Kesepakatan Dagang Diteken, RI Bakal Hapus Pembatasan Ekspor Mineral ke AS

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia disebut akan menghapus pembatasan ekspor mineral kritis ke Amerika Serikat (AS). Hal ini seiring dengan ditekennya kesepakatan dagang antara kedua negara.

Upaya menghapus pembatasan ekspor mineral kritis ini merupakan salah satu poin perjanjian perdagangan timbal balik antara Indonesia dan AS yang ditandatangani pada Jumat (20/2/2026).

Proses penandatanganan itu dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer.

Namun, sejauh ini tidak dijelaskan pula berapa tarif yang berlaku antara Indonesia dengan AS pascapenandatanganan kesepakatan dagang tersebut.

Adapun, pemerintah Indonesia sebelumnya telah memastikan AS telah menurunkan tarif impor menjadi 19% bagi produk-produk asal Indonesia.

Sementara itu, dalam dokumen 'Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Amerika Serikat-Indonesia' yang ditandatangani pada hari ini, beberapa poin kesepakatan dagang kedua negara turut membahas mengenai mineral kritis.

Dalam dokumen itu disebutkan bahwa Indonesia akan menghapus pembatasan ekspor mineral kritis.

"Untuk memperkuat konektivitas rantai pasokan antara Para Pihak, Indonesia akan menghapus pembatasan ekspor komoditas industri ke Amerika Serikat, termasuk mineral kritis," tulis dokumen itu.

Tak dijelaskan secara rinci maksud dari penghapusan pembatasan ekspor mineral kritis ini. Artinya, belum jelas apakah Indonesia ke depan akan mengizinkan ekspor mineral mentah atau tidak.

Adapun, sejumlah komoditas yang tergolong dalam klasifikasi mineral kritis sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 296.K/MB.01/MEM.B/2023, antara lain nikel, tembaga, aluminium, timah, magnesium, mangan, kobalt, dan masih banyak lagi.

Lebih lanjut, Indonesia dan AS akan mengintensifkan upaya kerja sama untuk mempercepat pasokan mineral kritis yang aman, termasuk unsur tanah jarang.

Indonesia, tulis dokumen itu, akan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan AS dalam penambangan, pengolahan, dan produksi hilir mineral kritis berdasarkan pertimbangan komersial.

"Untuk tujuan ini, Indonesia akan bekerja sama dalam pengembangan sektor unsur tanah jarang dan mineral kritisnya secara cepat dalam kemitraan dengan perusahaan-perusahaan AS untuk memastikan rantai pasokan yang aman dan terdiversifikasi," tulis dokumen itu.

Selain itu, Indonesia akan memberikan kepastian yang lebih besar bagi perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam ekstraksi mineral kritis, menciptakan kepastian bagi bisnis untuk meningkatkan kapasitas produksi, dan mendukung pertumbuhan operasional.

Di samping itu, Indonesia dan AS berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama dan keterlibatan dalam rantai pasokan mineral kritis.

Di sisi lain, Indonesia akan menerapkan pembatasan terhadap kelebihan produksi fasilitas pengolahan milik asing dengan memastikan bahwa produksi sesuai dengan kuota penambangan.

Lalu, Indonesia juga akan memastikan bahwa kawasan industri dan fasilitas pengolahan milik asing tunduk pada persyaratan pajak, lingkungan, ketenagakerjaan, kuota, dan persyaratan hukum lainnya yang sama seperti perusahaan dan entitas lainnya.

Baca Juga

  • Imbas Perundingan Tarif AS, RI Bakal Tingkatkan Pengawasan Ekspor Mineral Kritis Cs
  • ESDM Pastikan RI Tak Akan Ekspor Mineral Mentah ke AS
  • Isu Pencabutan Larangan Ekspor Mineral Kritis ke AS, Ini Respons Airlangga Hartarto

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prediksi Pemain Lille vs Red Star Belgrade, Tayang Jam Berapa, Live Streaming di Mana?
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Airlangga Pastikan Deal Dagang RI-AS Kelar, Perjanjian Senilai US$38,4 Miliar Disepakati
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kapolres Bima Kota dan Istri Kompak Pakai Narkoba, AKBP Didik Putra Kuncoro Bahkan Sudah Kecanduan Sejak...
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
IHSG Dibuka Menghijau, Bursa Asia Menguat Imbas Rally Saham Teknologi di Wall Street
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Serangan Drone Ukraina Hantam Kilang Minyak Rusia, Picu Kebakaran
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.