Suasana Ramadan di Jalur Gaza tahun ini kembali dilalui dengan penuh keterbatasan dan keprihatinan. Meskipun telah memasuki masa gencatan senjata sejak akhir Oktober 2025, warga sipil tetap hidup dalam kondisi was-was karena situasi keamanan yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Menjelang waktu berbuka puasa, ratusan warga Gaza terpaksa berdesakan dalam antrean panjang hanya untuk mendapatkan bantuan makanan sekadar untuk membatalkan puasa. Kesulitan hidup dan kehilangan harta benda akibat genosida yang dilakukan oleh Zionis Israel seakan mengikis semangat Ramadan yang biasanya penuh suka cita.
Waleed Al Zamli, salah satu warga Gaza, mengungkapkan kerinduannya yang mendalam terhadap tradisi hari pertama Ramadan yang dulu diwarnai kegembiraan bersama keluarga. Kini, Al Zamli harus menghadapi kenyataan pahit tinggal di pengungsian setelah toko tempatnya bekerja hancur total, membuatnya kehilangan mata pencaharian dan kesulitan menghidupi keluarganya dengan layak.
Baca juga: Indonesia Resmi Ditunjuk Jadi Wakil Komandan ISF untuk Gaza
Kesepakatan gencatan senjata yang semestinya mengakhiri genosida di Palestina belum sepenuhnya memberikan keamanan. Zionis Israel masih melakukan serangan udara berulang kali dan kerap melepaskan tembakan ke arah warga Palestina yang tengah berjuang bertahan hidup.
Bagi umat Muslim di Gaza, Ramadan yang sejatinya merupakan waktu untuk meningkatkan ibadah dan amal di tengah kedamaian, kini berubah menjadi ujian ketabahan yang luar biasa.
Tragedi kemanusiaan yang terus berlanjut di Gaza pada Ramadan tahun ini menjadi pengingat bagi umat Muslim di seluruh dunia akan arti ketabahan yang sesungguhnya. Di tengah kehancuran dan ancaman maut yang mengintai, warga Gaza tetap berupaya menjalankan kewajiban agama mereka meski dalam kondisi paling tidak manusiawi.




