VIVA – Ada yang unik dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdana Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) yang digelar di Washington DC, Kamis, 19 Februari 2026. Selain dihadiri puluhan kepala negara, dewan bentukan Presiden AS Donald Trump juga dihadiri Presiden FIFA Gianni Infantino.
Kehadiran bos FIFA di forum Board of Peace itu sekaligus mengumumkan "kemitraan sejati" antara badan sepak bola dunia dan Board of Peace, dengan rencana proyek infrastruktur sepak bola berskala besar di Jalur Gaza yang ditujukan untuk membangun kembali komunitas melalui olahraga.
Menggambarkan sepak bola sebagai kekuatan global yang menyatukan, Infantino dalam pertemuan perdana Dewan Keamanan di Washington, DC mengatakan, "Poin pertama: sepak bola, atau soccer seperti disebut di sini, adalah bahasa universal dunia. Bahasa ini digunakan oleh 6 miliar orang, 6 miliar penggemar yang memiliki perasaan yang sama."
"Ini tentang harapan, tentang kegembiraan, tentang kebahagiaan. Ini tentang kebersamaan dan tentang menyatukan dunia. Kita akan menyatukan dunia di sini musim panas ini selama Piala Dunia," tambahnya.
Infantino menekankan bahwa perdamaian penting untuk mewujudkan persatuan tersebut, dengan mengumumkan "kemitraan sejati antara Dewan Perdamaian dan FIFA."
"Saya sangat bangga dan sangat senang mengumumkan ini," ujarnya, seraya menambahkan bahwa setelah mendengar presentasi pada World Economic Forum (WEF/Forum Ekonomi Dunia) di Davos, Swiss, "kita perlu membantu. Kita perlu melakukan sesuatu."
Infantino menyatakan kontribusi FIFA tidak hanya akan berfokus pada infrastruktur fisik di Jalur Gaza. "Kita juga harus membangun kembali dan membangun manusia, emosi, harapan, dan kepercayaan. Dan inilah makna sepak bola, olahraga saya," katanya.
Dalam pertemuan itu, Infantino juga menayangkan video promosi yang memaparkan cakupan inisiatif tersebut.
Melalui kemitraan itu akan dibangun ekosistem sepak bola yang lengkap di Gaza, sebagaimana dijelaskan dalam video tersebut. Program itu mencakup pembangunan lapangan sepak bola, FIFA Arena, akademi, dan stadion nasional.
Rencana tersebut meliputi pembangunan 50 lapangan mini FIFA Arena dengan estimasi biaya 50.000 dolar AS (Rp845,5 juta) per unit atau total investasi sekitar 2,5 juta dolar AS (Rp42,2 miliar).





