Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut pembangunan kawasan budidaya udang terintegrasi di Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilakukan dengan pinjaman asing senilai Rp 7 triliun.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, TB Haeru Rahayu, mengatakan pendanaan tersebut berasal dari kredit swasta asing (KSA).
“Kita loan. KSA (kredit swasta asing) Rp 7 triliunan,” kata Haeru dalam konferensi pers di Kantor KKP, Kamis (19/2).
Dia menjelaskan, mekanisme pinjaman diatur oleh Kementerian Keuangan. “Kalau detailnya di Kementerian Keuangan. Kalau kami dapat duitnya kemudian menerima dan membangun, itu tanggung jawab kami,” ujarnya.
Haeru menjelaskan, proyek tambak udang di Waingapu ditargetkan rampung dalam waktu dua hingga tiga tahun. Namun, KKP mendorong agar sebagian kawasan sudah bisa dioperasikan tahun ini.
“Kalau sekarang ini sekitar 2 tahunan sampai 3 tahunan. Kita push menjadi 2 tahun. Karena Pak Presiden ingin cepat,” katanya.
Pada tahap awal, KKP menargetkan minimal dua kluster dari total 12 kluster bisa beroperasi. Dalam satu kluster terdapat 128 petak tambak.
“Dua kluster paling tidak, dari total 12 kluster. Dua kluster itu satu klusternya 128 petak. Jadi kalau dua klaster, 256 petak,” jelasnya.
Tambak Udang Terbesar, 20 Kali KebumenMenurut Haeru, pemilihan Waingapu salah satunya adalah pertimbangan teknis. Selain itu dia melihat pembangunan tempat produksi udang tidak harus selalu di Jawa.
Dia menegaskan lahan tersebut berstatus clear and clean serta sudah menjadi hak KKP. “Di sana ada hamparan lahan yang luas, clear and clean, serta free. Sudah menjadi haknya KKP. Jadi luasnya 2.000 hektare,” ujarnya.
Haeru juga menyebutkan proyek ini disebut jauh lebih besar dibanding modeling tambak di Kebumen yang luasnya sekitar 100 hektare. “Jauh, Kebumen cuma 100 hektare. Di sana 2.000 hektare. Ini kan ada 20 kali ya,” tegasnya.
Terintegrasi dari Hulu ke HilirKawasan budidaya ini akan dirancang terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pembenihan, pakan, hingga fasilitas pendukung.
“Terbesar, terintegrasi. Nanti akan ada end to endnya. Ada hulu hilirnya. Ada pembenihannya. Ada pakannya. Ada pabrik esnya. Ada cold storagenya. Ada segala macam. Semuanya didekatkan di sana. Sehingga menjadi betul-betul udang yang premium. Dan harganya bagus,” jelas Tebe.
Jika seluruh kluster telah beroperasi, kawasan ini ditargetkan mampu memproduksi 52 ribu ton udang vaname per tahun.
Tambahan produksi tersebut akan mendongkrak produksi udang nasional yang saat ini berada di kisaran 1,2–1,3 juta ton per tahun.
Tambah Produksi Nasional dan Serap Ribuan Tenaga KerjaTebe menyebut, secara nasional komoditas udang menyumbang nilai ekspor sekitar USD 1,6 miliar hingga USD 2,2 miliar per tahun, dengan total nilai industri mencapai sekitar USD 5,5 miliar. Sebanyak 67-70 persen ekspor udang Indonesia masih bergantung pada pasar Amerika Serikat.
“Ekspor 67 persen sampai 70 persen ke Amerika. Makanya isu kemarin Cesium 137 kan sangat berdampak,” katanya.
Ke depan, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) juga menjajaki pasar Eropa, Asia Timur seperti Jepang dan Korea, serta Timur Tengah untuk memperkenalkan udang asal Indonesia. Kemudian selain meningkatkan produksi, proyek ini juga diproyeksikan menyerap ribuan tenaga kerja.





