JEMBER (Realita) - Memasuki satu tahun masa kepemimpinan, Bupati Jember Muhammad Fawait memaparkan sejumlah capaian mendasar yang diklaim menjadi fondasi kebangkitan daerah.
Fokus utama diarahkan pada pemenuhan pelayanan dasar, mulai dari kesehatan, administrasi kependudukan, pendidikan, hingga sektor pangan dan infrastruktur strategis.
Baca juga: Peta Cinta Putus Antrean Adminduk, Permohonan Cetak KTP di Kecamatan Jember Mulai Landai
Dalam refleksi satu tahun pemerintahan, Gus Fawait mengungkapkan kondisi awal Jember yang dihadapi saat pertama dilantik tergolong berat. Data kemiskinan ekstrem berada pada peringkat tinggi di Jawa Timur, persoalan stunting, angka kematian ibu dan bayi masih mengkhawatirkan, hingga rumah sakit daerah yang nyaris kolaps akibat tumpukan utang dan keterbatasan anggaran.
“Saat pertama dilantik, data absolut kemiskinan Jember itu nomor dua tertinggi di Jawa Timur. Dampaknya ke mana-mana, ke kesehatan, pendidikan, sampai kualitas hidup masyarakat. Ini fakta yang tidak bisa kita hindari,” ujar Fawait, Jumat, (20/02/2026).
Langkah pertama yang diambil Pemerintah Kabupaten Jember adalah menyelamatkan sektor kesehatan. Di tengah kondisi rumah sakit yang hampir berhenti beroperasi, Pemkab Jember memutuskan melakukan efisiensi besar-besaran pada belanja non prioritas demi memastikan layanan kesehatan gratis bagi seluruh warga melalui skema Universal Health Coverage (UHC) Prioritas.
Kebijakan tersebut dinilai krusial karena pada saat bersamaan masyarakat membutuhkan layanan kesehatan, sementara rumah sakit daerah dibelit utang ratusan miliar rupiah.
Dalam waktu satu bulan sejak kebijakan diambil, seluruh warga Jember dipastikan dapat mengakses layanan kesehatan tanpa syarat administratif yang berbelit.
“Dalam satu bulan, mulai 1 April, seluruh masyarakat Jember bisa berobat gratis tanpa surat keterangan miskin. Rumah sakit hidup kembali, nakes bisa digaji, dan pelayanan berjalan normal,” tegasnya.
Selain kesehatan, pembenahan administrasi kependudukan menjadi capaian penting lainnya. Fawait mengungkapkan, sejak 2019 hingga 2024 terdapat sekitar 66 ribu warga Jember yang belum memiliki KTP akibat kekurangan blanko. Kondisi ini berdampak langsung pada akses bantuan sosial, layanan kerja, hingga hak-hak sipil masyarakat.
Melalui upaya koordinasi dengan pemerintah pusat, Pemkab Jember berhasil menyediakan puluhan ribu blanko KTP dan mendekatkan layanan pencetakan KTP hingga tingkat kecamatan. Program ini kemudian dikenal dengan nama pelayanan cetak KTP tuntas di kecamatan atau Peta Cinta.
Baca juga: Jember Tembus Opini Kualitas Tertinggi Ombudsman, Gus Fawait Tegaskan Tak Boleh Puas Diri
Peta cinta menekankan keadilan layanan antara warga desa dan kota.
“Hari ini tidak ada lagi warga Jember yang tidak bisa mencetak KTP karena kekurangan blanko. Bahkan, masyarakat di pelosok cukup datang ke kecamatan, tidak perlu jauh-jauh ke kota,” kata Fawait.
Di sektor pendidikan, Pemkab Jember menghadapi tantangan berat berupa 1.532 gedung sekolah rusak berat. Melalui pembaruan data Dapodik dan lobi intensif ke pemerintah pusat, Jember akhirnya memperoleh program revitalisasi sekolah terbesar secara nasional pada 2025, dengan ratusan sekolah direhabilitasi menggunakan dana APBN dan APBD.
Tak hanya infrastruktur, pemerintah daerah juga meluncurkan program beasiswa terbesar sepanjang sejarah Kabupaten Jember dengan kuota hampir 8.000 mahasiswa, termasuk beasiswa khusus santri.
Pendekatan afirmasi ekonomi dipilih untuk menghapus stigma “beasiswa miskin” yang selama ini melekat pada penerima bantuan pendidikan.
Baca juga: Ombudsman Republik Indonesia Tetapkan Pemkab Jember 10 Besar Nasional Kualitas Pelayanan Publik
“Saya tidak ingin anak-anak Jember diberi label miskin. Kita gunakan istilah afirmasi ekonomi, agar mereka percaya diri dan fokus berprestasi,” ujarnya.
Capaian lain yang disorot adalah sektor pertanian dan konektivitas wilayah. Pada 2025, anggaran sektor pertanian yang bersumber dari APBD dan APBN disebut sebagai yang terbesar dalam 40 tahun terakhir, mencakup optimalisasi lahan, bantuan alat, dan sarana produksi.
Sementara di bidang konektivitas, Bandara Jember kembali beroperasi dengan rute penerbangan dari Jakarta dan Bali sebagai bagian dari strategi rebranding daerah.
“Tahun pertama ini saya ingin memastikan pelayanan dasar dulu selesai. Kesehatan, pendidikan, adminduk, dan pangan harus beres, baru kita bicara lompatan besar berikutnya,” pungkas Fawait.rdy
Editor : Redaksi





