BI: Defisit Transaksi Berjalan Susut, Neraca Pembayaran Minus US$7,8 Miliar

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa defisit transaksi berjalan defisit transaksi berjalan mengalami penyusutan, sementara defisit neraca pembayaran Indonesia menembus US$7,8 miliar selama tahun 2025.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan transaksi berjalan mengalami defisit US$2,5 miliar atau setara dengan 0,7% dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal IV/2025.

Angka tersebut memburuk dari realisasi transaksi berjalan kuartal III/2025 yang masih mencatat surplus US$4 miliar atau setara 1,1% dari PDB.

"Transaksi berjalan mencatat defisit yang rendah ditopang oleh berlanjutnya surplus neraca perdagangan barang di tengah neraca jasa dan pendapatan primer yang mengalami defisit," kata Denny dalam keterangannya, Jumat (20/2/2026).

Dia menjelaskan bahwa neraca transaksi berjalan itu dipengaruhi oleh defisit perdagangan migas yang lebih tinggi (dari US$4,9 miliar menjadi US$57 miliar) per kuartalan sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi domestik. Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas tercatat lebih rendah (dari US$21 miliar menjadi US$15,9 miliar).

Sementara sepanjang 2025, transaksi berjalan mencatat defisit sebesar US$1,5 miliar atau setara 0,1% dari PDB. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan defisit sepanjang 2024 sebesar US$8,6 miliar atau setara 0,6% dari PDB.

Baca Juga

  • Sinyal Risiko Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan dari BI, Begini Prospek Ekonomi RI hingga 2027
  • Defisit Transaksi Berjalan Melebar, Ketahanan Eksternal RI Masih Aman?
  • Proyeksi BI: Defisit Transaksi Berjalan 0,5% - 1% PDB Tahun Ini

Lebih lanjut, Denny menjelaskan defisit neraca jasa turut meninggi (dari US$4,4 miliar menjadi US$4,9 miliar) perkuartalan, didorong oleh penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Begitu juga defisit neraca pendapatan primer meningkat (dari US$9,4 miliar ke US$9,6 miliar), dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran dividen di akhir tahun.

"Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder meningkat [dari US$1,7 miliar menjadi US$1,8 miliar] dipengaruhi oleh kenaikan remitansi Pekerja Migran Indonesia [PMI]," lanjut Denny.

Sementara itu, neraca transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar US$8,3 miliar, setelah pada kuartal III/2025 mencatatkan defisit sebesar US$8,0 miliar. 

Dengan perkembangan tersebut, neraca pembayaran Indonesia surplus sebesar US$6,1 miliar. BI memproyeksikan neraca pembayaran masih tetap baik pada 2026, dengan transaksi berjalan ada di kisaran defisit 0,9% sampai dengan 0,1% dari PDB.

Sementara itu untuk keseluruhan tahun 2025, defisit neraca pembayaran Indonesia tembus US$7,8 miliar setelah pada tahun 2024 surplus US$7,2 miliar.

"Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek neraca pembayaran Indonesia dan terus memperkuat respons bauran kebijakan, didukung sinergi kebijakan yang erat dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memperkuat ketahanan eksternal," tutup Denny.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Program MBG Sebagai Momentum Penting Perkuat Kesadaran Gizi Sejak Dini
• 9 jam lalueranasional.com
thumb
BI Tahan Suku Bunga 4,75%, Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas di Tengah Tekanan Global
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Identitas Korban Tewas Kecelakaan Truk di Sidoarjo, Warga Sampang
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Kapolda Riau Cek Jembatan Gantung di Kuansing: Demi Keselamatan Anak Sekolah
• 1 jam laludetik.com
thumb
KPK Ungkap Alasan Bos Maktour Fuad Hasan Masyhur Tak Dicegah ke Luar Negeri Lagi
• 21 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.