jpnn.com - JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak positif pada kelompok sosial ekonomi rendah.
Demikian Kesimpulan dari hasil riset kolaborasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia (Labsosio UI) yang dilakukan sepanjang 2025.
BACA JUGA: Terbitkan SE, BGN Minta SPPG Lebih Kreatif Mengolah Pangan Lokal Selama Ramadan
Berdasarkan keterangan resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang diterima di Jakarta pada Jumat (20/2), program ini dinilai membantu pemenuhan kebutuhan pangan bergizi, terutama bagi anak-anak dari kelompok sosial ekonomi rendah dengan skor persepsi mencapai 4,30.
Hasil evaluasi Labsosio UI juga mencatat bahwa Program MBG berdampak signifikan terhadap proses belajar. Sebanyak 66,4 persen murid mengaku lebih bersemangat mengikuti pelajaran.
BACA JUGA: Program MBG Digugat ke MK, Jawaban Mendikdasmen Telak
Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara asupan gizi yang baik dengan peningkatan energi, konsentrasi, dan motivasi belajar.
Tak hanya soal gizi, pengalaman makan bersama di sekolah juga menjadi nilai tambah.
BACA JUGA: Prabowo Bercerita soal MBG, Danantara, hingga Pemberantasan Korupsi di Depan Pengusaha AS
Sebanyak 85,8 persen murid menyatakan bahwa MBG memberikan pengalaman menyenangkan, baik dari segi kualitas produk maupun aktivitas sosial yang menyertainya.
Momentum makan bersama dinilai memperkuat kebersamaan dan membangun kebiasaan makan yang lebih teratur.
Melihat tingginya tingkat penerimaan dan manfaat yang dirasakan murid, Program MBG perlu dijaga keberlanjutan dan kualitas pelaksanaannya, baik dari aspek distribusi, mutu makanan, maupun pengawasan standar gizi.
Sebelumnya, Kemendikdasmen juga melakukan kajian evaluasi pelaksanaan dan dampak implementasi MBG di satuan pendidikan sepanjang 2025.
Studi tersebut melibatkan 334.128 murid dari 11.143 satuan pendidikan penerima manfaat di 29 provinsi.
Hasil kajian menunjukkan, 69 persen siswa merasakan perbaikan dalam pola makan dan kualitas gizi.
Selain itu, 27,9 persen murid menjadi lebih fokus mengikuti pelajaran, 28,2 persen lebih semangat dalam kegiatan belajar, dan 25,7 persen lebih rajin masuk sekolah.
Bahkan, 12,5 persen murid dilaporkan menjadi lebih jarang sakit setelah rutin mengonsumsi MBG.
Data terbaru Kemendikdasmen per 18 Februari 2026 mencatat, sebanyak 43,17 juta peserta didik telah menjadi penerima manfaat MBG dari total 53,4 juta peserta didik yang terdata dalam Dapodik. Capaian ini menunjukkan perluasan jangkauan program yang signifikan secara nasional.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memastikan ada kenaikan anggaran pendidikan tahun 2026 dan tidak dipangkas untuk Program MBG.
"Anggarannya malah lebih besar setelah ada MBG, karena akan ditambah Presiden. Maka Kemendikdasmen mengajukan anggaran biaya tambahan (ABT)," kata Mu’ti.
Ia juga mengatakan, saat ini 43 juta penerima manfaat MBG adalah siswa sekolah.
Program MBG, kata dia, juga telah mendukung program Kemendikdasmen untuk memberikan mereka semangat untuk belajar dan penguatan karakter.
"MBG juga mendukung program ketujuh dalam Indonesia hebat, yaitu makan makanan sehat dan bergizi," ujarnya. (antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Soetomo Samsu



