JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah berulang kali mengeluhkan bisingnya lapangan padel di Cilandak, Jakarta Selatan, warga akhirnya menjalani mediasi dengan pengelola lapangan, Kamis (19/2/2026).
Namun, warga merasa tidak puas dengan hasil mediasi lantaran tak ada satupun tuntutan mereka yang dipenuhi oleh pengelola.
“Belum ada yang dikabulkan (tuntutannya). Kami masih kurang puas, tidak puas. Kan besok malam tetap dengerin lagi (suara lapangan), nanti malam tetap dengerin lagi berisiknya,” kata warga, Naufal (27), saat ditemui usai mediasi, Kamis.
Baca juga: Diprotes Warga karena Bising, Pengelola Lapangan Padel Cilandak Bakal Pertebal Dinding
Warga yang rumahnya menempel dengan bangunan lapangan padel itu meminta agar operasional lapangan dihentikan sepenuhnya.
Selain itu, mereka juga mendesak agar otoritas terkait mengusut lebih jauh terkait perizinan lapangan padel itu.
“Jika aktivitas ini dapat berjalan tanpa mengganggu lingkungan hunian, maka penghentian operasional menjadi langkah paling logis,” tegas Naufal.
Dalam mediasi ini, pihak pengelola hanya menjanjikan untuk memangkas jam operasional usahanya, yang semula dimulai pukul 06.30 WIB sampai 23.30 WIB.
Kini jam operasional baru akan diterapkan mulai pukul 13.00 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB.
Namun, menurut Naufal, jam operasional ini masih cukup mengganggu. Terlebih mereka memiliki seroang anak di bawah lima tahun (balita) yang harus mendapatkan kualitas tidur yang baik.
“Itu masih terlalu malam. Soalnya di rumah kami ada balita yang berumur satu setengah tahun. Dan balita biasanya udah tidur jam 19.00 WIB malam kan,” kata dia.
Baca juga: Ada Karangan Bunga Wakil Wali Kota Tangsel di Lapangan Padel yang Disegel Satpol PP
Selain itu, pengelola juga berjanji akan menambahkan lapisan pada dinding yang menempel langsung dengan rumah Naufal supaya suara aktivitas di dalamnya tidak bocor lagi.
Kini Naufal dan keluarga menanti janji yang diberikan pihak pengelola itu. Nantinya, jika janji tidak terealisasi, mereka berencana melapor lagi.
Gangguan kebisingan ini dirasakan warga sejak akhir Januari 2026, saat lapangan padel privat itu baru beroperasi.
Suara pantulan bola ke raket dan dinding yang terbuat dari polycarbonate, teriakan, dan umpatan silih berganti mengagetkan penghuni rumah.
Suara-suara itu dinilai mengganggu kualitas tidur penghuni rumah tersebut.





