BEKASI, KOMPAS.com – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan, keberhasilan layanan Trans Bekasi Keren (Trans Beken) sebagai transportasi publik milik Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi tidak hanya diukur dari jumlah penumpang, tetapi juga dari penilaian seluruh pihak, termasuk sopir angkutan kota (angkot).
"Surveinya itu tidak hanya kepada penumpang dan pengguna, tapi juga kepada angkot. Apa sih sebetulnya yang menjadi harapan dan keinginan mereka?" ujar Tri kepada Kompas.com, Kamis (19/2/2026).
Baca juga: Wali Kota Bekasi Buka Peluang Angkot Jadi Feeder LRT dan Trans Beken
Menurut Tri, keberhasilan sebuah program transportasi publik harus dinilai secara objektif oleh masyarakat, bukan oleh pemerintah semata.
"Kan masalah berhasil atau tidak masyarakat yang menilai, bukan saya, bukan Pemerintah," kata dia.
Ia menambahkan, tugas pemerintah adalah mendengarkan aspirasi masyarakat, termasuk terkait kebutuhan fasilitas penunjang seperti halte.
"Termasuk tadi permintaan halte. Tapi tentunya harus kemudian selaras dengan apa yang menjadi program dari SKPD," ujarnya.
Tri juga mendorong agar dinas terkait melakukan evaluasi berkala, termasuk terhadap layanan Trans Patriot maupun Trans Beken.
Menurut dia, perlu adanya survei kepuasan terkait dengan kebutuhan masyarakat agar bisa dilakukan penyempurnaan terhadap transportasi publik tersebut.
Sebelumnya, kehadiran Trans Beken mulai menjadi primadona baru bagi warga Bekasi.
Baca juga: Di Tengah Polemik Trans Beken, Dishub Bekasi Buka Opsi Tata Ulang Trayek Angkot
Layanan ini dinilai lebih aman, praktis, murah, dan nyaman dibandingkan angkot, khususnya pada rute Terminal Bekasi–Harapan Indah.
Salah seorang penumpang, Berliana (63), warga Pondok Hijau Permai, Kecamatan Rawalumbu, mengaku beralih menggunakan Trans Beken karena faktor keamanan dan kenyamanan.
"Kalau naik angkot pengamennya itu yang ganggu. Kadang-kadang kan kita enggak tahu ya, takut juga kalau mau ngasih duit, kadang kasar juga ngomongnya," ujar Berliana saat ditemui Kompas.com, Jumat (13/2/2026).
Ia menilai perjalanan dengan Trans Beken lebih praktis karena tidak perlu berganti kendaraan seperti saat menggunakan angkot.
"Kalau naik angkot itu enggak ada yang langsung sampai ke tujuan. Harus transit-transit, kadang cuma sampai Kranji. Kadang cuma sampai stasiun, jadi lebih susah. Makan waktu dan ongkosnya ya mahal banget," ujarnya.
Ia berharap layanan Trans Beken dapat terus beroperasi dan ditingkatkan kualitasnya agar masyarakat memiliki alternatif transportasi publik yang layak.
"Harapannya agar bus ini bisa teruslah dioperasikan gitu biar membantu masyarakat juga," kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




