Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) melalui Climate Unit menggelar paparan hasil Indonesia Solar Economy Dialogue (ISED) dalam press briefing di Post Kantoor – Koffie . Art . Kultur, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 20 Februari 2026. Forum ini mempublikasikan rekomendasi kebijakan untuk mendukung program Presiden Prabowo Subianto membangun 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Founder dan Chairman FPCI, Dino Patti Djalal, mengatakan dua pertemuan ISED sebelumnya 21 November 2025 dan 23 Januari 2026 difokuskan untuk mentransformasi visi 100 GW PLTS menjadi rencana aksi konkret, sejalan dengan target 100% energi terbarukan pada 2035.
“Tujuan kami adalah mengkontekstualisasikan dan mempercepat target 100 GW PLTS dalam kerangka kondisi aktual Indonesia dan dunia yang berubah cepat,” ujar Dino.
Ia menjelaskan, inti dialog adalah memfinalisasi draf rekomendasi kebijakan untuk diserahkan kepada pemerintah. Rekomendasi tersebut menitikberatkan pada empat isu krusial: kesiapan dan interkoneksi jaringan listrik; desain kelembagaan dan tata kelola; model bisnis termasuk skema koperasi desa; serta strategi pembiayaan yang bankable.
“Endgame kami adalah implementasi. PLTS harus menjadi fondasi transformasi sistem energi menuju solar economy energi surya yang mudah, murah, dan dapat diakses seluruh masyarakat,” tegasnya.
Disusun 19 Lembaga, Berbasis Bukti dan Aplikatif
Dokumen “Rekomendasi Praktis 100 GW PLTS” disusun oleh 19 organisasi masyarakat sipil dan lembaga riset. Dokumen ini dimaksudkan sebagai masukan strategis yang konkret, terukur, berbasis bukti, dan aplikatif bagi kementerian/lembaga serta rujukan bagi pengambil keputusan nasional.
Menurut FPCI, pengembangan 100 GW PLTS merupakan instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan energi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan daya saing Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga energi, dan percepatan transisi energi global.
Secara global, investasi energi bersih kini melampaui energi fosil. Dalam konteks ini, Indonesia dinilai memiliki peluang menjadi pemimpin transisi energi yang pragmatis dan berorientasi pada kepentingan nasional.
Potensi Surya 3.294 GW, Terpasang Baru 954,54 MWp
FPCI memaparkan, potensi energi surya Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 3.294 GW. Namun kapasitas terpasang saat ini masih sekitar 954,54 MWp, termasuk PLTS atap. Dalam perencanaan ketenagalistrikan nasional, energi surya diproyeksikan menjadi tulang punggung penyediaan listrik jangka panjang untuk mendukung target net-zero emission 2060 serta memperluas akses listrik yang andal dan terjangkau, khususnya di wilayah terpencil.
Transisi energi melalui 100 GW PLTS juga dipandang berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru: mendorong investasi infrastruktur, memperkuat manufaktur dan hilirisasi energi bersih, menciptakan lapangan kerja hijau, serta meningkatkan kesehatan dan produktivitas masyarakat.
Mengutip kajian Bappenas dalam Low Carbon Development: A Paradigm Shift Towards a Green Economy in Indonesia(2019), kebijakan transisi energi untuk mencapai target NDC berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi rata-rata hingga 6% per tahun pada periode 2025–2045.
Koalisi think tank dan organisasi masyarakat sipil menilai target 100 GW PLTS menjadi momentum strategis untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengejar pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, selaras dengan transformasi menuju ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan. Lima poin rekomendasi kebijakan disampaikan sebagai dukungan konstruktif agar program PLTS 100 GW dapat diimplementasikan secara efektif, kredibel, dan berkelanjutan.
Editor: Redaktur TVRINews




