Membangkit Kejayaan Dipasena di Waingapu, RI Incar Ekspor Udang ke Eropa-Timur Tengah

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membidik kebangkitan tambak udang Tanah Air dari Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Apakah mampu mengulang kejayaan kisah tambak udang terintegrasi Dipasena pada era 1990-an? 

Dalam catatan Bisnis, tambak udang terintegrasi Dipasena, Lampung menjadi salah satu cerita sukses Tanah Air pada era 1990-an. Kawasan pertambakan udang terintegrasi dan salah satu yang terbesar di dunia seluas 16.250 hektare itu mampu berproduksi 200 ton setiap hari. Kesuksesan yang diharapkan berulang di Waingapu.   

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP TB Haeru Rahayu mengatakan produksi udang Indonesia secara nasional saat ini berada di kisaran 1,2–1,3 juta ton per tahun, dengan nilai ekspor sekitar US$1,6 miliar—US$2,2 miliar, dari total nilai industri udang nasional sekitar US$5,5 miliar.

Namun, sebagian besar ekspor udang atau sekitar 67–70% masih ditujukan ke Amerika Serikat (AS). Untuk itu, KKP mendorong diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara tujuan.

“Ekspor sementara ini masih ke Amerika, tetapi Ditjen PDSPKP [Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan] sedang menjajaki ke Eropa, kemudian ke Asia Timur, Jepang, Korea, dan ke Timur Tengah,” kata Haeru saat ditemui di Kantor KKP, Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Haeru menjelaskan kontribusi NTT terhadap produksi udang nasional saat ini masih relatif kecil dibandingkan Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, kondisi tersebut diproyeksikan berubah dalam 2 tahun ke depan seiring mulai beroperasinya tambak udang terintegrasi di Waingapu.

Baca Juga

  • 10.000 Hektare Lahan Baru di Rote NTT Dibuka untuk Proyek Garam, APBN Masuk Rp700 Miliar
  • Harga Pupuk Subsidi 2026, Prabowo Janjikan Ini Kepada Petani
  • Danantara Resmi Mulai Proyek Peternakan Ayam Terintegrasi, ID Food Janji Serap Panen Rakyat

“NTT memang masih kecil dibandingkan dengan NTB, tetapi jangan khawatir 2 tahun ke depan insya Allah nanti akan ada terobosan dari Waingapu, setiap tahunnya akan tersuplai paling tidak 52.000 ton udang nanti dari Waingapu,” ujarnya.

Adapun, proyek ini dibiayai melalui skema pinjaman luar negeri berupa kredit swasta asing (KSA) dengan nilai sekitar Rp7 triliun. Adapun, mekanisme teknis pembiayaan berada di bawah kewenangan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). “Kita loan. KSA. Rp7 triliunan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Haeru menyampaikan proyek bernilai jumbo ini diproyeksikan menyerap ribuan tenaga kerja, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas pasar ekspor, sekaligus menjadi program strategis pemerintah untuk memperkuat industri perikanan budi daya nasional secara berkelanjutan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Dia menjelaskan, kawasan tambak udang di Waingapu dirancang dengan konsep terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari pembenihan, penyediaan pakan, pabrik es, cold storage, hingga fasilitas pengolahan.

Nantinya, tambak tersebut dibangun di atas lahan seluas sekitar 2.000 hektare, dengan sekitar 1.300 hektare dialokasikan khusus untuk kolam dan sisanya untuk fasilitas penunjang.

“Kita punya integrated shrimp farming yang letaknya di Waingapu Sumba Timur. Jadi mungkin akan naik kurvanya atau grafiknya, tahun depan harapannya itu sudah mulai ada produksi,” jelasnya.

Pada tahap awal, pengembangan tambak udang di Waingapu akan mengoperasikan setidaknya dua klaster dari total 12 klaster yang direncanakan. Setiap klaster terdiri atas 128 petak tambak, sehingga dua klaster tersebut mencakup sekitar 256 petak, dengan udang vaname yang dibudidayakan.

Menurut Haeru, pemilihan Waingapu sebagai lokasi pengembangan tambak udang terintegrasi didasarkan pada konsep Indonesia-sentris, ketersediaan hamparan lahan yang luas, bersih, bebas konflik, serta telah menjadi hak pengelolaan KKP. 

Dia juga menegaskan proyek tambak udang Waingapu ini akan menjadi proyek modeling terbesar yang pernah dikembangkan pemerintah di sektor budi daya udang pasca reformasi.

“Ada segala macam [di Waingapu]. Semuanya didekatkan di sana, sehingga menjadi betul-betul udang yang premium dan harganya bagus,” ungkapnya.

Lebih lanjut, proyek ini ditargetkan rampung hingga tiga tahun, namun KKP optimistis mampu menyelesaikan dalam 3 tahun sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Namun demikian, dia tak menampik pembangunan tambak udang terintegrasi ini juga diselimuti tantangan berupa letak geografis yang cukup jauh serta akses penerbangan yang masih terbatas.

“Kita mau nengok ke sana juga kadang pesawat aksesnya masih agak susah. Saya sudah koordinasi dengan Dirjen Perhubungan Udara untuk bisa ada penambahan penerbangan ke sana,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sopir Grand Max Ugal-ugalan Bawa Senjata Tajam Serang Kendaraan Lain
• 2 jam lalurealita.co
thumb
Curhat ke Media Korea: Megawati Hangestri Berjuang Hadapi Gegar Budaya, Ini Rahasia Suksesnya di Red Sparks
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Link Pendaftaran Mudik Gratis Pemprov DKI 2026, Siap-Siap Dibuka Pekan Ini
• 2 jam laludisway.id
thumb
Prabowo Cerita soal MBG, Danantara, hingga Pemberantasan Korupsi di Depan Pengusaha AS
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
MKMK Sudah Dengar Keterangan Hakim MK Adies Kadir, Bakal Gelar RPH
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.