SEMARANG, KOMPAS.TV - Di tengah aktivitas perdagangan dan deretan toko di kawasan Pecinan Kota Semarang, berdiri sebuah bangunan masjid yang menjadi simbol toleransi nyata. Kami ajak Anda untuk menilik seperti apa bangunan Masjid An-Nur yang dulu disebut sempat menjadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro.
Masjid An-Nur Diponegoro, sebuah masjid tua di tengah gang sempit kompleks Pecinan, konon sempat menjadi tempat singgah dan persembunyian Pangeran Diponegoro pada masa penjajahan. Meski berada di jantung permukiman warga etnis Tionghoa, keberadaannya justru menjadi bukti betapa eratnya akulturasi budaya di Kota Semarang.
Tidak ada sekat antara suara azan dan bising suara pasar tradisional di sekelilingnya. Warga sekitar yang mayoritas nonmuslim sudah berpuluh-puluh tahun hidup berdampingan dengan rukun dan saling menjaga.
Bagi para pengunjung yang melintas, masjid ini seolah menjadi ketenangan di tengah padatnya aktivitas ekonomi. Arsitekturnya yang sederhana namun kokoh menyimpan cerita tentang semangat persatuan yang tak pernah padam dimakan zaman.
Meski sempat dipugar beberapa kali, bagian atap masjid ini masih dipertahankan keasliannya hingga kini. Pemerintah Kota Semarang juga secara resmi telah menetapkan Masjid An-Nur Diponegoro sebagai benda cagar budaya sejak tahun 1992.
#diponegoro #semarang #masjid
Penulis : kharismaningtyas
Sumber : Kompas TV
- masjid an-nur diponegoro
- pecinan semarang
- kota semarang
- pangeran diponegoro
- toleransi beragama
- akulturasi budaya





