- Ponpes Tunarungu Darul Ashom di Sleman, DIY, didirikan karena keresahan kurangnya pendidikan agama bagi santri tuli.
- Santri seperti Ahmad belajar Al Quran menggunakan metode isyarat visual yang baku, mengikuti standar pengajaran dari Arab Saudi.
- Pesantren ini bertujuan mempersiapkan santri tidak hanya mandiri secara keterampilan, tetapi juga menjadi pengajar agama bagi komunitas tuli.
Suara.com - Dalam keheningan yang paling dalam, jemari Ahmad (21) menari lincah di atas lembaran Al Quran berwarna. Ia mengeja firman Tuhan melalui isyarat yang tak bersuara.
Di sudut Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tenang, sunyi bukanlah kehampaan. Ia justru menjadi ruang di mana doa-doa dilambungkan tanpa kata.
Di Pondok Pesantren Tunarungu Darul Ashom, Ahmad duduk bersila, melantunkan ayat-ayat suci dengan keyakinan yang tumbuh perlahan sejak 2022.
Ahmad menjadi salah satu bukti hidup bahwa meski pendengaran ditangguhkan, cahaya Al Quran tetap mampu merasuk hingga ke relung jiwa.
Di sekelilingnya, para santri lain dengan balutan baju putih bersih larut dalam ritme yang sama. Sebuah harmoni tercipta di tengah kesunyian yang terasa magis.
Ia datang dari Bali tanpa bekal pelajaran agama. Sebelum masuk pesantren, Ahmad mengaku tak pernah benar-benar belajar tentang Islam. Namun di tempat itulah ia menemukan pintu yang selama ini tertutup.
“Enggak pernah, dulu nggak pernah belajar agama,” kata Ahmad melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh Pendiri sekaligus Pimpinan Ponpes Tunarungu Darul Ashom, Ustaz Abu Kahfi, saat ditemui, Jumat (20/2/2026).
Suasana Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ashom. (Suara.com/Hiskia)Semangatnya tidak tumbuh secara instan. Ia pernah mengeja Al Quran dengan tertatih, pelan, huruf demi huruf.
Kini, ia telah menuntaskan tiga juz hafalan. Dua juz lebih dulu ia sempurnakan, dan perlahan hafalannya kian menguat.
Baca Juga: Ramadan Tetap Maksimal, PSIM Yogyakarta Sesuaikan Jadwal Latihan
“Dulu saya baca Al Quran pelan-pelan, mengalami kesulitan sedikit demi sedikit, tapi bisa gampang sekarang,” jelasnya.
Perkembangan itu tak lepas dari ritme belajar yang teratur selama di pondok. Ahmad rutin mengaji, belajar mandiri, beristirahat di asrama, lalu melanjutkan ibadah dengan tahajud.
Bagi Ahmad, agama mungkin hadir sebagai penemuan yang terlambat. Namun kini, ia tak ingin lagi melepaskannya.
“Saya merasakan saya lebih banyak ilmu, saya lebih yakin pada Allah, bertambah yakin pada Allah. Sekarang saya mau belajar agama sampai saya meninggal,” ujarnya.
Lebih jauh, Ahmad menyimpan cita-cita yang melampaui batas pulau dan negara.
“Saya mau jadi Ustaz mengajarkan anak-anak tuli di negara-negara lain,” tuturnya.
Ketulusan Kasih Sang Pengajar
Di balik ketekunan Ahmad dan ratusan santri lainnya, ada sosok-sosok yang memilih belajar dari keheningan. Salah satunya Ustaz Muhammad Aldi.
Pria asal Tasikmalaya itu telah tiga tahun membersamai para santri tuli di Ponpes Darul Ashom.
Ketertarikannya lahir dari perjumpaan sederhana, saat ia menyelesaikan masa mondok dan melihat anak-anak tuli yang tetap bersemangat belajar agama serta menghafal Al Quran.
Semangat merekalah yang mengetuk hatinya.
“Mereka begitu mulia dengan keterbatasan mereka, semangat ingin belajar agama, semangat ingin menghafal Al Quran,” ungkap Aldi.
Pendiri sekaligus Pemimpin Ponpes Tunarungu Darul Ashom Ustaz Abu Kahfi. (Suara.com/Hiskia)Ia menyadari bahwa mengajar Al Quran dengan bahasa isyarat merupakan hal baru baginya. Namun seiring waktu, ia memahami bahwa pengajaran harus menyesuaikan karakter setiap anak yang berbeda.
Menurutnya, bahasa isyarat akan lebih mudah melekat jika pengajar mau berbaur.
Bahkan, ia mempelajari bahasa isyarat secara otodidak selama satu tahun agar bisa benar-benar memahami kehidupan para santri.
Lebih dari sekadar metode, ia belajar menyelami dunia visual para santri—dunia yang tak bergantung pada bunyi, melainkan gerak dan rasa.
Baginya, kunci utama bukan sekadar teknik mengajar, tetapi ketulusan hati yang menyambungkan guru dan murid.
“Ketika sudah sambung hati, maka akan mudah untuk menyampaikan agama,” ujarnya.
Aldi mengakui, latar belakang keluarga dan pendidikan awal para santri sangat beragam. Tantangan terbesarnya justru memahami perbedaan tersebut, lalu menemukan cara agar ilmu benar-benar sampai.
“Mereka ini ibarat benar-benar gelas kosong. Jadi ketika kita sampaikan satu hadis, satu ilmu, mereka tangkap, mereka pahami, mereka amalkan,” ucapnya.
“Itulah yang membuat saya lebih kuat lagi, lebih sungguh-sungguh lagi untuk membersamai mereka,” imbuhnya.
Dari Kerisauan Menjadi Pondok
Jika menilik ke belakang, pesantren ini lahir dari keresahan panjang Ustaz Abu Kahfi. Jauh sebelum pondok berdiri, ia telah berinteraksi dengan komunitas Tuli sejak 2009.
Pertemuan pertamanya dengan seorang Tuli di Jakarta mengubah cara pandangnya tentang dakwah.
“Saya berpikiran bagaimana agamanya?” ucap Abu.
Pertanyaan itu kemudian terjawab, namun kenyataan yang ia temui justru membuatnya risau: agama belum benar-benar menjangkau anak-anak Tuli.
“Setelah saya bongkar kehidupan mereka ternyata nauzubillah mereka ternyata nol sekali agamanya,” imbuhnya.
Dari keresahan itulah lahir tekad mendirikan pondok khusus Tuli di Yogyakarta.
Pesantren Tunarungu Darul Ashom resmi berdiri pada 19 September 2019 di Bantul. Setahun kemudian berpindah ke Condongcatur, Sleman, dan pada September 2025 menempati lokasi baru di Godean berkat bantuan para dermawan. Saat ini bangunan pondok masih dalam proses pembangunan menyeluruh, meski aktivitas sudah berjalan.
Perjalanan jumlah santri pun terus bertumbuh. Dari dua santri awal, menjadi 13 dalam enam bulan, lalu puluhan, hingga kini sekitar 180 santri dari hampir 28 provinsi di Indonesia.
Bahkan, pendaftar mulai datang dari luar negeri seperti Australia, Pakistan, Bangladesh, hingga Kuwait, meski fasilitas masih terus disiapkan.
“Sekarang ada 180-an santri alhamdulillah dari berbagai pelosok di Indonesia, hampir 28 provinsi di Indonesia,” tuturnya.
Soal biaya, prinsip yang dipegang sejak awal tetap sama: anak dititipkan sesuai kemampuan orang tua. Ada yang membayar nol rupiah, ada yang lebih. Subsidi silang menjadi fondasi kebersamaan di pondok ini.
Suasana Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ashom. (Suara.com/Hiskia)Metode dari Tanah Suci
Metode pengajaran Al Quran yang digunakan mengikuti standar Arab Saudi, khususnya di Mekkah dan Madinah.
Metode tersebut menggunakan isyarat khusus untuk setiap huruf hijaiyah. Setiap gerakan tangan memiliki arti baku, sehingga santri tuli dapat “melihat” bunyi huruf melalui simbol visual.
Pesantren ini bahkan terhubung langsung dengan pengajar di Masjid Nabawi, Madinah.
“Bahkan kami melakukan setoran virtual selama seminggu itu lima kali. Lima kali virtual ke Masjid Nabawi,” jelasnya.
Namun mengajarkan Al Quran dengan bahasa isyarat bukan tanpa tantangan. Menurut Ustaz Abu, kesulitan terbesar justru bukan pada proses membaca atau menghafal huruf.
“Untuk Al Quran sebenarnya untuk mereka tunarungu kesulitannya hanya di awal saja,” ucapnya.
Setelah melewati fase awal, banyak santri justru mampu menghafal dengan tekun dan semakin lancar.
Tantangan yang lebih kompleks muncul ketika mereka memasuki kelas lanjutan, seperti tafsir, hukum agama, dan kitab-kitab klasik. Kendalanya terletak pada bahasa.
Bahasa isyarat di Indonesia memiliki struktur yang jauh lebih sederhana dibandingkan bahasa lisan atau tulisan. Banyak imbuhan tidak digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
“Bahasa mereka itu sederhana sekali, tidak mengenal imbuhan awalan me-, ke-, di-, nggak ada,” terangnya.
Perbedaan struktur bahasa ini membuat proses penerjemahan konsep-konsep abstrak menjadi lebih kompleks. Para guru harus memastikan makna yang mereka pahami selaras dengan pemahaman santri.
“Mereka memahami apa yang kita pahami, sedangkan bahasanya beda. Nah ini tantangan buat kita,” tambahnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pesantren menyusun kurikulum bertahap dari kelas 1 hingga kelas 9, dengan total 28 kitab yang dipelajari secara sistematis.
Setiap santri tidak otomatis ditempatkan sesuai usia atau jenjang sekolah sebelumnya, melainkan dinilai ulang berdasarkan kemampuan aktual. Tujuannya agar lulusan memiliki kompetensi setara dengan santri dengar pada umumnya—bukan sekadar membaca, tetapi memahami dan mengamalkan.
Ramadan di Ruang Sunyi
Ketika banyak pesantren memulangkan santri untuk berpuasa bersama keluarga, di Darul Ashom justru bulan suci menjadi musim tarbiyah dan latihan sebelum terjun ke masyarakat.
Memasuki Ramadan, para santri tidak hanya belajar, tetapi juga mempraktikkan ilmu yang telah mereka pelajari.
“Ramadan ini dijadikan pusat tarbiyah buat mereka untuk beramal, mengamalkan ilmu-ilmu mereka di bulan Ramadan,” ucapnya.
Dengan kesadaran masing-masing, para santri bertadarus dan membaca Al Quran bersama. Semua kegiatan mengalir tanpa perlu banyak instruksi.
Pengurus tetap mengawasi, bukan untuk menghukum, melainkan menumbuhkan disiplin dan tanggung jawab dari dalam. Setiap waktu salat menjadi panggung kecil, di mana santri bergantian menyampaikan ceramah singkat.
“Jadi ilmunya mereka amalkan di sini, sebelum mengamalkan di rumah, di sini dites dulu,” ujarnya.
Malam hari, tarawih menjadi momen paling hening sekaligus paling khusyuk. Dua setengah juz dibaca setiap malam. Bagi yang terbiasa mendengar lantunan imam, suasana ini mungkin sulit dibayangkan.
Namun para santri mengikuti salat dengan hafalan masing-masing. Mata tertuju pada imam, hati mengikuti ayat yang mereka kenal melalui isyarat.
“Tarawih di sini dua juz setengah setiap malam. Mereka meskipun nggak mendengar imam, tetapi tetap ikut sama-sama dengan imam mengaji hafalannya,” tuturnya.
Bekal untuk Dunia yang Lebih Luas
Pertanyaan yang kerap muncul dari orang tua sederhana: setelah lulus, anak-anak ini akan menjadi apa? Apakah mereka mampu hidup mandiri?
Ustaz Abu Kahfi memahami kegelisahan tersebut.
Di pesantren, beberapa santri belajar keterampilan seperti otomotif, elektronik, hingga membuat kue. Ada pula rencana pengembangan di bidang pertanian. Dunia visual, menurutnya, justru menjadi kekuatan mereka karena cepat menangkap contoh dan kuat dalam pengamatan.
Namun baginya, bekal terpenting bukan hanya keterampilan teknis.
“Tetapi yang saya tanamkan dalam diri mereka dengan Al Quran dan ilmu agama, kamu harus jadi pengajar. Kamu harus dari sini jadi pengajar Al Quran, pengajar agama,” ujar Abu.
Hal itu berangkat dari kenyataan bahwa masih sedikit pengajar agama dari kalangan tuli yang memiliki dasar pendidikan pesantren yang kuat. Ia berharap para santri menjadi generasi pertama yang mengisi ruang tersebut.
“Maka kalian harus menyelamatkan dunia pendidikan di tunarungu agama dari kalian sendiri yang alim, kalian sendiri yang hafiz,” tandasnya.
Di bulan Ramadan, ketika doa-doa melangit tanpa suara, pesantren ini menyiapkan sesuatu yang lebih dari sekadar kelulusan.
Di ruang yang tak dipenuhi bunyi, iman tumbuh dengan cara yang berbeda. Jemari bergerak, mata berbinar, dan huruf-huruf suci menari dalam sunyi.
Dari Ahmad yang bermimpi berdakwah ke luar negeri, hingga para ustaz yang belajar mencintai lewat isyarat, Darul Ashom membuktikan bahwa hidayah tak pernah bergantung pada bunyi.




