JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah permukiman kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, berdiri sebuah masjid berarsitektur Tionghoa yang mencuri perhatian.
Bukan hanya bentuk bangunannya yang unik, Masjid Tjia Kang Hoo juga perlahan menjadi tempat warga nonmuslim untuk menjadi mualaf.
Sejak beroperasi pada 2023, sekitar 40 orang telah mengucapkan syahadat di masjid ini. Sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar yang keturunan Tionghoa.
Baca juga: Menengok Masjid Beraksen Tionghoa di Jaktim, Sering Dikira Kelenteng
"Alhamdulillah banyak keturunan Chinese yang mualaf. Alhamdulillah. sekitar ada kurang lebih 40 orang yang udah mualaf, sekitar masjid kiri kanan depan belakang. Iya, alhamdulillah," kata Alldi Nugraha imam masjid Tjia Kang Hoo saat ditemui, Kamis (19/2/2026).
Namun, peran masjid tidak berhenti pada prosesi syahadat. Pengurus juga mendampingi para mualaf untuk memperdalam Islam.
"Jadi mualaf warga sekitar yang sudah masuk Islam itu kita fasilitasi belajar mengaji habis Ashar. Pokoknya khusus mualaf itu Sabtu sama Minggu. Kalau Sabtunya itu untuk laki-laki, yang Minggunya untuk perempuan," kata dia.
Selama Ramadhan, kegiatan pengajian terjadwal sementara ditiadakan. Meski begitu, pintu masjid tetap terbuka bagi siapa pun yang ingin bertanya atau belajar secara pribadi.
"Selagi di sini masih ada ustaznya, enggak apa-apa bebas mau bertanya kapan saja. Barangkali kan kadang ada yang malu mau nanya pas lagi di forum. Jadi pribadi begitu," tuturnya.
Baca juga: Nama Tionghoa yang Tak Lagi Bersembunyi, Kini Dirawat dengan Rasa Bangga
Sejarah Masjid Tjia Kang HooSejarah di balik terciptanya masjid bernuansa Tionghoa ini adalah seorang kakek bernama Tjia Kang Hoo.
"Masjid ini dibikin bernuansa Tionghoa karena Tjia Kang Hoo adalah nama kakek saya sebelum mualaf," ungkap Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Tjia Kong Hoo, Muhamad Wildan Hakiki, kepada Kompas.com saat ditemui pada Maret 2024.
Tjia Kang Hoo adalah keturunan asli Tionghoa. Selama menetap di Pekayon, ia terbiasa berinteraksi dengan warga setempat yang mayoritas orang Betawi.
Lambat laun, ia mengenal seorang perempuan Betawi dan menjalin hubungan romantis. Mereka pun memutuskan untuk menikah dan memulai kehidupan baru sebagai satu keluarga.
Wildan tidak menuturkan kapan kakeknya menjadi mualaf. Namun, sejak saat itu, Tjia Kang Hoo mengubah namanya menjadi Abdul Soleh.
Tjia Kang Hoo pun berkesempatan untuk naik haji. Semasa hidupnya, ia aktif dalam lingkup keagamaan dan menjalin hubungan yang erat dengan warga setempat.
"Kalau dari cerita yang saya dengar, kakek juga bikin jalanan depan masjid ini, makanya nama jalannya pakai nama beliau, Jalan Haji Abdul Soleh," ungkap Wildan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




