Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa mengatakan langkah tersebut menegaskan bank sentral masih memprioritaskan stabilitas nilai tukar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Baca juga: Tukar Uang Lebaran, Pemesanan di Aplikasi PINTAR BI Mulai Hari Ini! Simak Cara Pesannya
Hingga pertengahan Februari, rupiah tercatat melemah sekitar 0,6 persen secara month-to-date (MTD) ke level Rp16.880 per dolar AS, lebih dalam dibandingkan pelemahan mata uang regional yang rata-rata hanya 0,1 persen.
BI juga menilai rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued. Artinya, pelemahan yang terjadi dinilai belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi domestik.
Selain menjaga stabilitas nilai tukar, BI menegaskan fokusnya pada penguatan transmisi kebijakan moneter ke sektor perbankan. Meski suku bunga acuan telah dipangkas total 125 basis poin sejak 2025, penurunan suku bunga perbankan dinilai belum optimal.
Data Januari 2026 menunjukkan suku bunga deposito baru turun sekitar 60 basis poin, sementara suku bunga kredit turun 40 basis poin. Artinya, transmisi pelonggaran moneter ke sektor riil masih berlangsung secara bertahap.
Kondisi ini menjadi perhatian BI mengingat likuiditas perbankan sebenarnya cukup longgar. Dana pihak ketiga tumbuh 13,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), sedangkan kredit meningkat 9,96 persen YoY.
Untuk memperkuat intermediasi, BI menegaskan komitmen mempercepat efektivitas pelonggaran makroprudensial melalui Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI). Program ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan kredit, khususnya di segmen konsumsi dan UMKM yang masih relatif lemah. Dua Faktor Tekan Rupiah Tekanan terhadap rupiah saat ini dinilai berasal dari kombinasi faktor global dan domestik.
Dari sisi global, ketidakpastian terkait kebijakan tarif Presiden AS kembali memicu sentimen risk-off di pasar keuangan.
Kondisi ini mendorong permintaan aset safe haven seperti emas, yang telah melonjak hampir 14 persen sejak awal tahun. Penguatan dolar AS dan volatilitas eksternal turut memberi tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Sementara dari dalam negeri, terdapat kekhawatiran terkait kredibilitas kebijakan dan tata kelola yang memengaruhi persepsi investor. Hal ini tercermin dari premi risiko Indonesia yang tercermin dalam credit default swap (CDS) tenor lima tahun yang kembali berada di atas 80 basis poin.
Selain itu, permintaan impor musiman menjelang Idulfitri, terutama untuk minyak dan barang konsumsi, ikut menambah tekanan pada neraca transaksi berjalan dan nilai tukar. Ruang Pemangkasan Suku Bunga Terbatas Melihat dinamika tersebut, ruang pelonggaran moneter BI tahun ini dinilai terbatas, terutama pada semester pertama 2026. Risiko inflasi dan tekanan nilai tukar menjadi pertimbangan utama.
Di sisi lain, ketidakpastian arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) juga masih membayangi pasar global. Perbedaan pandangan di antara pejabat bank sentral AS serta sikap ketua baru The Fed membuat volatilitas eksternal tetap tinggi.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, BI diperkirakan hanya memiliki ruang untuk dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini. Fokus utama bank sentral tampaknya bukan lagi pada agresivitas pelonggaran, melainkan pada efektivitas transmisi kebijakan agar kredit dan aktivitas ekonomi dapat tumbuh lebih optimal.
Secara keseluruhan, kebijakan BI saat ini mencerminkan sikap hati-hati: menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





