INFEKSI Saluran Pernapasan Akut atau yang lebih dikenal dengan ISPA masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang patut diwaspadai masyarakat. Dokter Spesialis Paru RSUD Wangaya Denpasar, dr. Ida Ayu Ika Wari Utami, menjelaskan bahwa ISPA merupakan kondisi infeksi pada saluran pernapasan yang terjadi secara akut.
Menurut Ika, pemicu utama penyakit ini didominasi oleh infeksi virus dan bakteri.
Beberapa jenis virus yang paling sering menginfeksi antara lain Rhinovirus, Coronavirus, dan virus Influenza.
Baca juga : Waspada ISPA di Musim Pancaroba: Gejala dana Cara Mengatasi
Terkait mekanismenya, ia menekankan bahwa penyakit ini sangat mudah menular melalui aktivitas sehari-hari.
“Untuk penularan ISPA itu melalui percikan air liur atau yang diistilahkan sebagai droplet, yang keluar pada saat kita bersin atau batuk,” paparnya.
Kelompok Rentan dan Faktor RisikoDalam penjelasannya, Ika menggarisbawahi bahwa ISPA tidak menyerang semua orang dengan dampak yang sama. Terdapat kelompok tertentu yang jauh lebih berisiko mengalami kondisi ini, terutama mereka dengan sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna atau sudah menurun.
Baca juga : Waspadai Fenomena Bediding, saat Batuk dan ISPA Menyerang
Anak-anak dan orang lanjut usia (lansia) merupakan kelompok yang paling rentan. Selain faktor usia, kondisi medis tertentu juga sangat berpengaruh.
Orang dengan status immunocompromised atau sistem imun rendah, seperti pasien dengan riwayat kanker atau gagal ginjal, memiliki risiko tinggi terpapar.
“Umumnya penyakit ini sangat rentan untuk usia anak-anak, lansia serta orang yang memiliki kondisi imunocompremmise,” terang Ika.
Langkah Pencegahan dan PengobatanGuna menekan risiko penularan, Ika menyarankan masyarakat untuk konsisten menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).
Hal ini mencakup rutin berolahraga, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, rajin mencuci tangan, serta selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Langkah preventif medis seperti imunisasi influenza dan *pneumococcus* juga sangat dianjurkan.
Mengenai penanganan, Ika membagi metode pengobatan berdasarkan tingkat keparahan gejala:
Gejala Ringan: Pasien disarankan untuk beristirahat total, memastikan asupan gizi dan cairan terpenuhi, serta mengonsumsi obat-obatan yang sesuai dengan keluhan, seperti obat demam, batuk, atau flu. Konsumsi vitamin juga dapat dilakukan jika diperlukan.
Gejala Sedang hingga Berat: Jika pasien mulai merasakan sesak napas atau tanda-tanda dehidrasi (terutama pada anak-anak), Ika mengimbau agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Penanganan medis secara cepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
“Dengan itu dapat diberikan obat sesuai penyebab yaitu antibiotik atau antivirus dan penangan untuk kondisi kegawatannya,” pungkasnya. (Z-1)





