Tempe disebut sebagai salah satu superfood yang tak hanya sehat, tetapi jadi identitas budaya. Sudah ratusan tahun tempe menjadi sumber protein dan membawanya diusulkan sebagai warisan budaya tak benda dunia.
Sejak 2024, Pemerintah Indonesia mengusulkan tempe menjadi warisan budaya tak benda (WBTB) dunia ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Pengusulannya melalui mekanisme nominasi tunggal.
Tak hanya tempe, pemerintah juga mengusulkan kolintang sebagai WBTB yang kemudian secara resmi diakui UNESCO pada Desember 2024. Kolintang menjadi WBTB ke-16 dari Indonesia. Sebelumnya, UNESCO telah mengakui wayang, keris, batik Indonesia, pendidikan dan pelatihan batik, angklung, tari saman, noken, tari Bali, pinisi, pencak silat, pantun, gamelan, jamu, reog Ponorogo, dan kebaya sebagai WBTB dunia.
Dengan demikian, jika resmi diakui, tempe akan menjadi warisan budaya Indonesia ke-17 yang diakui dunia.
Lalu, mengapa tempe?
Warisan budaya tak benda bukan bicara soal benda sebagai obyek, melainkan bagaimana benda itu menjadi tradisi yang mengakar dari generasi ke generasi. Seperti yang dipaparkan UNESCO dalam Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage pada 2003 yang menggambarkan WBTB sebagai sebuah praktik, ekspresi, representasi, pengetahuan, dan keterampilan yang diakui komunitas, kelompok, bahkan individu sebagai sebuah warisan budaya mereka.
Pengertian serupa juga tersirat dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. UU itu menjelaskan soal obyek pemajuan kebudayaan mencakup tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, hingga olahraga tradisional.
Dari pemaknaan itu, tempe sudah tepat jika diusulkan menjadi warisan budaya. Tempe di Indonesia sudah menjadi pangan andalan masyarakat Nusantara sejak abad ke-16.
Dalam buku History of Tempeh and Tempeh Products (1815–2020) karya peneliti asal Amerika Serikat, William Shurtleff, bersama istrinya, Akiko Aoyagi, disebutkan tempe pertama kali muncul dalam catatan tertulis sastra Jawa klasik pada 1815, dalam Serat Centhini.
Jilid ketiga dan kedua belas dalam Serat Centhini menggambarkan hidangan yang dibuat melalui fermentasi berkelanjutan dari tempe. Catatan bukti paling awal di luar Indonesia muncul pada tahun 1875. Menurut Shurtleff, istilah tempe tercantum dalam kamus Jawa-Belanda dan didefinisikan sebagai lauk yang dibuat dari fermentasi kedelai atau bungkil, kemudian dipanggang atau digoreng dalam bentuk kepingan pipih.
Hebatnya lagi, menurut Shurtleff, yang juga pendiri Soyinfo Center, sebuah organisasi peneliti sejarah dan pengembangan kedelai, tempe merupakan satu-satunya makanan tradisional berbasis kedelai yang tidak berasal dari China atau Jepang.
Tempe adalah pangan kedelai fermentasi yang berasal dari Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, Indonesia. Kata ”tempe” sendiri tidak berasal dari bahasa China (sebagaimana nama produk kedelai lain di Indonesia yang berasal dari dialek China dengan awalan tau atau tao seperti taoco, taoge, tahu/taohoe, dan taujiang). Kata tempe diperkirakan berasal dari bahasa Proto-Melayu Jawa, tumpi, yang berarti makanan berwarna putih yang dibuat dari tepung sagu.
Proses pembuatannya, bahan-bahan organik yang dipakai, dan bagaimana tempe selama ratusan tahun bertahan menjadi pangan andalan itulah yang menjadi alasan pemerintah mengusulkan tempe sebagai warisan budaya tak benda dunia.
Direktur Promosi Kebudayaan dari Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Undri mengatakan, lebih dari sekadar pangan, tempe mengekspresikan kearifan lokal Nusantara yang mencerminkan nilai-nilai tradisi.
Undri menjelaskan, ada beberapa tahapan yang harus dilalui dan disiapkan pemerintah dalam mendaftarkan tempe sebagai WBTB. Pemerintah harus melengkapi dossier yang merupakan dokumen komprehensif.
”Dossier itu berisi formulir nominasi, data ilmiah yang mencakup sejarah, antropologi, dan budaya dari tempe yang didaftarkan, serta bukti dukungan komunitas dan upaya pelestarian yang dijalankan,” kata Undri saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Undri mengungkapkan, saat ini proses pengusulan tempe sebagai WBTB masih di tahap melengkapi dokumen-dokumen tersebut. ”Setelah lengkap, UNESCO akan menilai apakah layak atau tidak,” ujarnya.
Undri mengatakan, pemerintah berharap pada Oktober 2026 tempe sudah resmi menjadi WBTB dunia bertepatan dengan Hari Lahir Kebudayaan pada 17 Oktober 2026.
”Kami di bagian promosi kebudayaan berencana pada 17 Oktober 2026 nanti sebagai Hari Lahir Kebudayaan. Kami akan mengaktifkan bagaimana tempe ini bisa dipromosikan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, terkhusus lagi dalam bidang pangan, khususnya bagian gastronomi Indonesia,” ungkap Undri.
Jika diakui UNESCO, lanjut Undri, tempe kemudian menjadi bagian dalam promosi kebudayaan di mana Pemerintah Indonesia berambisi menjadikan negara ini sebagai ibu kota kebudayaan dunia.
”Dalam promosi kebudayaan itu ada tiga narasi yang kita perkuat. Yang pertama adalah narasi bagaimana Indonesia itu sebagai kekuatan ibu kota kebudayaan dunia, lalu bagaimana Indonesia sebagai peradaban tertua di dunia, dan pembangunan kebudayaan menjawab masa depan,” jelasnya.
Bukan hanya budaya, tempe sebagai pangan lokal khas Nusantara merupakan pangan sehat yang mengandung nilai gizi tinggi. Tempe juga disebut sebagai pangan fungsional karena harganya terjangkau, bahkan bisa dibuat sendiri.
Dalam jurnal gizi pangan yang ditulis Okti Hajeng Kristiadi dan Arina Tri Lunggani pada 2022 disebutkan, tempe mengandung protein, lemak, karbohidrat, serat, abu, kalsium, fosfor, besi, karotin, vitamin B1, dan air. Secara rinci, peneliti dari Program Studi Bioteknologi Departemen Biologi Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro menjelaskan, tiap 100 gram tempe mengandung 18-20 gram protein.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan daging ayam, daging kambing, bahkan susu segar. Tempe juga mengandung 129 miligram kalsium, yang lebih tinggi dibandingkan ayam maupun daging kambing. Dokter dan peneliti dari Leiden University Medical Center, Universitas Leiden, Belanda, dr Eddy Wiria PhD, menjelaskan, tempe merupakan salah satu komoditas pangan lokal yang menjadi sumber protein nabati yang baik untuk tubuh.
”Konsumsi susu di Indonesia, kan, kurang. Namun, kalau bicara protein, sumbernya banyak, tempe salah satunya. Apalagi, perut orang Indonesia sebetulnya banyak yang lactose intolerance sehingga bisa cari sumber protein selain susu,” kata Eddy, yang merupakan Co-Founder dan CEO dari Kavacare, sebuah layanan dan jasa homecare profesional di Indonesia.
Tempe memiliki citra yang begitu positif di Indonesia, bahkan mulai dikenal di luar negeri. Protein kedelai yang memiliki fungsi fisiologis untuk menurunkan kolesterol, mencegah penyakit jantung, dan menurunkan lemak tubuh membuat tempe disebut sebagai salah satu superfood.





