Liputan6.com, Jakarta - Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir November 2025 dipicu oleh curah hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar yang melampaui kapasitas sistem mitigasi banjir nasional.
Hal itu terungkap dalam kajian forensik kebencanaan yang dilakukan Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Advertisement
Kajian tersebut berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi tiga daerah aliran sungai (DAS) Badiri, Garoga, dan Batang Toru, perubahan tutupan lahan, serta simulasi hidrologi–hidrolika. CENAGO menyimpulkan, intensitas hujan yang terjadi berada di luar skenario perencanaan sistem pengendalian banjir yang berlaku.
Koordinator Tim Riset CENAGO, Heri Andreas, mengatakan kontribusi perubahan tutupan lahan oleh sejumlah korporasi relatif kecil dibandingkan skala faktor cuaca ekstrem.
“Jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak (strict liability) terhadap pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi objektivitas,” ujar Heri, Jumat (20/2/2026).
Heri menjelaskan, hasil analisis menunjukkan porsi alih fungsi lahan terhadap luas DAS oleh korporasi yang dianalisis tergolong kecil. PT AR tercatat sekitar 1,6 persen, PT TBS 0,4 persen, dan PT NSHE hanya 0,02 persen.
Dalam kajiannya, CENAGO mengombinasikan data presipitasi dari BMKG dan NOAA, citra satelit resolusi tinggi, digital elevation model (DEM), pendefinisian DAS dan sub-DAS, serta parameter hidrologi dan hidrolika standar.




