Washington, DC: Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk membuka peluang investasi bagi perusahaan Amerika Serikat di sektor mineral kritis. Hal tersebut dipastikan setelah terjadinya penandatanganan perjanjian perdagangan Indonesia–Amerika Serikat
Kepastian komitmen itu disampaikan langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers yang digelar di Washington DC, Amerika Serikat, pada Jumat, 20 Februari 2026. Acara konpers juga digelar secara daring.
"Terkait nikel, kita kalau sudah masuk 90 hari dari sekarang, saya sebagai menteri teknis dengan senang hati untuk bisa memfasilitasi mereka dengan baik, dengan tetap mengikuti apa yang menjadi kebiasaan-kebiasaan aturan yang ada dalam negeri," ujar Bahlil dalam konferensi pers pada Jumat, 20 Februari 2026.
Menurut Bahlil, sektor yang ditawarkan meliputi nikel, logam tanah jarang, tembaga, hingga emas yang kini masuk kategori mineral kritis. Pemerintah memberikan dua opsi pola investasi, yakni eksplorasi dan produksi mandiri atau kolaborasi dengan BUMN dan perusahaan existing.
"Yang kedua, begitu mereka sudah berproduksi, membangun industri-nya, maka hak mereka untuk mengekspor ke Amerika. Itu kita memberikan ruang. Sama juga dengan negara-negara lain. Jadi equity treatment aja, gak ada sesuatu yang baru," lanjutnya.
Ia menegaskan investasi yang dimaksud adalah pembangunan pemurnian dan industri hilir, bukan ekspor bahan mentah. "Jadi jangan dipersepsikan bahwa membangun investasi, or-nya dibawa. Enggak ada," katanya.
Perpanjangan Freeport dan Tambahan Saham Negara Bahlil juga memaparkan rencana perpanjangan Freeport dengan tambahan 12 persen saham untuk negara melalui divestasi tanpa biaya pengambilalihan saham.
"Dengan demikian maka, pada tahun 2041 negara akan mendapatkan saham 51 tambah 12 persen berarti 63," ujarnya.
Baca Juga :
Bahlil Pastikan Kerja Sama Indonesia-Amerika Menguntungkan 2 NegaraTambahan saham tersebut, menurutnya, juga akan dibagi sebagian kepada pemerintah daerah Papua penghasil tambang, dengan harapan meningkatkan pendapatan negara, royalti, PNBP, dan pendapatan daerah.
Penyesuaian Tarif dan Pertemuan Bilateral Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan tarif dalam perjanjian menjadi 19 persen dari sebelumnya 32 persen.
"Jadi perjanjiannya memang 19 persen. Menjadi 19 persen, dari sebelumnya tahun lalu itu 32 persen, menjadi 19 persen," kata Teddy.
Selain itu, terdapat tarif 0 persen untuk 1.819 produk unggulan di bidang pertanian dan industri, termasuk kopi, cacao, minyak kelapa sawit, dan semi konduktor.
Ia juga menyebut Presiden Prabowo menjadi satu-satunya kepala negara yang melakukan pertemuan bilateral langsung dengan Presiden Donald Trump dalam kesempatan tersebut.




