BEI atau Bursa Efek Indonesia akan mengevaluasi sistem perdagangan saham dengan skema Full Call Auction (FCA) pada kuartal kedua atau April - Juni.
FCA merupakan suatu mekanisme perdagangan saham yang order beli dan jual akan dikumpulkan selama periode tertentu, kemudian dieksekusi secara bersamaan pada satu harga yang ditentukan. Harga ini didasarkan pada titik keseimbangan antara permintaan dan penawaran.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan evaluasi dilakukan sebagai bagian dari peninjauan berkala atas seluruh kebijakan bursa.
Ia mengatakan FCA termasuk kebijakan yang dikaji secara periodik. Dari hasil evaluasi ini, BEI melihat adanya ruang untuk melakukan penyempurnaan atau perbaikan terhadap kebijakan itu.
“Dengan transparansi yang lebih tinggi, tentu akan berdampak, apakah sebagian atau seluruh kriteria yang ada di papan pemantauan khusus itu masih diperlukan,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (20/2).
Jeffrey menyebut skema Full Call Auction sangat mungkin berubah, termasuk kembali ke mekanisme continuous trading. Ia mengatakan proses dan mekanismenya masih terbuka untuk dievaluasi lebih lanjut oleh bursa.
Di samping itu, hasil kajian terhadap skema FCA kemungkinan besar ada pengurangan, bukan penambahan kriteria. Terkait mekanisme auction, ia mengatakan hal itu masih akan dikaji.
Ia memastikan FCA akan dikaji. Namun saat ini BEI masih berfokus pada pengembangan terkait indeks global seperti FTSE Russell dan MSCI.
“Itu nanti kita review, kita sampaikan selanjutnya tapi yang pasti akan ada review terhadap FCA, itu mungkin secepat-cepatnya akan kita lakukan di kuartal ke 2,” katanya.
Sempat Dikritik Mirip Judol, BEI Buka Peluang Munculkan Bid dan Ask di Skema FCABEI sebelumnya mengatakan tengah mengkaji kemungkinan mencantumkan informasi pemesanan atau bid dan penawaran alias ask pada perdagangan papan pemantauan khusus skema Full Call Auction alias FCA.
Investor sempat ramai-ramai memprotes kosongnya informasi bid and ask pada perdagangan saham dengan skema FCA. Bahkan, skema perdagangan ini disebut mirip judi online.
Aksi protes itu dilayangkan melalui petisi pada laman change.org yang diteken lebih 16 ribu investor pada pertengahan Juni tahun lalu.
Jeffrey Hendrik menyampaikan, nantinya dapat dilakukan mekanisme seperti bid dan ask dalam perdagangan pada skema FCA. BEI akan meninjau kembali kriteria yang telah diterapkan.
Menurut dia, setiap papan perdagangan akan dievaluasi secara berkala untuk meningkatkan likuiditas pasar dan mendukung pendalaman pasar modal. “Itu (bid dan ask) yang kami kami, harapannya pada 2026,” kata Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, pada Desember (17/12/2025).
FCA diluncurkan untuk perusahaan tercatat dengan kriteria tertentu sebagai upaya meningkatkan likuiditas saham dan perlindungan investor.
Namun, penerapannya justru menuai protes dari para investor karena dinilai membuat mereka seolah menjadi penjudi karena harus menebak saat ingin bertransaksi pada saham dalam papan tersebut. Investor pun meluncurkan petisi di Change.org pada Juni 2025 meminta agar peraturan tersebut dihapus.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5506745/original/042503400_1771475313-ba815ec8-2a23-4dcc-9816-650427bf8a71.jpeg)