Jenewa Gagal, Rudal Siaga: Timur Tengah di Ambang Perang Besar

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada 17 Februari, Amerika Serikat dan Iran menggelar putaran lanjutan perundingan di Jenewa, Swiss. Namun hanya sehari kemudian, pada 18 Februari, media Amerika Axios menerbitkan analisis yang menyebut bahwa kemungkinan konflik bersenjata antara kedua negara kini lebih dekat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Laporan tersebut menyoroti fakta bahwa di tengah jalur diplomasi yang masih terbuka, Washington justru memperkuat postur militernya secara signifikan di kawasan Timur Tengah.

Pengerahan Besar-besaran Militer AS

Menurut laporan yang beredar pada 18 Februari, Amerika Serikat telah mengerahkan:

Selain itu, dalam beberapa jam terakhir menjelang 18 Februari, terpantau pemindahan besar-besaran pesawat pengisian bahan bakar udara dan pesawat peringatan dini dari pangkalan di Eropa menuju pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Dua pesawat tanker KC-135 dilaporkan lepas landas dari RAF Lakenheath, Inggris, dikawal jet tempur F-15E Strike Eagle dalam dua gelombang terpisah. Pangkalan tersebut diketahui menampung lebih dari 30 unit F-15 yang diperkirakan akan dikerahkan sepenuhnya apabila konflik benar-benar pecah.

Sebelumnya, enam jet tempur siluman F-22 juga dilaporkan terbang dari Pangkalan Angkatan Udara Langley di Amerika menuju Inggris, dengan dukungan pengisian bahan bakar udara. Dalam kurun waktu singkat, tercatat pula 22 pesawat tanker KC-135 dan KC-46, 13 pesawat angkut C-17 dan C-5, serta satu pesawat peringatan dini E-3 bergerak dari Amerika menuju Eropa.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebutkan bahwa skenario yang dipertimbangkan bukan sekadar serangan terbatas, melainkan operasi militer berskala besar yang dapat berlangsung beberapa minggu hingga lebih dari satu bulan. Kemungkinan keterlibatan Israel juga disebut terbuka.

Pernyataan Politik: Diplomasi di Ujung Batas

Pada Selasa, 18 Februari, Wakil Presiden AS, JD Vance, dalam wawancara dengan Fox News menyatakan bahwa meskipun putaran kedua perundingan di Jenewa berjalan cukup baik dalam beberapa aspek, masih terdapat “garis merah” yang belum diterima oleh Iran.

Dia menegaskan bahwa prioritas utama Washington adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan bahwa seluruh opsi tetap terbuka. Pemerintah berharap jalur diplomasi tetap bertahan, tetapi keputusan akhir berada di tangan presiden.

Sementara itu, pada 17 Februari, stasiun televisi Israel N12 melaporkan bahwa Gedung Putih telah memberi tahu Israel bahwa negosiasi mengalami kebuntuan karena Iran tidak menerima syarat yang diajukan Presiden Donald Trump.

Israel Siaga Tinggi

Di Israel, situasi juga berkembang cepat. Pada 18 Februari, Komandan Komando Front Dalam Negeri Israel, Mayor Jenderal Rafi Milo, dijadwalkan memberikan pengarahan tertutup kepada Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset.

Fokus pembahasan adalah kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan serangan rudal dan drone dari Iran atau proksinya. Sumber-sumber Israel memperkirakan perang bisa pecah dalam hitungan hari, meskipun sebagian pejabat AS menilai masih ada kemungkinan jeda beberapa minggu.

Respons Iran: Latihan Gabungan dengan Rusia

Sebagai respons terhadap pengerahan besar AS, Iran dan Rusia mengumumkan akan menggelar latihan angkatan laut gabungan pada 19 Februari di Teluk Oman dan bagian utara Samudra Hindia.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal strategis langsung terhadap kehadiran armada AS di kawasan. Sebelumnya, Iran juga sempat mengumumkan pembatasan sementara aktivitas di Selat Hormuz dengan alasan keamanan—jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Waktu dan lokasi latihan tersebut dinilai provokatif karena memperluas area operasi hingga mendekati jalur laut vital, berhadapan langsung dengan kekuatan militer Amerika.

Skenario Terburuk: Operasi Militer Modern Berskala Besar

Beberapa analis menyebut bahwa jika serangan udara benar-benar diluncurkan, operasi tersebut berpotensi menjadi salah satu yang paling canggih secara teknologi dalam sejarah modern.

Targetnya tidak hanya fasilitas nuklir atau instalasi militer, tetapi kemungkinan juga pusat komando dan struktur kepemimpinan strategis Iran. Spekulasi berkembang bahwa operasi khusus, intelijen, hingga sabotase darat dapat dilibatkan untuk mengidentifikasi dan menetralkan target bernilai tinggi.

Strategi “Tekanan Maksimum” Versi Baru?

Sejumlah pengamat menilai dinamika ini mencerminkan strategi “menggunakan kekuatan untuk mendorong negosiasi”. Dengan kata lain, pengerahan militer masif dimaksudkan sebagai alat tekan agar Teheran menerima syarat yang sebelumnya ditolak.

Namun risiko dari strategi ini sangat tinggi. Kesalahan perhitungan sekecil apa pun—misalnya insiden di Selat Hormuz atau salah tafsir atas latihan militer—dapat memicu eskalasi tak terkendali.

Dunia Menunggu Titik Balik

Per 19 Februari, situasi masih berada di antara dua kemungkinan: diplomasi yang tersisa atau konfrontasi terbuka.

Jika jalur negosiasi gagal dan serangan benar-benar diluncurkan, konflik ini bukan hanya akan mengguncang Timur Tengah, tetapi juga pasar energi global, stabilitas keamanan internasional, serta keseimbangan kekuatan antara blok Barat dan poros Rusia–Iran.

Untuk saat ini, dunia menahan napas—menunggu apakah minggu-minggu ke depan akan mencatatkan kesepakatan diplomatik… atau justru awal dari perang baru berskala besar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
7 Cara Pantau Banjir Jakarta Hari Ini Gratis, Cek Genangan Real Time dan Akurat
• 11 jam laludisway.id
thumb
Sikap Shayne Pattynama Tanggapi Persaingan Ketat di Pos Bek Kiri Timnas Indonesia: Singgung Kualitas Calvin Verdonk
• 2 jam lalubola.com
thumb
Krimea Diguncang Ledakan Saat Lapangan Udara Strategis Diserang
• 1 jam laluerabaru.net
thumb
Bareskrim Geledah Toko Emas di Surabaya, Usut Pencucian Uang Tambang Ilegal
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Ibadah Unggulan Ramadhan, Mengubah Sedekah Sesaat Menjadi Wakaf Abadi
• 11 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.