Tengah malam. niatnya hanya membuka ponsel lima menit sebelum tidur. Buka Instagram, scroll tiba tiba muncul konten drama yang cukup menarik perhatian. Satu menit berlalu, satu episode selesai. “Nanggung.” Lanjut lagi. Tiga menit. Cliffhanger. Tokoh utama dikhianati. Kemudian gelap. Muncul tulisan: unlock next episode. Karena penasaran saya klik, bayar dengan koin via mobile transfer, lanjut menonton episode demi episode hingga tamat. Tanpa sadar, 1 jam berlalu.
Inilah wajah baru konsumsi cerita: microdrama atau yang sering disebut dracin, sebuah format serial vertikal berdurasi sangat pendek 1 sampai 3 menit per episode yang kini membanjiri ponsel kita melalui aplikasi seperti DramaBox, ReelShort, ShortMax, dan sejenisnya. Format ini bukan lagi sekadar tren viral, tetapi sudah menjadi industri global bernilai miliaran dolar pada 2025 dan terus tumbuh hingga 2026.
Menariknya, Indonesia termasuk pasar dengan jumlah penonton aktif yang sangat besar. Namun, dari sisi pendapatan, negara seperti Amerika Serikat justru menjadi penyumbang terbesar. Artinya, kita kuat sebagai pasar penonton, tetapi belum tentu sebagai pemain dalam monetisasi.
Sebagai pengamat budaya digital, saya melihat fenomena ini lebih dari sekadar hiburan ringan. Microdrama adalah cermin bagaimana algoritma, perhatian, dan model bisnis platform membentuk ulang bagaimana cara kita bercerita, serta cara kita membayar emosi.
Ketika Cerita Mengikuti Ritme ScrollMicrodrama meledak bukan tanpa alasan, tetapi lahir dari kebiasaan baru: budaya scroll. Kita hidup di tengah arus video pendek TikTok, Reels, Shorts. Perhatian kita dilatih untuk berpindah cepat. Dalam konteks itu, format cerita 1-3 menit terasa logis, cukup singkat untuk dikonsumsi sambil menunggu, tetapi cukup panjang untuk membuat penonton merasa “nanggung”.
Berbeda dari film dua jam atau serial 45 menit, microdrama dirancang untuk konsumsi mikro. Ia tidak menuntut komitmen panjang. Namun ia menuntut sesuatu yang lain: keterikatan instan. Struktur ceritanya sangat khas. Hook dalam tiga detik pertama, konflik meledak di menit awal, dramatisasi ekstrem, dan yang paling penting adalah cliffhanger di hampir setiap akhir episode.
Format ini tentu bukan sekadar kebetulan kreatif. Ia lahir dari pembacaan data perilaku pengguna. Algoritma mempelajari kapan kita berhenti menonton, kapan kita mengulang, kapan kita membayar. Dari situ pola cerita pun ikut menyesuaikan. Pertanyaannya: apakah ini bentuk evolusi storytelling yang adaptif terhadap zaman atau kita sedang menulis cerita bukan untuk manusia, tetapi untuk algoritma?
Membayar Emosi, Episode demi EpisodeJika struktur cerita mengikuti logika algoritma, model bisnisnya terasa mirip logika mobile game. Microdrama umumnya menggunakan model freemium. Beberapa episode awal gratis, setelah itu paywall. Penonton bisa membeli koin untuk membuka episode berikutnya, atau menonton iklan untuk mendapatkan akses terbatas.
Berbeda dari Netflix yang berbasis langganan bulanan, microdrama bekerja dengan microtransaction. Kita tidak membayar untuk satu paket besar, tetapi untuk potongan-potongan kecil cerita. Kita membayar untuk rasa penasaran. Membayar untuk menghilangkan perasaan “nanggung”.
Di era di mana perhatian menjadi rebutan, pola ini terasa logis. Kita tidak lagi sekadar membayar konten, tetapi membayar kelanjutan emosi. Membayar untuk tahu apakah tokoh utama selamat. Membayar untuk melihat apakah yang jahat mendapat balasan setimpal. Membayar untuk sebuah resolusi.
Di satu sisi, model ini membuka akses. Tidak perlu komitmen bulanan atau biaya besar di awal. Namun di sisi lain, ia memecah konsumsi menjadi unit-unit kecil yang dalam akumulasi justru bisa lebih besar. Di titik inilah pertanyaan muncul : apakah microdrama benar benar mendemokratisasi hiburan, atau justru mengemas emosi menjadi komoditas yang dijual secara lebih agresif?
Indonesia: Pasar Besar, Pemain Kecil?Data industri 2025-2026 menunjukkan microdrama menjadi sektor bernilai miliaran dolar secara global. TikTok bahkan mulai masuk dengan kanal mini series, pertanda bahwa format ini bukan lagi sekadar sebagai format pinggiran.
Indonesia berada di posisi menarik. Dan sedikit paradoksal. Dari sisi jumlah pengguna, kita termasuk yang terbesar. Namun dari sisi produksi dan monetisasi, pemain luar masih mendominasi.Artinya kita besar sebagai penonton, tapi belum tentu sebagai produsen.
Ada dua kemungkinan yang terbuka. Pertama, Indonesia hanya menjadi pasar konsumsi. Kita menonton, membayar, dan menyumbang data perilaku, sementara IP dan keuntungan utama tetap berada di luar negeri. Kedua, microdrama bisa menjadi laboratorium IP baru bagi kreator local. Formatnya cepat, biaya produksinya relatif lebih rendah, dan respons penonton bisa dibaca hamper secara real-time. Ia bisa menjadi inkubator cerita sebelum naik kelas menjadi web series atau film layar lebar. Pertanyaannya sederhana, tetapi krusial : apakah kreator lokal akan diberi ruang dan dukungan untuk masuk ke ekosistem ini?
Di titik inilah kebijakan industri kreatif menjadi relevan. Jika tidak serius mendorong ekonomi kreatif digital, microdrama tidak bisa diperlakukan sebagai tren sesaat. Dukungan produksi lokal, pelatihan penulisan format vertikal, hingga transparansi model monetisasi perlu dipikirkan secara konkret. Jika tidak, kita hanya bisa menjadi pasar yang ramai, bukan pemain yang bisa menentukan arah.
Evolusi atau Reduksi?Microdrama bisa dibaca sebagai adaptasi cerdas terhadap zaman. Ia ringkas, responsif, dan sangat mobile-first. Ia memberi ruang bagi kreator baru dengan biaya produksi yang lebih terjangkau. Namun ada sisi lain yang perlu kita cermati. Jika semua cerita harus dramatis dalam tiga detik dan berakhir dengan cliffhanger, apakah kedalaman masih punya ruang? Sinema dan televisi dahulu memberi ruang pada jeda, pada dialog panjang, pada pengembangan karakter yang perlahan. Microdrama mempercepat semuanya. Emosi dipadatkan. Konflik dipadatkan. Bahkan cinta dan pengkhianatan dipadatkan. Apakah ini masa depan? Mungkin iya. Tetapi masa depan seperti apa?
Pada akhirnya, microdrama bukan sekadar format baru. Ia adalah contoh paling nyata bagaimana platform dan algoritma menjadi editor tak terlihat dalam proses kreatif. Yang diproduksi adalah yang paling mungkin ditonton. Yang ditonton adalah yang paling mungkin memicu respons cepat. Dan yang memicu respons cepat adalah yang paling sesuai dengan logika distribusi perhatian.
Microdrama mungkin bukan ancaman bagi film atau serial panjang. Ia bisa menjadi pelengkap, bahkan bisa menjadi pintu masuk IP baru. Tetapi satu pertanyaan lain perlu kita simpan bersama: ketika cerita semakin disesuaikan dengan ritme mesin, apakah kita masih mengendalikan imajinasi kita sendiri, atau perlahan membiarkannya dikurasi oleh algoritma? Karena di era scroll, bukan hanya waktu kita yang diperebutkan. Imajinasi kita juga.





