jpnn.com - Politikus Gerindra Arief Poyuono mengatakan program Makan Bergizi (MBG) yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka tidak lagi dapat dipahami semata-mata soal kesejahteraan sosial, melainkan bagian dari arsitektur ketahanan nasional jangka panjang.
Program MBG menurutnya menjadi penting di tengah lingkungan strategis global yang semakin tidak menentu – mulai dari konflik geopolitik terbuka, krisis pangan global, disrupsi rantai pasok, hingga tekanan ekonomi internasional.
BACA JUGA: Silakan Disimak Hasil Riset Labsosio UI tentang Program MBG
Siswa menikmati makan bergizi gratis (MBM) di SDN Lengkong Wetan 01, Tangerang Selatan, Banten. Foto : Ricardo/JPNN
"Program MBG sesungguhnya merupakan bentuk konkret transformasi konsep Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) ke dalam konteks tantangan abad ke-21," kata Arief melalui keterangan tertulis, Jumat (19/2/2025).
BACA JUGA: Kronologi Lengkap Kasus AKBP Didik yang Terjerat Narkoba, Sontoloyo!
Menurut Arief, jika dahulu Sishankamrata dibayangkan terutama melalui kesiapan militer dan mobilisasi rakyat dalam konteks perang konvensional, maka hari ini tantangan utama bangsa justru bergeser pada ancaman non-militer, seperti krisis kesehatan, kerentanan pangan, ketimpangan kualitas sumber daya manusia, serta rendahnya produktivitas nasional.
"Dalam konteks inilah MBG menjadi sangat relevan sebagai fondasi ketahanan manusia," ucap Arief yang juga komisaris Pelindo itu.
BACA JUGA: Bela Jokowi soal Revisi UU KPK, PSI Ungkap 5 Partai Pengusul di DPR
Secara sosial dan kemanusiaan, katanya, MBG merupakan respons langsung terhadap dampak struktural pascapandemi Covid-19, yang memperlemah daya beli rumah tangga, memperlebar kerentanan gizi, dan memperkuat lingkaran kemiskinan antargenerasi.
Secara kerakyatan, program MBG menurutnya menempatkan kelompok miskin dan rentan sebagai sasaran utama, bukan sebagai efek turunan pembangunan. Dan secara strategis, MBG diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi bonus demografi yang sedang dan akan terus berlangsung.
"Namun, yang sering luput dibaca oleh publik adalah bahwa ketiga dimensi tersebut sesungguhnya identik dengan pilar dasar ketahanan nasional," kata Arief.
Dia menuturkan bahwa gizi yang buruk, kesehatan yang rapuh, dan rendahnya kapasitas belajar anak-anak hari ini akan berujung pada lemahnya daya saing tenaga kerja, rendahnya produktivitas ekonomi, serta tingginya beban fiskal negara di masa depan.
"Dalam perspektif pertahanan modern, kondisi tersebut merupakan kerentanan strategis nasional," ujarnya.
Karena itu, kata Arief, MBG tidak sekadar menurunkan stunting dan wasting, tetapi juga membangun daya tahan sosial dan biologis bangsa.
"Sebuah elemen yang sangat menentukan dalam ketahanan negara jangka panjang," ujar Arief Poyuono.
Dia menjelaskan bahwa pemahaman yang lebih luas mengenai Sishankamrata pernah ditegaskan oleh Prof. Jimly Asshiddiqie dalam tulisannya Pertahanan Negara dalam Perspektif Konstitusi (2007).
Jimly menekankan bahwa Sishankamrata tidak boleh direduksi sebagai semata sistem militer atau sistem keamanan, melainkan harus dipahami sebagai kesatuan sistem nasional untuk mencapai tujuan bernegara, yakni melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia serta ikut melaksanakan ketertiban dunia.
"Dengan kata lain, Sishankamrata adalah kerangka besar kebijakan negara lintas sektor. Di sinilah relevansi MBG menjadi sangat penting," tuturnya.
Dalam kerangka kontemporer, lanjutnya, ancaman terhadap negara tidak selalu datang dalam bentuk agresi militer. Ketahanan nasional justru sangat ditentukan oleh kualitas manusia, ketahanan pangan, stabilitas sosial, dan daya saing ekonomi.
"Karena itu, arah kebijakan pemerintahan Prabowo yang menempatkan pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan gizi sebagai prioritas strategis sesungguhnya merupakan redefinisi operasional Sishankamrata," kata Arief.(fat/jpnn)
Simak! Video Pilihan Redaksi:
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam



