Saat perayaan Tahun Baru Imlek di Tiongkok, banyak pemilik mobil listrik yang mudik mengeluhkan berbagai kendala. Harga pengisian daya di jalan tol melonjak, sementara daya tempuh kendaraan listrik menyusut drastis. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam satu hari satu malam, kini memakan waktu hingga tiga hari dan belum juga sampai tujuan.
EtIndonesia. Baru-baru ini, sebuah video di platform Toutiao menjadi viral. Seorang warganet perempuan mengeluhkan bahwa ia bersama keluarganya mengendarai mobil listrik dari Zhejiang menuju Guizhou, menempuh jarak sekitar 1.800 kilometer. Namun setelah tiga hari perjalanan, mereka masih belum tiba di kampung halaman. Sepanjang perjalanan, mereka sudah mengisi daya sebanyak 12 kali, dengan total biaya pengisian dan tol mencapai 2.000 yuan. Dalam video tersebut, sang perempuan berkali-kali berteriak, “Saya benar-benar hampir gila!”
Kolom komentar pun langsung ramai. Ada yang menyindir, “1.800 dibagi 12 sama dengan 150 kilometer sekali cas. Itu mobil listrik atau sepeda listrik kecil?” Ada pula pengemudi senior dengan pengalaman 30 tahun yang berkomentar, “Kecuali seluruh negeri sudah tidak menjual mobil bensin lagi, walau mobil listrik didiskon 70 persen pun saya tidak akan membelinya.”
Sejumlah pemilik mobil berbahan bakar bensin juga membandingkan pengalaman mereka. “Dari Beijing ke Yulin sejauh 1.022 kilometer, cukup isi bensin dua kali dan 8 jam sudah sampai. Untuk 1.800 kilometer, satu hari satu malam pasti bisa tiba. Mobil listrik memang terlalu lambat,” tulis seorang warganet.
Ada juga komentar bernada humor, “Sebenarnya mobil listrik punya satu kelebihan, hampir tidak ada yang mengalami kelelahan berkendara karena terlalu sering berhenti untuk cas.”
Seorang pemilik kendaraan berpengalaman menyarankan, perjalanan jarak jauh sebaiknya menggunakan mobil bensin. Mobil listrik dinilai kurang cocok untuk perjalanan lebih dari 500 kilometer, terutama di musim dingin. Ia bahkan menyebutkan wilayah seperti Heilongjiang, Jilin, Liaoning, Mongolia Dalam, Xinjiang, Tibet, dan kawasan barat laut lainnya sebagai daerah yang bisa memberikan “pengalaman tak terduga” bagi pengguna mobil listrik di musim dingin. Menurutnya, mobil listrik lebih cocok untuk perjalanan jarak pendek dan wilayah dengan suhu di atas nol derajat Celsius.
Pengalaman warganet yang mudik tersebut ternyata bukan kasus tunggal. Banyak pengguna mobil listrik lainnya juga mengeluhkan frekuensi pengisian daya yang terlalu sering serta biaya yang tinggi.
Dalam sejumlah video yang beredar, ada pemilik mobil yang mengeluhkan tarif pengisian daya di jalan tol mencapai 3 yuan per kWh. Sekali pengisian penuh bisa menghabiskan 200 yuan, bahkan disebut lebih mahal dibandingkan mobil bensin.
Pemilik lain menyebut tarif 1,8 yuan per kWh di jalan tol, dengan perjalanan lebih dari 2.000 kilometer menghabiskan lebih dari 1.000 yuan untuk listrik saja dan memakan waktu tiga hari. Ia menyimpulkan bahwa menggunakan mobil listrik di jalan tol tidaklah ekonomis.
Masalah lain yang banyak dikeluhkan adalah penurunan daya tempuh secara signifikan. Seorang pemilik mobil Li Auto mengungkapkan bahwa setelah mengisi daya hingga 100 persen, mobilnya bahkan tidak mampu menempuh 80 kilometer sebelum baterai utama habis total.
Pengguna mobil T03 juga mengeluhkan bahwa pada suhu minus 21 derajat Celsius, daya tempuh kendaraan turun drastis. Meskipun indikator menunjukkan 80 persen baterai (sekitar 230 kilometer), setelah menempuh 60 kilometer di jalan tol, sisa daya tinggal 27 persen. Bahkan pemilik Tesla menyebutkan, meskipun spesifikasi menyatakan jarak tempuh 400 kilometer, pada praktiknya setelah 300 kilometer saja sudah mulai merasa cemas.
Banyak warganet menyatakan bahwa perjalanan jauh dengan mobil listrik di jalan tol membutuhkan terlalu banyak pengisian daya dan sangat memakan waktu. Ada yang menempuh 1.100 kilometer dari Zhejiang ke Hunan dengan tujuh kali pengisian daya, di mana sekali pengisian menghabiskan 80 hingga 90 yuan. Ada pula yang menempuh 2.000 kilometer dengan hampir 20 kali pengisian daya dan baru tiba setelah tiga hari.
Selain itu, penggunaan mobil listrik dalam cuaca ekstrem juga menimbulkan risiko keselamatan. Ada pengemudi yang terjebak di jalan tol saat hujan salju lebat dan tidak berani menyalakan pemanas karena baterai hampir habis, sehingga harus menahan dingin di dalam mobil.
Beberapa pemilik juga menyebutkan bahwa sebagian stasiun pengisian daya menyarankan “pengemudi dan kendaraan terpisah” demi menghindari risiko kebakaran spontan. Artinya, pada suhu minus 20 derajat, pengemudi harus berdiri di luar kendaraan dalam angin dingin selama puluhan menit hingga pengisian selesai.
Bagi pengguna mobil listrik yang tetap ingin mudik, pengemudi berpengalaman menyarankan agar menjaga kecepatan sekitar 100 km/jam dan berkendara di lajur tengah untuk menghemat daya. Jika memacu kendaraan hingga 120 km/jam sesuai batas maksimal, konsumsi daya akan meningkat drastis dan hasilnya sangat tidak efisien.
Setelah mengalami berbagai kesulitan tersebut, sejumlah pemilik kendaraan menyatakan kekecewaannya. “Ke depan saya tidak akan membeli mobil listrik lagi,” tulis seorang warganet. Yang lain menambahkan, “Mobil listrik memang tidak layak untuk perjalanan jauh. Kalau pun membeli, jangan pernah dipakai untuk jarak jauh.” (jhon)
Sumber : NTDTV.com





