EtIndonesia. Di satu sisi berunding, di sisi lain menyiapkan perang—ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat cepat. Menurut laporan The Times of Israel pada 18 Februari, sejumlah sumber menyebut bahwa meski Washington dan Teheran masih melanjutkan negosiasi nuklir, konflik militer bisa pecah dalam beberapa hari ke depan. Operasi yang diperkirakan terjadi bukan serangan singkat, melainkan rangkaian serangan intensif yang dapat berlangsung selama beberapa minggu.
Mantan Kepala Intelijen Militer Israel, Amos Yadlin, mengatakan situasi saat ini lebih dekat ke konflik dibandingkan periode mana pun sebelumnya. Ia menyebut pekan lalu masih berani menghadiri Konferensi Keamanan Munich, tetapi akhir pekan ini harus mempertimbangkan kembali apakah akan meninggalkan Israel.
Meski demikian, Yadlin mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat tidak akan langsung berperang tanpa menyelesaikan jalur diplomasi hingga tahap akhir. Namun pernyataan klasik “semua opsi ada di atas meja” dinilai banyak pihak sebagai tanda bahwa persiapan militer telah memasuki tahap serius.
Gedung Putih Dinilai Kian Tidak Sabar
Media AS Axios melaporkan seorang penasihat Presiden Donald Trump menyebutkan bahwa presiden semakin tidak sabar terhadap kemajuan negosiasi. Sumber tersebut bahkan memperkirakan kemungkinan terjadinya aksi militer nyata dalam beberapa minggu mendatang mendekati 90 persen.
Beberapa sumber menyatakan, skenario paling mungkin adalah operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel. Skalanya bahkan disebut bisa melampaui kampanye pengeboman 12 hari tahun lalu. Sebagai pengingat, pada konflik sebelumnya Iran meluncurkan rudal ke Israel yang menewaskan 32 orang dan melukai lebih dari 3.000 lainnya.
Israel Siaga, Iran Bergerak
Dua pejabat Israel mengatakan militer negara itu sedang bersiap menghadapi kemungkinan perang dalam “hitungan hari”. Bahkan disebutkan adanya dorongan untuk operasi yang bertujuan menggulingkan rezim Iran.
Ketua Komite Luar Negeri dan Pertahanan Parlemen Israel, Boaz Bismuth, menyatakan publik dan pemerintah tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan situasi yang sulit.
Di sisi lain, Iran menyatakan setelah pertemuan di Jenewa pada Selasa bahwa kedua pihak telah membentuk “prinsip panduan” untuk menghindari konflik. Namun Wakil Presiden AS, J.D. Vance, menyebut Iran belum menerima seluruh “garis merah” Washington.
Menteri Energi AS, Chris Wright, pada hari yang sama menegaskan bahwa Amerika Serikat bertekad mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Data pelacakan penerbangan terbuka pada Selasa menunjukkan bahwa AS dalam satu hari mengerahkan puluhan jet tempur—termasuk F-22, F-35, dan F-16—ke kawasan Timur Tengah, disertai sejumlah pesawat pengisi bahan bakar.
Sementara itu, media Iran pada Rabu melaporkan bahwa Iran dan Rusia akan menggelar latihan angkatan laut bersama di Laut Oman pada Kamis. Sebelumnya, Garda Revolusi Iran juga melakukan latihan di Selat Hormuz—jalur strategis energi dunia—bahkan sempat menutup sebagian wilayah selat tersebut untuk sementara waktu.
Situasi Masih Bergerak Cepat
Saat ini, negosiasi diplomatik, ancaman terbuka, dan pengerahan militer berlangsung secara paralel. Dinamika berkembang sangat cepat, dan keseimbangan antara diplomasi dan konflik tampak semakin rapuh.
Apakah ketegangan ini akan benar-benar berubah menjadi perang terbuka dalam hitungan hari, atau masih dapat diredam lewat diplomasi menit terakhir, menjadi pertanyaan besar yang kini menyita perhatian dunia. (jhon)
Sumber : NTDTV.com




