"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
Hadis Nabi Muhammad SAW itu menggambarkan sifat tamak manusia yang tidak pernah puas. Keserakahan hanya berhenti ketika hidup berakhir. Karena itu, semua agama, keyakinan, dan ajaran spiritualitas apa pun mengajak manusia untuk sanggup mengendalikan diri.
Dalam Republic, Plato menilai keserakahan muncul ketika nafsu (appetite) menguasai akal dan keberanian. Negara yang dikuasai hasrat akan jatuh pada ketidakadilan. Keadilan akan lahir, kata Plato, ketika setiap bagian jiwa dan setiap level sosial menjalankan fungsi secara proporsional. Artinya, keserakahan bukan sekadar cacat personal, melainkan juga ancaman bagi keadilan publik.
Dalam ajaran Islam, puasa Ramadan diharapkan mampu menjadi rem bagi potensi keserakahan itu. Dengan rem yang pakem, ancaman nyata bagi keadilan publik bisa dihentikan. Puasa akan membuat setiap individu tahu batas.
Benar bahwa Ramadan selalu datang membawa dua hal sekaligus, yakni kesunyian dan kegaduhan. Sunyi di dalam diri, gaduh di luar diri. Di ruang batin, umat Islam diajak menahan lapar, dahaga, dan amarah. Di ruang publik, kita justru sering menyaksikan ironi, seperti harga kebutuhan pokok merangkak naik, konsumsi melonjak, dan hasrat belanja malah tak ikut berpuasa.
Baca Juga :
Dasco Bertemu Surya Paloh hingga Anies Baswedan di NasDem Tower: Jalin SilaturahmiDi titik itulah puasa menemukan relevansinya yang paling mendasar, yakni sebagai ikhtiar mengerem keserakahan. Puasa bukan sekadar ritual menahan makan dan minum sejak fajar hingga magrib. Ia latihan sadar untuk mengatakan 'cukup' pada dorongan yang tak pernah merasa cukup.
Dalam bahasa etika klasik, keserakahan lahir ketika hasrat mengalahkan akal sehat dan nurani. Manusia tak lagi menguasai keinginan, tetapi dikuasai olehnya. Ramadan hadir untuk membalik keadaan itu.
Ketika seseorang sanggup menahan yang halal, seperti makan, minum, dan relasi biologis, seharusnya ia lebih mampu menahan yang haram, seperti korupsi, manipulasi, eksploitasi, dan kerakusan kekuasaan. Jika yang halal saja ditahan demi ketaatan, apalagi yang jelas-jelas melanggar hukum dan etika.
Karena itu, banyak yang menyebutkan puasa ialah sekolah pengendalian diri. Ia mengajarkan hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang bisa dikumpulkan, tetapi seberapa mampu seseorang menguasai dirinya. Dalam tradisi moral, keserakahan selalu menjadi pangkal kerusakan.
Dari kerakusan lahir ketimpangan. Dari ketimpangan lahir kecemburuan sosial. Dari kecemburuan sosial tumbuh konflik. Karena itu, puasa sesungguhnya bukan hanya ibadah individual, melainkan juga pesan sosial.
Di tengah realitas ekonomi yang tidak selalu mudah, Ramadan seharusnya menjadi momen refleksi bagi para pemegang kuasa. Jangan sampai bulan suci justru menjadi musim panen bagi praktik rente, penimbunan, dan permainan harga. Tidak etis meraup keuntungan berlipat ketika masyarakat sedang berusaha khusyuk beribadah.
Ilustrasi ramadan. Foto: Medcom.id.
Puasa mengajarkan empati. Rasa lapar yang dirasakan orang berpunya ialah jembatan untuk memahami lapar yang setiap hari dirasakan mereka yang papa. Jika empati tumbuh, keserakahan menyusut. Jika empati mati, keserakahan menemukan panggungnya.
Ironisnya, di zaman serbacepat ini, keserakahan sering tampil dengan wajah rasional. Ia bersembunyi di balik dalih efisiensi, target pertumbuhan, atau persaingan pasar. Padahal, di balik angka-angka itu, ada manusia yang terdampak. Ada buruh yang upahnya ditekan. Ada konsumen yang tak punya pilihan. Ada lingkungan yang dikorbankan.
Ramadan mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk ekonomi. Ia makhluk moral. Menahan diri selama sebulan penuh ialah latihan kolektif untuk mengembalikan kendali pada nurani.
Lapar bukan untuk melemahkan tubuh, melainkan untuk menguatkan kesadaran. Dahaga bukan untuk menyiksa, melainkan untuk menyadarkan bahwa hidup memiliki batas. Dalam batas itulah martabat manusia dijaga.
Keserakahan selalu ingin melampaui batas, yakni batas hukum, batas etika, bahkan batas kemanusiaan. Puasa datang sebagai rem. Ia berkata, 'berhenti sejenak, ukur kembali, tanyakan pada diri sendiri untuk apa semua ini?'.
Baca Juga :
MUI Tak Setuju Sweeping Warung Makan di Bulan RamadanPada akhirnya, puasa bukan tentang lapar yang ditahan, melainkan tentang nafsu yang dikendalikan. Bukan tentang meja makan yang kosong pada siang hari, melainkan tentang hati yang tidak lagi dipenuhi kerakusan.
Ramadan mengajarkan satu kata yang sederhana, tetapi revolusioner, yakni 'cukup'. Dari kata 'cukup' itulah, keserakahan mulai kehilangan pijakannya.




