Kebersamaan yang Menembus Penghalang Kecemerlangan Anak-anak Gifted  

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Lebih dari satu dekade, perbincangan tentang anak-anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (CI+BI) yang melibatkan pemerintah, DPR, orangtua, lembaga pendidikan, dan akademisi terasa meredup. Orangtua yang tergabung dalam komunitas gifted mengaku menghadapi hambatan besar saat memperjuangkan masa depan pendidikan anak-anak mereka.

Upaya tersebut seolah menemukan ruang dialog dalam diskusi multipihak bertajuk “Membangun Ekosistem Pendidikan Gifted di Indonesia” yang diselenggarakan Noble Academy, Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida), dan Harian Kompas di Jakarta, Kamis (19/2/2026). Diskusi menghadirkan perwakilan pemerintah dan legislatif, serta melibatkan orangtua, lembaga pendidikan, dan psikolog yang berkaitan dengan anak gifted.

Kehadiran Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian yang mengikuti diskusi secara penuh perhatian menjadi harapan baru bagi orangtua dan pegiat pendidikan gifted. Sejak penutupan kelas akselerasi pada tahun ajaran 2015/2016—program percepatan bagi siswa ber-IQ di atas 125, termasuk anak gifted—layanan khusus bagi anak dengan kapasitas intelektual di atas rata-rata, yang kerap disertai tantangan sosial-emosional dan hambatan belajar, dinilai belum kembali mendapat perhatian serius.

Baca JugaAnak Supercerdas Minim Wadah

Meski tidak hadir secara langsung, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan pesan melalui rekaman video. Ia menegaskan perhatian pemerintah pada manajemen talenta nasional, termasuk pengembangan bakat dan minat siswa, di antaranya anak gifted, sebagai program prioritas. Presiden Prabowo Subianto juga mendorong pendirian Sekolah Unggul Garuda berasrama bagi siswa berkemampuan di atas rata-rata tanpa terkendala faktor ekonomi, guna mencetak talenta unggul di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Mendikdasmen menyatakan keterbukaan terhadap berbagai gagasan yang muncul dalam forum multipihak ini untuk memperkaya kebijakan pemerintah. Pemerintah, sebagai penyelenggara negara, diharapkan dapat memfasilitasi dan mendampingi anak-anak berbakat istimewa agar mampu berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Keterbukaan pemerintah dan wakil rakyat yang bersedia mendengar perjuangan orangtua dalam mencari layanan pendidikan yang tepat bagi anak gifted menumbuhkan harapan. Orangtua dan komunitas gifted merasa tidak lagi sendirian dan mulai didengar.

Pendiri Parents Support Group for Gifted Children (PSGGC) Yogyakarta, Patricia Lestari Taslim, yang mewakili jejaring PSGGC di berbagai daerah, mengatakan para orangtua telah saling mendukung selama lebih dari satu dekade untuk memperjuangkan masa depan anak-anak gifted. Ia menegaskan, meski memiliki kemampuan di atas rata-rata, anak gifted memiliki spektrum yang beragam sehingga tidak semuanya berkembang sesuai gambaran “supercerdas” yang kerap dibayangkan publik maupun pemerintah.

Harapan baru

Para orangtua mengaku kebingungan menghadapi anak yang memiliki IQ di atas rata-rata, tetapi justru tidak berprestasi di sekolah atau tergolong underachiever. Sebagian bahkan dianggap sebagai sumber masalah. Orangtua pun harus mencari sekolah yang sesuai, bahkan memindahkan anak dari satu sekolah ke sekolah lain setelah mendapati anak gifted mengalami perundungan, baik dari teman sebaya maupun guru yang belum memahami karakteristik dan kebutuhan belajar anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (CI+BI) yang beragam.

“Pertemuan hari ini memberi harapan baru. Selama 12 tahun kami berjuang seperti meraba dalam gelap. Pada 2024 kami menggelar seminar di Kementerian Pendidikan di Jakarta, tetapi mohon maaf, tidak ada perwakilan kementerian yang hadir. Mungkin isu anak gifted dianggap kurang menarik. Namun, dengan forum yang mempertemukan pemerintah, DPR, akademisi, dan orangtua hari ini, saya kembali optimistis,” kata Patricia.

Menurut Patricia, orangtua dan anak-anak gifted dalam komunitas PSGGC kerap menjadi objek penelitian berbagai perguruan tinggi. Namun, hingga kini belum ada kebijakan konkret yang berpihak pada anak gifted. Ekosistem pendidikan bagi mereka dinilai belum dipahami dan belum terwujud secara sistematis.

Tyas, orangtua anak gifted yang tergabung dalam PSGGC Yogyakarta, menambahkan bahwa selama ini komunitas mereka kerap menjadi objek riset berbagai kampus, termasuk untuk asesmen. Namun, hingga kini belum ada panduan praktis bagi orangtua maupun anak gifted. Akibatnya, sebagian orangtua yang anak pertamanya teridentifikasi gifted justru menolak ketika anak berikutnya menunjukkan indikasi serupa karena merasa tidak sanggup mengasuh.

Tyas mengaku beruntung dapat memahami karakteristik anak gifted sehingga anak pertamanya berkembang optimal dan kini berkuliah di Amerika Serikat dengan beasiswa pemerintah. Anak keduanya juga bersekolah di SMA unggulan yang mendukung potensi akademiknya yang di atas rata-rata.

“Namun, banyak teman anak kami di sekolah negeri justru menghadapi persoalan. Sekolah inklusi pun belum tentu menjamin mereka terlayani dengan baik karena keterbatasan kesiapan guru dan infrastruktur. Dalam satu kelas berisi 32 siswa, ketika anak gifted merasa bosan, ada yang tertidur di kelas, ada pula yang berlari-lari dan mengganggu teman sehingga kerap menjadi sasaran perundungan,” kata Tyas.

Baca JugaAnak Supercerdas dan Orangtua Luar Biasa, Cerita di Balik Komunitas ”Gifted”

Sementara itu,  Fahmi, orangtua anak gifted, yang sudah lama tertarik dengan isu pendidikan gifted di Indonesia sejak tahun 2013-2014, merasakan  inilah pertama kalinya forum yang dapat menghadirkan berbagai kalangan, terutama dari pemerintah dan DPR yang benar-benar menangani isu pendidikan. “Forum seperti ini sangat langka. Saya hanya ingin sampaikan just do it, lakukan saja tanpa perlu merevisi undang-undang Sisidiknas 2003.  Perubahan harus dimulai selangkah demi selnagkah, bisa dimulai dari Langkah konkrit pemerintah mengidentifikasi  anak-anak, mungkin bisa ketika mereka masuk SD,” ujar Fahmi.

Riset anak gifted

Psikolog dari Ukrida Pinkan Margaretha Indira mengatakan pertemuan  kali ini jadi menyatukan kembali semangat kolaborasi membangun ekosistem pendidikan gifted di Indonesia. Penelitian atau riset anak gifted yang beretika akan dilakukan, yang berkontribusi untuk membersamai anak-anak gifted dan keluarga sehingga mampu berkontribui bagi engeri.

“Kita tidak akan stop sekadar wacana.  Langkah selanjutnya perlu ada lagi, sampai kita menghasilkan kajian kebijakan singkat atau policy brief yang bisa jadi masukan pemerintah dan DPR untuk menyeriusi  terbentuknya ekosistem pendidikan gifted yang baik dan bermutu,” kata Pinkan.

Pendiri dan Direktur Noble Academy, Nancy Dinar, mengaku terharu melihat antusiasme berbagai pihak dalam forum tersebut.

“Saya sebenarnya seorang ibu yang 10 tahun lalu mencari pendidikan yang tepat untuk anak saya, yang sempat ditolak di beberapa sekolah. Akhirnya saya memutuskan mendidik anak di rumah dan mendirikan Noble Academy untuk melayani anak-anak gifted yang mengalami kesulitan di sekolah reguler,” kata Nancy.

Nancy merasa terpanggil merancang pendidikan gifted yang berangkat dari karakteristik anak-anak tersebut. Ia mengaku kerap bertemu orangtua yang kebingungan menghadapi anak yang cerdas.

Menurut Nancy, kehadiran negara dalam mendukung ekosistem pendidikan gifted bukan semata untuk menyelamatkan modal manusia unggul yang dimiliki bangsa ini.

“Ini juga soal kesetaraan. Setiap anak berhak memperoleh layanan pendidikan berkualitas yang sesuai dengan kebutuhannya,” tegas Nancy.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pujian Lengkap Trump ke Prabowo di Meeting Perdana Board of Peace AS
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
10 Daftar Negara yang Berikan Tunjangan Pendidikan
• 8 jam lalubeautynesia.id
thumb
Prabowo dan Trump Sepakati Implementasi Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia–AS
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
SMA Swasta Banyak, Tapi Mayoritas Siswa Sekolah di Negeri
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Kawasan Wisata Religi Ampel Masih Landai Peziarah di Hari Pertama Ramadan
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.