu buka puasa bersama.
"Ada 200 mangkok kami siapkan setiap hari, setiap bulan puasa. Kalau bubur India kan rempah rempahnya banyak beda dengan bubur biasa. Siapa pun boleh datang dan makan," kata Paserin.





