Dengan Program Subsidi, Amerika Serikat (AS) Mau Lawan Dominasi Smartphone China di Indo-Pasifik

wartaekonomi.co.id
6 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat meluncurkan program subsidi untuk mendorong peredaran smartphone murah berbasis perangkat lunaknya di Indo-Pasifik. Hal ini dilakukan untuk memperkuat rantai pasok kecerdasan buatan (AI) dan menandingi pengaruh teknologi dari China.

United States Department of State mengatakan bahwa inisiatif ini dilakukan melalui paket bernama Edge AI. Pihaknya menyediakan pendanaan hingga US$200 juta bagi operator jaringan seluler dan produsen ponsel untuk menghadirkan perangkat berbiaya rendah namun berkinerja tinggi dalam sejumlah negara mitra di Indo-Pasifik.

Baca Juga: Disebut Lakukan Uji Coba Senjata Nuklir, Rusia-China Kompak Jawab Tuduhan AS

Amerika Serikat (AS) menyebut ponsel yang disubsidi harus menggunakan sistem operasi seluler tepercaya buatan Amerika Serikat. Ia juga harus mendukung penuh ekosistem perangkat lunak dan akal imitasi dari AS.

Perusahaan yang bergabung dalam program ini diminta menggunakan dana tersebut untuk menurunkan harga jual ritel smartphone hingga mampu bersaing dengan produk-produk murah dari pemain pasar yang dianggap tidak tepercaya.

Kebijakan ini diperkirakan akan mengguncang keunggulan smartphone dari China. Xiaomi, Oppo, hingga Vivo,yang selama ini mendominasi segmen ponsel terjangkau diperkirakan akan menghadapi tekanan dari program tersebut.

Meski demikian, masih perlu waktu untuk melihat apakah inisiatif ini mampu menahan laju ekspansi vendor dari China di Asia-Pasifik.

Baca Juga: PBB Disurati, Iran Siap Meladeni Serangan Amerika Serikat (AS)

Kebijakan ini juga muncul di tengah memanasnya persaingan akal imitasi antara China dan Amerika Serikat (AS). Meski tidak disebutkan, kedua negara tengah bersaing memperebutkan pasar global.

Dunia baru-baru ini dikejutkan dengan pembatasan ekspor mineral tanah jarang oleh China. Hal tersebut membuat banyak pihak berupaya mengurangi ketergantungan pada rantai pasok yang dianggap rentan, termasuk AS.

Baca Juga: Purbaya Siap Terbang ke China Buat Negosiasi Utang Kereta Cepat

AS dalam responsnya meluncurkan inisiatif bernama Pax Silica. Ia dirancang untuk membangun ekosistem teknologi yang dipimpinnya, mencakup mineral kritis, energi, semikonduktor dan infrastruktur akal imitasi agar terhindar dari ketergantungan strategis yang bersifat koersif.

Baca Juga: Kecurigaan Zelenskiy Terbukti, Intelijen Eropa Sebut Rusia Tak Ingin Cepat Berdamai Dengan Ukraina

Negara peserta program ini antara lain Australia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Uni Emirat Arab, Israel, Qatar, Yunani dan Inggris. Sementara itu, Kanada, Uni Eropa, Belanda hingga Taiwan terlibat sebagai partisipan non-penandatangan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sejarah dan Tradisi Festival Kuil Warnai Perayaan Tahun Baru Imlek di China
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Pesulap Merah Ungkap Ratu Rizky Nabila Sempat Keguguran
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Begini Kronologi Jatuhnya Pesawat Pelita Air di Nunukan
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Pujian Lengkap Trump ke Prabowo di Meeting Perdana Board of Peace AS
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 20 Februari Naik Jadi Rp2,541 Juta per Gram, Buyback Rp2,59 Juta
• 8 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.