Bisnis.com, JAKARTA – Kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal ditengarai menjadi salah satu faktor pemicu sepinya minat investor untuk melakukan penawaran dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) sepanjang 2026.
Hal itu tampak dari angka penawaran masuk pada empat lelang SUN pertama di 2026. Pada lelang SUN perdana tahun ini, pemerintah mencatatkan total penawaran senilai Rp90,96 triliun dan segera menyusut pada lelang SUN selanjutnya hingga Rp63,06 triliun pada lelang Selasa (18/2/2026).
Susutnya animo investor dalam lelang SUN awal tahun ini juga tampak dari angka bid-to-cover-ratio yang konsisten turun. Pada lelang pertama 2026, angka bid-to-cover-ratio berada pada kisaran 5,11—1,15 kali. Sementara pada lelang teranyar, DJPPR membukukan angka bid-to-cover-ratio pada kisaran 1,91—1,00 kali.
Adapun bid-to-cover-ratio merupakan indikator guna mengetahui tingkat permintaan investor terhadap satu produk. Bid-to-cover-ratio membagi antara total penawaran masuk dengan total penawaran dimenangkan. Dus, semakin tinggi angka bid-to-cover-ratio, berarti semakin banyak penawaran yang masuk.
Kepala Ekonom BCA David Sumual, menilai kian susutnya minat investor pada lelang SUN sebetulnya memiliki faktor yang tidak jauh berbeda dengan lesunya permintaan pasar terhadap ORI029. Dia menilai, kondisi makroekonomi dalam negeri telah mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi rupiah.
”Serupa dengan apa yang mempengaruhi berkurangnya minat terhadap ORI029. Kondisi makroekonomi domestik yang melemah, seperti kekhawatiran defisit APBN melebar dan ketidakpastian kebijakan, membuat investor asing maupun domestik mengurangi eksposur aset rupiah,” katanya kepada Bisnis, dikutip Jumat (20/2/2026).
Alhasil, investor dinilai cenderung mengalokasikan dananya ke instrumen yang mampu menawarkan return yang lebih tinggi atau perlindungan yang lebih baik. David memberikan contoh kondisi pasar saham yang belakangan tengah mengalami pemulihan secara perlahan selepas MSCI dan Moody’s menurunkan minat investor di instrumen ekuitas itu.
Senada, Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto, menilai kian rendahnya minat investor terhadap instrumen surat utang Tanah Air, mencerminkan ketakutan pasar akan keberlanjutan fiskal dalam negeri dan volatilitas pasar global.
Menurutnya, investor meminta premi yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko fiskal. Sementara investor asing, cenderung melihat penurunan peringkat utang oleh Moody’s Ratings sebagai sentimen utamanya.
”Saya memandang penurunan yang cukup signifikan dalam empat kali lelang SUN terakhir merupakan refleksi dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal dan volatilitas eksternal,” kata Suhindarto, Kamis (19/2/2026).
Selain itu, Suhindarto menyoroti ihwal tingginya pasokan obligasi di awal tahun yang telah menjenuhkan pasar. Pasalnya, penerbitan pasokan baru yang lebih besar, dikombinasikan dengan persaingan likuiditas dari SRBI, telah menyedot likuiditas perbankan yang biasanya menjadi pembeli utama produk ini.
Belum lagi, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS berpotensi memicu capital outflow dari pasar surat utang negara. Pasalnya, yield spread antara obligasi Indonesia dengan negara emerging market lainnya seperti India dan Meksiko kian kompetitif, sehingga mendorong investor global untuk merotasi portofolio ke pasar yang lebih menarik dan minim risiko.
Terlebih, ketegangan AS dan Iran yang kian memuncak membuat investor memindahkan dananya dari negara emerging market.
”Saya melihat bahwa selama ketidakpastian outlook ekonomi domestik dan eksternal belum mereda, belum ada langkah nyata untuk mengurangi ketegangan geopolitik, dan belum terbuktinya perbaikan fiskal domestik, tekanan pada lelang SUN diperkirakan akan tetap membayangi kinerja pasar obligasi nasional,” tegasnya.





