Situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas menyusul pengerahan kekuatan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat (AS) di tengah kebuntuan negosiasi nuklir. Menanggapi ancaman tersebut, Republik Islam Iran menegaskan bahwa pengembangan nuklir mereka murni untuk tujuan damai, bukan untuk senjata pemusnah massal.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan dengan tegas bahwa negaranya tidak berniat mengembangkan senjata nuklir. Ia bahkan menyatakan kesediaan Iran untuk menyetujui pemantauan internasional guna membuktikan transparansi program tersebut.
"Bagaimana kami harus memperjelas bahwa kami tidak sedang dan tak akan mengembangkan senjata nuklir? Siapa pun yang ingin melakukan verifikasi, silakan," ungkap Pezeshkian.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, terus menjalin komunikasi intensif dengan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi. Dalam percakapan telepon terbaru pada Rabu waktu setempat, Grossi menggambarkan perkembangan negosiasi nuklir sejauh ini berlangsung positif.
Baca juga: Rusia Peringatkan Dampak Serius Jika AS Serang Iran Lagi
Meskipun jalur diplomasi masih diupayakan, Amerika Serikat justru terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut. Tercatat lebih dari 150 penerbangan kargo militer AS telah mengirimkan sistem persenjataan dan amunisi ke perairan Timur Tengah.
Ditambah kehadiran dua kapal induk, puluhan kapal perang, ratusan jet tempur dan multisistem pertahanan udara. Dalam 24 jam terakhir saja, ada tambahan 50 zat tempur termasuk F35, F22 dan F16 yang dikerahkan ke Kawasan.
Pengerahan kekuatan berskala besar ini disebut-sebut memperbesar kemungkinan Amerika menyerang Iran. Hingga kini rezim Zionis Israel masih terus mendesak Amerika Serikat untuk menyerang Iran dan mempersiapkan skenario perang. Namun, hingga saat ini, pihak Donald Trump belum mengeluarkan keputusan final terkait potensi serangan tersebut.
Menghadapi potensi agresi, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di bawah kepemimpinan Jenderal Mohammad Pakpour telah melaksanakan latihan militer di kawasan Selat Hormuz. Latihan ini menjadi sinyal kesiapan Iran dalam menjaga kedaulatan wilayahnya dari ancaman asing.




